Teori Kontingensi Struktural (Structural Contingensy Theory)

Teori kontingensi struktural atau structural contingensy theory lahir dari teori manajemen klasik.  Structural contingensy theory berkembang pesat sekitar tahun 1960.

Menurut Breeh, 1957, dalam Lex Donaldson, 1995, sampai kira-kira akhir tahun 1950’an, teori struktur organisasional didominasi oleh teori manajemen klasik, yang menyatakan bahwa ada satu struktur terbaik bagi organisasi. Perpaduan ini menghasilkan sintesa bagi teori kontingensi/ketidakpastian struktural, dimana struktur yang terbentuk pada sebuah organisasi akan menjadi terdesentralisasi atau sebaliknya menjadi struktur yang lebih partisipatoris adalah bergantung pada situasi mereka.

Teori ketidakpastian struktural merupakan paradigma yang berorientasi pada hipotesis umum tentang organisasi harus berorientasi pada kebutuhan internal utamanya dan harus dapat beradaptasi dengan baik dalam lingkungannya (Scott, 1983). Lawrence dan Lorsch (1967) mengatakan bahwa organisasi dan lingkungan bagaikan dua gambar pada sebuah mata uang, mereka mengemukakan bahwa ketidakpastian dan perubahan lingkungan akan sangat mempengaruhi perkembangan pada struktur internal organisasi.

Menjelaskan hal ini, terdapat berbagai penelitian yang mendukungnya antara lain temuan Woodward (1958, 1965) dalam Donaldson (1995), yang menyatakan bahwa pada keadaan spesifik, derajat formalisasi dan sentralisasi yang optimal pada organisasi merupakan fungsi dari pengoperasian tehnologi, tingkat perubahan lingkungan (Burns and Stalker, 1961), dan besaran (size)(Pugh, 1969). Juga pilihan-pilihan struktur ini menurut Chandler (1962), menjadi penentu strategi atau besaran (size) organisasi (Williamson, 1970, dalam Donaldson (1995)).

Teori-Kontingensi-Struktural-img

Struktur Kontingensi

Chandler, 1962, adalah orang yamg memberikan dasar pengembangan studi tentang strategi dan struktur melalui penjelasan secara mendetail terhadap sejarah bisnis USA, studi ini kaya akan deskripsi dan megarahkan kepada penciptaan dalil (postulasi) sebagai model dasar bagi kecocokan (fit) antara strategi dan struktur.

Setiap bagian utama dari teori adalah identifikasi faktor (atau kumpulan faktor turunan) dan rancangan terhadap struktur organisasional dalam kebutuhan akan tuntutan untuk beroperasi secara efektif pada setiap level di setiap derajat situasional. Sebagai contoh Chandler (1962) dalam Robbins (1995), mengemukakan argumentasi bahwa sebab dari sebuah perusahaan meningkatkan level desentralisasi dan bergerak dari bentuk fungsional kepada bentuk multidivisional struktur organisasi adalah proses penyesuain struktural.

Teori ini merangkum bahwa tiap organisasi mengadaptasi struktur dengan menggeser keadaan yang tidak cocok (misfit) sebagai akibat adanya performansi rendah kepada keadaan cocok (fit), dimana ada keteraturan untuk mencapai efektifitas dan performansi organisasi, atau perubahan struktural sifat positif dan produktif terhadap organisasi.

Pada lingkungan yang lebih luas dan ekstrim, biasanya dihadapi perusahaan multinasional (MNC), koordinasi keseluruhan dilakukan dengan menciptakan struktur matriks (Doz and Prahalad, 1984, 1991), untuk meghadapi misalnya perubahan lingkungan dan bauran produk (Lawrence dan Lorsch, 1967, Gilbraith, 1973, Davids dan Lawrence, 1977, dalam Doz dan Prahalad, 1991). Structural contingensy theory menempatkan performansi organisasi sebagai kecenderungan (affected) terhadap kecocokan (fit) atau ketidakcocokkan (misfit) antara struktur dan situasi (contingency)(Lex Donaldson, 1985, dalam Doz dan Prahalad, 1991).

 Penyesuaian akhir struktur kontingensi

Penyesuaian akhir kontingensi struktural

Tabel kriteria relevansi pada aras makro bagi sebuah teori organisasi:

Teori Struktur Kontingensi

Teori Struktur Kontingensi

 

 

 

 

 

 

 

Kritik Terhadap Teori Ketidakpastian/Kontingensi Struktural

Kritik terhadap structure contingency theory dilakukan oleh Pfeffer dan Salancik (1978), Perrow (1979), Bruner dan Moeller (1985), Stopford dan Wells (1972) dan Doz dan Prahalad (1991).

Kritik terhadap teori ini terjadi karena dilebih-lebihkannya perlakuan variabel lingkungan pada teori struktur kontingensi. Lingkungan ternyata tidak sedemikian dinamis seperti yang diasumsikan pada teori ini. Observasi yang lebih tepat mungkin adalah dewasa ini perubahan tidak lebih dinamis dibanding saat lain dalam sejarah, dan dampak dari ketidakpastian lingkungan terhadap organisasi berkurang cukup besar sebagai hasil dari strategi manajerial.

Pfeffer dan Salancik (1978), melihat bahwa teori ketidakpastian struktural tidak memperhatikan aspek politik dalam pembentukan struktur. Tesis Pfeffer dan Salancik (1978) tentang pengendalian kekuasaan menyatakan struktur sebuah organisasi kapanpun merupakan hasil dari mereka yang mempunyai kekuasaan untuk memilih struktur yang sampai tingkat semaksimal mungkin mempertahankan dan memaksimalkan control mereka. Perspektif pengendalian kekuasaan tidak mengabaikan dampak dari besaran (size), tehnologi atau variabel ketidakpastian/kontingensi lainnya, malahan pengendalian kekuasaan memperlakukan variabel kontingensi sebagai kendala yang dihadapi melalui proses yang disebut sebagai proses politis.

Sementara Perrow (1979), melihat hal yang bertolak belakang dengan teori kontingensi struktural yaitu di dalam teori birokrasi, bahwa birokrasi itu ada dimana-mana dan birokrasi merupakan cara yang paling baik dan efisien untuk mengorganisasikan sesuatu sangat bertolak belakang dengan teori kontingensi struktural dalam hal pertimbangan faktor-faktor ketidakpastian/kontingensi yang menentukan struktur. Ternyata birokrasi dapat dipakai sebagai dasar pembentukan struktur tanpa memperhatikan variabel tehnologi, lingkungan dan lain sebagainya. Birokrasi menjadi efektif pada sejumlah besar aktivitas yang diorganisir, baik itu perusahaan jasa, manufaktur, perguruan tinggi dan lain-lain.

Penting pula untuk mencari alternatif sebagai pelengkap indikator performansi struktur. Misalnya pada aspek pemasaran katimbang hanya sekedar mempergunakan indicator atau instrumen akuntansi (Bruner dan Moeller, 1985, dalam Donaldson, 1995). Hal ini sederhana tetapi sangat penting bagi pengembangan lebih lanjut teori struktur kontingensi. Demikian sebab pernyataan tentang keadaan ketepatan (fit) dalam struktur tidak didukung sepenuhnya oleh beberapa penilitian terhadap model fit (Hill, 1988, Grinyer, 1980, Steer dan Coble, 1978, dalam Donaldson, 1995). Variabel lain yang perlu diperhatikan pada teori ini adalah besaran (size), difersivikasi, dan birokrasi (Donaldson, 1995).

Pada area perusahaan multinasional baik itu perusahaan di Inggris maupun di Amerika Serikat, penilitian Stopford dan Wells (1972) dan Doz dan Prahalad (1991) menunjukkan bahwa teori kontingensi struktural perlu merevisi kembali model fit yang ada, dan alternatif yang diberikan oleh mereka untuk merevisi model ini adalah pendekatan struktur matriks.

Hal ini mengindikasikan bahwa teori ini harus mengembangkan beberapa variabel yang mampu menjawab beberapa aspek yang tak terantisipasi oleh struktur sebelumnya yang dikembangkan oleh teori ini yaitu struktur fungsional dan divisional.

Dalam mengukur kontribusi teori kontingensi struktural terhadap organisasi yang berskopa luas dan kompleks yaitu perusahan multinasional. Kritik terhadap teori ini dilakukan oleh Norman (1976), Davis dan Lawrence (1977), Hammel dan Prahalad (1989), Doz dan Prahalad (1991). Indikator kontribusi teori kontingensi struktural diukur dalam beberapa elemen manajemen antara lain determinansi teori terhadap struktur, diferensiasi internal, optimalisasi pengambilan keputusan, pengelolaan informasi, akselerasi, penciptaan hubungan antar perusahaan, kontinuitas dan pembelajaran.

Riset yang dilakukan pada teori ketidakpastian struktural adalah mengenai pola (patern) dan model bagi pengendalian kantor pusat terhadap perusahaan afiliasi. Model teori dibangun dengan pertimbangan dua hal yaitu tentang adaptasi dan kegiatan tambahan yang terjadi dalam anak perusahaan terhadap lingkungan mereka, budaya dan gaya perusahaan induk. Secara keseluruhan teori kontingensi struktural sudah melakukan riset yang mengarah pada penjelasan manajemen perusahaan multinasional.

Namun riset empiris teori kontingensi struktural menjadi statis dan jarang dilakukan riset terhadap proses perubahan. Teori kontingensi struktural sangat statis dan karena hanya berfokus pada fungsi pekerjaan yang terjadi dalam teori ini maka sulit untuk mengaplikasikan proses perubahan organisasi kedalam teori ini sehingga dalam kepentingan mengaplikasikan teori ini ke dalam level organiasasi global perlu diasumsikan bahwa sistem yang ada bersifat dinamis. Oleh karenanya dinamika tersebut perlu diaplikasikan dalam proses perubahan organisasi, misalnya persoalan tentang pemberdayaan (empowerment), desentralisasi, dan adaptasi antara organisasi dan lingkungan yang memang merupakan hal baru yang harus ditambahkan dan merupakan sebuah tantangan bagi teori kontingensi struktural. Dalam prakteknya manajemen harus memperhatikan hal ini sebagai kebutuhan untuk menyesuaikan respons organisasi secara menyeluruh terhadap kondisi lingkungan yang baru.

Teori ini menurut Evan dan Lawrence (1977), tidak mengarah kepada pembentukkan struktur pendukung perubahan yang terjadi pada manajemen perusahaan multinasional yang harus responsif terhadap perubahan selain penempatan struktur matriks dalam perusahaan multinasional. Teori ini hanya terfokus pada bagaimana mengatur dinamika arus informasi dan diferensiasi internal perusahaan multinasional sehingga manajemen perusahaan multinasional secara keseluruhan bukan hanya berkutat pada persoalan informasi dan diferensiasi perusahaan tetapi juga menyangkut manajemen semua elemen yang menentukan terhadap situasi perusahaan multinasional yang kompleks.

Kesimpulan Teori Kontingensi Struktural

Teori Struktur Kontingensi merupakan teori yang berusaha menjawab dinamika yang ada lewat struktur intern yang sesuai dengan lingkungan (Scott, 1983), teori ini merangkum bahwa tiap organisasi mengadaptasi struktur lewat menggeser keadaan yang tidak cocok (misfit) dengan akibat adanya performansi rendah kepada keadaan cocok (fit), dimana ada keteraturan untuk mencapai efektifitas dan performansi organisasi, atau perubahan struktural sifat positif dan produktif terhadap organisasi, jadi argumentasi teori ini adalah bahwa organisasi secara individual beradaptasi terhadap lingkungan mereka. Organisasi harus mampu bertahan dan berhasil baik (prospher), walaupun kondisi lingkungan itu sendiri memungkinkan organisasi mencapai efisiensi, inovasi atau apapun. Argumen ini menunjukkan bahwa manajemen organisasi tidak hanya mengadopsi bagian yang mencerminkan bagian lingkungan tetapi juga diikuti oleh pernyataan manajerial tentang tujuan organisasional yang memberikan keunggulan komparatif bagi organisasi. Pernyataan manajerial ini merupakan bagian strategis bersama dengan sumber-sumber yang ada, memberikan petunjuk menyusun kembali proses pengadopsian bagian-bagian tertentu dalam hal ini besaran (size), tehnologi, difersivikasi, dan faktor lain yang menjadi variabel ketidakpastian (contingency) dalam structural contingency theory (Burns dan Stalker, 1961, Chandler, 1962, Woodward, 1965, Perrow, 1967, Blau, 1970, Pugh dan Hickson, 1976). Dengan demikian menjadi jelas bahwa kontribusi teori ini adalah usaha memaksimalkan struktur sebuah organisasi.

Penelitian Donaldson (1995) menemukan bahwa teori yang cukup relevan untuk menjelaskan fenomena organisasi oleh karena setiap fenomena organisasi bisa memperoleh penjelasannya pada pemahaman yang dibangun oleh teori kontingensi struktural. Terlihat dari pengukuran kebersesuaian pernyataan teori-teori terhadap berbagai fenomena organisasi baik itu di level makro dan mikro menunjukkan bahwa hanya teori kontingensi struktural mampu menjelaskannya secara keseluruhan, dan tidak mampu dijelaskan oleh pendekatan teori yang lain.

Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Tagged with: , , , , , , , , , , , , ,
Posted in Teori Organisasi
Popular Post