Teori Organisasi Klasik

Teori Organisasi Klasik menyumbangkan pengetahuan tentang anatomi dari organisasi yang formal, unsur-unsur organisasi dipilih secara cermat untuk menunjang suatu tujuan, dan strukturnya ditetapkan sedemikan rupa guna mencapai efisiensi maksimal.

Pendekatan-pendekatan awal terhadap teori organisasi ini menganggap organisasi sebagai alat mekanis untuk mencapai tujuan atau oranisasi dipahami sebagai sebuah sistem tertutup. Robbins (1994) mengklasifikasikannya sebagai organisasi Tipe 1.

Para teoritikus tipe 1 mengembangkan prinsip atau model universal yang dapat digunakan pada semua keadaan. Perhatian teori dipusatkan pada pencapaian efisiensi dalam fungsifungsi intern organisasi. Terlihat dengan jelas pada awalnya model teori yang dikembangkan pertama-tama adalah efisiensi dan prestasi, dan hanya secara kebetulan para pelopor aliran klasik menjadi peneliti organisasi karena kepustakaan mengenai organisasi muncul hanya sebagai produk sampingan dari penyelidikan untuk peningkatan efisiensi atau prestasi.

Doktrin organisasi klasik dapat ditemukan pada pemikiran Frederick Taylor, Henry Fayol, Georg Simmel, dan Max Weber lewat karya mereka yang berpengaruh.

Teori-Organisasi-Klasik-IMG

Organisasi Klasik

Teori organisasi klasik dibangun dalam empat elemen dasar yaitu pembagian pekerjaan (division of labour), proses skalar dan fungsional, struktur, serta jangka waktu pengendalian (Scott, 1993, hlm.139), penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Pembagian pekerjaan (division of labor) merupakan elemen utama dari teori organisasi klasik, darinya elemen lain mengalir. Sebagai contoh pertumbuhan rentang kendali memerlukan spesialisasi dan fungsi pekerjaan. Struktur organisasi secara alami bergantung pada arah dimana kegiatan-kegiatan khusus dilakukan dan mengalir dalam pengembangan organisasi. Akhirnya pengendalian terhadap para spesialis berada dibawah kebijakan seorang manajer.

2. Proses skalar dan fungsionalisasi berhubungan dengan pertumbuhan vertikal dan horisontal organisasi secara bertahap. Proses skalar mengacu pada pertumbuhan dari rantai komando, pendelegasian wewenang dan tanggung jawab, kesatuan perintah, dan kewajiban melapor kepada atasan. Proses tersebut kemudian menciptakan bagian-bagian spesialis, dan pengelompokkan kembali bagian tertentu kepada unit-unit yang sesuai sebagai bagian dari sebuah proses fungsional. Proses ini berfokus pada evolusi horisontal pada lini dan staf pada organisasi formal.

3. Struktur bagi teoritisi organisasi klasik adalah hubungan logis dari fungsi-fungsi dalam organisasi. Disusun untuk mencapai tujuan perusahaan secara efektif.

Struktur mempengaruhi sistem dan pola organisasi. Teori organisasi klasik biasanya menggunakan dua struktur dasar sebagai acuan yaitu lini dan staf.

4. Rentang kendali (span of control) berhubungan dengan jumlah karyawan (subordinat) yang dapat diawasi oleh seorang manajer dan suprvisor secara efektif. Para manajer dan supervisor bertanggungjawab terhadap pengendalian dan perencanaan, koordinasi, motivasi, dan pengawasan.

Tokoh Teori Organisasi Klasik seperti namanya dianggap sebagai tokoh teori yang paling tradisional, yang memberi kontribusi dan menjadi dasar dari teori-teori yang berkembang selanjutnya.

Perspektif sejarah yang lebih luas tentang Teori Organisasi Klasik dapat dibaca disini.

Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Tagged with: , , , , , , , , , ,
Posted in Teori Organisasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Popular Post