Teori Ketergantungan Terhadap Sumber Daya (Resource Dependence Theory)

Teori Ketergantungan Terhadap Sumber Daya atau Resource Dependence Theory dipelopori oleh Emerson (1962). Ia mengidentifikasikan pembahasan teori ini dalam hubungan kausalitas antara konsep kekuasaan dengan konsep ketergantungan yang diasumsikan terdiri atas A dan B; ‘pengaruh A terhadap B didasarkan pada ketergantungan terhadap sumber daya’.

Ketergantungan B adalah seimbang dengan kepentingan B ditempatkan di atas tujuan A secara tidak langsung dan sebaliknya seimbang dengan kegunaan dari tujuan-tujuan tersebut pada B diluar hubungan A–B. Emerson melihat bahwa ketergantungan dapat dipahami sebagai bagian utama dari kekuasaan.

Organisasi mempunyai kekuasaan, yang berkaitan dengan lingkungan tugasnya, sejauh organisasi tersebut mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan unsur tersebut dan sejauh organisasi memonopoli kemampuan tersebut. Adanya kemungkinan bahwa bertambahnya ketergantungan dapat (lihat hubungan A-B) menghasilkan bertambahnya kekuasaan maka kemungkinan inilah yang menjadi dasar bagi koalisi. Argumen yang bertopang pada konsep yang dikemukakan oleh Richard Emerson (1962) di atas merupakan inti (core) dari argumen  Resource Dependency Theory.

Resource-Dependence-Theory-img
Resource Dependence

Organisasi yang kompleks memperoleh ketergantungan setelah mereka menentukan bidang lingkupnya, sedangkan untuk kekuasaan untuk mengatur semua variabel yang berhubungan dengan organisasi tidaklah mudah didapatkan. Untuk mengatur hubungan saling ketergantungan organisasi dapat memakai strategi kerjasama (Thompson, 1967, Thompson dan McEwen, 1958) atau melakukan hubungan inter-organisasional (Pfeffer dan Salancik, 1978).

Bidang lingkup yang dinyatakan sebagai ruang gerak sebuah organisasi dan diakui oleh lingkungannya menentukan titik tempat tergantungnya organisasi, baik menghadapi hambatan maupun kemungkinan. Agar diperoleh suatu taraf pengendalian diri yang berarti, organisasi harus mengatur ketergantungannya (Thompson, 1967). Pengaruh suatu fungsi pada hubungan pertukaran dan pengaruh oleh suatu individu atau berbagai macam organisasi dan situasi, merupakan gagasan strategi organisasi yang dibangun dalam teori.

Organisasi berusaha untuk memperkecil kekuasaan unsur-unsur lingkungan tugas atas mereka dengan mempertahankan berbagai alternatif (Pfeffer dan Salancik, 1978, Thompson, 1967). Bila organisasi bersaing untuk memperoleh dukungan maka organisasi berusaha mencari prestise yang merupakan suatu cara untuk mendapatkan kekuasaan tanpa menambah ketergantungan dalam hubungan inter-organisasional. Contoh yang kongkrit adalah hubungan antara praktek dokter dengan rumah sakit. Praktek dokter bisa lebih menjamin bahwa pasiennya akan mendapat tempat dan fasilitas perawatan sebaliknya rumah sakit bisa lebih menjamin bahwa fasilitasnya bisa dipakai.

Argumen Pfeffer dan Salancik (1978) terhadap hubungan inter-organisasional adalah bahwa fenomena inter-organisasional akan mengatur secara keseluruhan berbagai tingkatan hasil performansi organisasi. Faktor internal hanya memiliki sedikit efek terhadap organisasi (Pfeffer and Salancik, 1978). Mereka berdua menyebutkan bahwa faktor internal organisasi hanya menyumbang 10 persen terhadap peningkatan performansi organisasi.

Dengan kata lain Resource Dependence Theory lebih menekankan pada perbincangan organisasi sebagai aktor politik katimbang kinerja organisasi dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Resources Dependence Theory cenderung menjadi teori yang membahas tentang strategi koorporasi katimbang urusan struktur organisasi. Dengan demikian teori ini lebih berkonsentrasi kepada kontribusi mereka terhadap strategi koorporasi atau kebijakan koorporasi dibanding terhadap struktur organisasi. Resource Dependence Theory menjadi terfokus kepada aspek manajemen strategi seperti penciptaan aliansi, hubungan masyarakat, lobi-lobi dengan pemerintah, dan lainnya.

Pentingnya tugas manajerial pada pembahasan teori lebih ditujukan pada tugas manejer level atas bersama staf mereka, level menengah dan manajemen operasional sebagian besar diabaikan dalam pembahasan teori ini.

Pfeffer dan Salancik beranggapan bahwa solusi yang paling umum terhadap masalah inheren pada saling ketergantungan adalah peningkatan pengawasan yang menguntungkan/bermanfaat bagi setiap sumber yang lain (Pfeffer dan Salancik, 1978). Seringkali lingkungan tidak memberi banyak sumber dukungan alternatif apabila kapasitas dukungan terpusat pada lingkungan tugas maka organisasi mencari kekuasaan relatif pada pihak kepada siapa mereka tergantung. Resource Dependence Theory berargumen bahwa agar organisasi dapat survive, ia harus memperoleh resources.

Perspektif yang dibangun oleh Pfeffer dan Salancik (1978) tersebut, menjelaskan bahwa organisasi menurut mereka bergantung secara eksternal terhadap resources. Untuk dapat mengurangi ketergantungan tersebut dapat dilakukan berbagai cara yang disebut sebagai tindakan politis. Hal ini dilakukan sebagai model politis yang secara eksplisit berfokus pada hubungan inter-organisasional ketimbang hubungan intra-organisasional. Beberapa strategi umum yang dipakai pada hubungan saling ketergantungan inter-organisasional dalam teori ini adalah:

1. Bargaining

Merupakan langkah awal strategi, lebih sering mencerminkan pembatasan dan pertahanan daerah organisasi (Scott,1983). Dapat juga termasuk tindakan seperti membangun alternatif penawaran sumber yang kritis. Namun penawaran seringkali termasuk negosiasi antara dua organisasi (Katz dan Kahn, 1978). Tingkah laku penawaran ditetapkan dengan aturan masing-masing personal dan hubungan kepercayaan mereka dengan keterkaitan mereka terhadap organisasi lain dan dengan anggota internal mereka.

2. Perjanjian atau Kontrak

Perjanjian adalah ‘negosiasi dari sebuah perjanjian pertukaran performance di masa yang akan datang’ (Thompson, 1967). Mereka berusaha mengurangi ketidakpastian organisasi dengan tindakan koordinasi bersama organisasi lain di masa yang akan datang. Meskipun masih ada beberapa ketidak pastian inheren di beberapa kontrak (Williamson, 1975) tetapi mereka membantu membedakan obligasi antar partai. Juga kasus quasi legal mereka sering membuka jalan untuk negosiasi kembali dan penawaran di masa depan. Thompson (1967) membangun dalil bagi organisasi yang mengatakan bahwa apabila kapasitas dukungan seimbang terhadap permintaan yang terpusat, maka organisasi yang bersangkutan akan berusaha menangani ketergantungannya dengan cara mengadakan kontrak (contracting).

3. Kooptasi (Penyertaan)

Selznick (1949) pertama kali mendeskripsikan kooptasi sebagai badan perwakilan dari kelompok eksternal yang biasanya mengikut sertakan wakil-wakil dari lembaga keuangan dalam dewan direksi perusahaan untuk pengambilan keputusan internal atau struktur penasihat pada suatu organisasi. Belajar mengenai kepemimpinan sering terfokus pada kooptasi (penyertaan). Sering ditunjukkan bahwa perjanjian yang ada, biasanya membangun hubungan dengan bagian penting dari lingkungan dimana mereka tergantung. Hal ini dimaksudkan agar organisasi memperoleh sumber-sumber penting selama berlangsungnya persetujuan kerjasama tersebut. Cara pengikutsertaan lebih mengikat dibandingkan dengan kontrak karena mereka yang berada di dalamnya bisa mempertanyakan atau mempengaruhi berbagai aspek pada organisasi.

Kooptasi juga ada pada agen-agen umum dan organisasi non profit. Banyak program federal mempunyai perwakilan lokal (Scott, 1983). Selznick (1949) juga menemukan strategi ini dapat berbalik ketika pendapatan lokal menggulingkan tujuan federal. Thompson (1967) membangun dalil dari pemahaman ini dengan mengatakan bahwa apabila dukungan terpusat tetapi permintaan tersebar, maka organisasi yang lebih lemah akan berusaha mengatasi ketergantungannya dengan cara mengikutsertakan (coopting).

4. Perjanjian Hierarki

Stinchombe (1985) mengidentifikasi bentuk baru dari strategi yang dikombinasikan dengan rencana pengawasan dari hubungan otoritas. Biasanya pada titik kompleksitas tinggi dan saling ketergantungan yang tidak pasti (seperti perjanjian pertahanan keamanan antara kontraktor dan pemerintah). Perjanjian tersebut menjadi perantara bagi hak pengawasan terhadap rekan pertukaran yang normalnya akan berimplikasi terhadap pengambilan keputusan internal. Dengan demikian hak-hak hirarki mendasari kebebasan kontraktor yang dipahami sebagai semacam joint venture dengan sebuah pemerintahan. Biasanya dilakukan pada proyek dengan resiko yang besar dan tinggi seperti proyek pertahanan dan konstruksi yang besar.

5. Joint Venture

Pada Joint venture, dua atau lebih perusahaan menciptakan organisasi baru untuk mengejar hasil umum, meskipun sumber daya yang ada dan didapatkan lebih sedikit dibandingkan bila dengan merger. Joint venture dapat terjadi antara pesaing atau rekan pertukaran. Lebih sering terjadi pada organisasi yang tingkat persaingannya tinggi dan hubungannya singkat. Joint venture bisa dilakukan pada kegiatan seperti research dan development (R and D) atau kegiatan pengawasan terhadap kualitas yang bermanfaat untuk menutupi kelemahan masing-masing perusahaan.

6. Merger

Pada merger, lebih dari dua organisasi berhubungan untuk membentuk suatu organisasi. Tiga bentuk merger antara lain:

a. Vertical Integration

Organisasi pada tingkat proses produksi yang berbeda tetapi masih berada pada hubungan simbiotik dalam industri yang sama melakukan merger antara yang satu dengan yang lain. Lebih sering terjadi pada organisasi yang telah siap untuk saling mempengaruhi antara satu dengan yang lain (Pfeffer, 1972).

b. Harizontal Merger

Bentuk organisasi yang sama bergabung pada suatu bentuk organisasi yang lebih besar. Hal ini terjadi jika kompetisi di antara organisasi-organisasi tersebut tinggi.

7. Difersivikasi

Organisasi membutuhkan perusahaan lain dengan membentuk hubungan atau jaringan terhadap usaha inti mereka. Bentuk ekstrim dari difersivikasi adalah konglomerasi.  Bentuk lainnya adalah merger, umumnya dilakukan pada organisasi yang tingkatan dan latar belakang sejarahnya berbeda (Chandler, 1990). Pendekatan ketergantungan sumber daya lewat difersivikasi menurut Williamson (1975) dapat dijelasankan lewat konsep biaya transaksi tentang integrasi vertikal, seperti aset yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan menjadi lebih spesifik, perusahaan akan memilih untuk memproduksi aset-asetnya yang lebih baik untuk menghindari ketergantungan pada sejumlah kecil pemasok eksternal. Hal ini menunjukan bahwa biaya produksi komparatif yang bersaing dapat diciptakan karena adanya faktor keputusan bersama. Difersivikasi dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh aset yang dibutuhkan dalam biaya yang lebih murah.

8. Asosiasi

Asosiasi adalah kumpulan organisasi yang bersepakat untuk mengatur berbagai bentuk perijinan yang menyangkut kepentingan mereka. Hal ini dibuat bersama untuk mengejar tujuan yang diinginkan secara mengutungkan. Anggota dapat sama atau tidak sama, tergantung pada tujuan dari asosiasi. Organisasi individual bergabung dengan asosiasi untuk mengumpulkan sumber-sumber, informasi, menciptakan pengaruh atau untuk medapatkan legitimasi dan penerimaan.

9. Koneksi Pemerintah

Pemerintah mempengaruhi organisasi dengan menspesifikasi jenis perusahaan dan juga dapat menentukan jenis organisasi yang diijinkan. Dengan adanya organisasi maka pemerintah kemudian mempunyai berbagai tingkatan kekuasaan terhadapnya, meskipun organisasi ini dapat melebihi pemerintah untuk mempengaruhi baik secara demografis dan pembuatan keputusan, tetapi badan pemerintahan dapat menggunakan berbagai tingkatan monitoring dan mengenakan undang-undang terhadap organisasi yang memungkinkan tidak terjadinya resiko yang harus ditanggung oleh pemerintah (perlindungan terhadap lingkungan, sikap pilih kasih, membatasi kompetisi, menetapkan harga dan keuntungan, dan lain-lain).

Ketika pemerintah menjalankan kewenangannya terhadap organisasi, mereka juga menyediakan sumber-sumber seperti keuntungan pajak, insentive, subsidi bagi pembeli suatu produk atau jasa partnernya. Disinilah konteks koneksi dengan pemerintah dibangun oleh organisasi, karena adanya hubungan yang saling menguntungkan. Thompson (1967) membangun dalil bagi praktek-praktek penggabungan antar organisasi dengan mengatakan bahwa apabila kapasitas dukungan terpusat dan seimbang terhadap permintaan yang terpusat, tetapi kekuasaan yang diperoleh melalui kontrak tidak mencukupi, maka organisasi yang bersangkutan akan mencoba untuk bergabung.

Kritik Terhadap Resource Dependence Theory

Kritik terhadap Resource Dependence Theory dilakukan oleh Donaldson (1991), Perrow (1979), Scott (1992), dan temuan-temuan awal penilitian teori organisasi modern seperti Woodward (1965), Child (1972), Donaldson (1975), Simon (1965), Blau (1964, 1970 dan 1972), Burns dan Stalker (1960), Chandler (1962), Lawrence dan Lorsch (1967), Blau dan Scoenher (1971).

Dalam penilitian yang hati-hati terhadap argumen yang membangun perspektif ini, Donaldson (1995) menemukan beberapa konsep yang olehnya dianggap sebagai ‘mengundang-undangkan lingkungan’, diadopsi dari pemikiran Weick (1969) yang menyatakan manusia menciptakan lingkungan sebagai sistem untuk beradapatasi.

Manusia tidak beradaptasi tetapi mengundang-undangkannya dan terjadi kooptasi terhadap nilai-nilai yang meragukan. Donaldson (1995) juga menemukan inkonsistensi teoritikal dan tidak adanya dukungan yang cukup dari penilitian empiris yang sistematis.

Selanjutnya ia melihat bahwa model politik dalam teori ini merupakan pandangan yang terlalu dilebih-lebihkan terhadap organisasi dan manajemen. Donaldson dalam studinya meyatakan bahwa konstruksi yang demikian sangat rendah hubungan korelatifnya antara model politis yang dibangun dengan realitas empiris sebuah organisasi. Pengaruh politik bukanlah suatu faktor yang mengharuskan organisasi menjadikan lobi-lobi terhadap pemerintah sebagai aktivitas primer, tetapi bisa dibatasi pada tugas manajer tertentu dalam waktu tertentu. Jadi pandangan Pfeffer dan Salancik tentang dimensi politik terlalu berlebihan. Pandangan mereka bernilai apabila dimensi politik yang dibuat pada analisis mereka dimaksudkan sebagai sebuah sumbangan terhadap pengembangan teori organisasi. Tetapi naif dan mendistorsi pandangan terhadap organisasi jika mengklaimnya sebagai sebuah pandangan baru dan menyeluruh yang mengarahkan organisasi menggantikan seluruh pandangan sebelumnya. Dalam realitas organisasi, perusahaan memaksimalkan profit dengan mengelola resiko dan menyesuaikan strategi yang mengacu pada hukum penawaran dan permintaan. Burt (1983) melalui penilitiannya menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukan hubungan antar board director (kooptasi) dapat meningkatkan profit setelah faktor lainnya yang mempengaruhi keuntungan dapat dicapai. Burt manyatakan bahwa sebuah implikasi kebijakan dari studi ini adalah koneksi antar direksi. Menurutnya kolusi antar manajer adalah ilegal karena bersifat anti kompetisi di antara perusahaan. Hal yang sama juga ditemukan oleh Zajak (1988), kooptasi akan menciptakan manajemennya yang overlaping karena terbatasnya orang yang tepat (biasanya pada perusahaan dalam industri sejenis yang saling memperebutkan manajer terbaik) sehingga pengendalian organisasi bersifat kolusi. Jadi konsep kooptasi gagal mendukung secara penuh resource dependence theory karena konsep kooptasi itu sendiri bermasalah.

Teori ini menurut Scott (1992) belum secara baik membangun hubungan interorganisasional seperti merger dan perlu untuk meningkatkan kontribusi mereka terhadap teori manajemen. Sementara Donaldson (1995), meyatakan bahwa koalisi organisasi bukanlah satu-satunya instrumen yang rasional dalam membahas organisasi, organisasi sebagai sistem memiliki aktivitas selain koalisi yang tercipta dalam mencapai tujuan mereka. Terpenting bagi organisasi adalah kontribusi dan partisipasi anggota organisasi lewat pengelolaan berbagai input, tenaga kerja, otoritas dan kolaborasi untuk mencapai tujuan organisasi.

Model teori ketergantungan terhadap sumber daya, menurut Donaldson (1995) hanya mampu menjelaskan keberadaan organisasi besar yang mampu menambah atau memperluas pengaruh pada lingkungan mereka secara signifikan (merupakan sumbangan positif Pfeffer dan Salancik, 1978). Terlihat dari pernyataan Pfeffer dan Salancik (1978) dalam Donaldson (1995) sebagai berikut

:..the discretionary roles is more fitting to some organizations than others only few have enough resources and to attempt to alter their contents in a significant fashion. For millions of small business organizations, voluntary associations dan nonprofit organizations such change of the environtment is virtually out of the question (hlm. 161).

Pertanyaan yang muncul adalah apa yang diperbuat oleh organisasi kecil terhadap lingkungan mereka?

Walaupun organisasi terkadang mengambil peranan politik, tetapi domain politik bukan merupakan isu dominan dalam pencapaian performansi dan pencapaian tujuan organisasi. Misalkan pencapain profit dan efisiensi adalah sebuah capaian organisasi yang tidak bisa dijelaskan dengan merger dan pertumbuhan organisasi, tetapi dilakukan melalui usaha peningkatan performansi atau kinerja organisasi.

Penjelasan Pfeffer dan Salancik (1978) yang menyatakan bahwa manfaat terbesar dalam koordinasi inter-organisasional guna mengurangi ketidak pastian sebuah perusahaan adalah merger, join venture, kerjasama antar pemimpin perusahaan (kooptasi), kartel, asosiasi perdagangan, dan regulasi pemerintahan. Chandler (1977) menolak pernyataan tersebut dengan argumen bahwa merger sungguh akan menyebabkan hilang atau berkurangnya otonomi organisasi, ketika dua perusahaan melakukan integrasi vertikal, mungkin alasannya adalah efisiensi dengan cara memperbaiki scheduling, menggabungkan dua proses produksi agar lebih lengkap. Dengan demikian hasil merger bukan hanya mengurangi ketidakpastian tetapi lebih tepat merupakan usaha menekan biaya dan penciptaan profit. Jadi hal ini adalah bentuk motif ekonomi dan bukan hanya karena pertimbangan pengaruh politik.

Dalam mengukur kontribusi teori ketergantungan sumber daya terhadap organisasi yang berskopa luas dan kompleks yaitu perusahan multinasional. Kritik terhadap teori ini dilakukan oleh Astley and Van de Ven (1983), Doz dan Prahalad (1991), Crosier dan Freyberg (1980) dan Crosier (1984). Indikator kontribusi resource dependency theory diukur dalam beberapa elemen manajemen antara lain determinansi teori terhadap struktur, diferensiasi internal, optimalisasi pengambilan keputusan, pengelolaan informasi, akselerasi, penciptaan hubungan antar perusahaan, kontinuitas dan pembelajaran.

Analisa Crosier (1984) dan Crosier dan Friedberg (1980) mengkritisi teori resource dependence karena penciptaan jaringan hubungan kelompok strategis oleh teori ini tidak pernah terintegrasi secara menyeluruh. Teori ini menyediakan pengertian analisis organisasi sebagai jaringan hubungan denganidentifikasi adanya ‘actor’ yang berperan untuk kepentingannya (self interest) sebagai buah tindakan politis dan strategi rasionalitas individual di dalam sebuah ‘collective games’ yang dimediasi oleh kesepakatan/penerimaan kolektif dengan bentuk aturan dan dikendalikan oleh sumbersumber (resources) dan batasan (constraints) individu-individu sebagai aktor. Harus dikritisi lebih lanjut, sebab dalam praktek berorganisasi terkadang pengendalian dapat menyebabkan ketidakpastian performance anggota organisasi, hal ini dilihat oleh Crosier sebagai sumber yang harus dikritisi.

Astley dan Van de Ven, (1983), menemukan adanya persoalan aktor yang harus memainkan perannya dengan baik. Jaringan hubungan tak pernah menjadi terintegrasi secara menyeluruh atau sebaliknya tak terintegrasi, sebab organisasi memelihara kohesivitasnya dan konsistensi berhadapan (vis-à-vis) dengan lingkungan mereka melalui pengaturan (regulasi) bagian internal yang antagonis. Permainan (the game) dalam tekanan sistem keseimbangan hubungan berlaku antara integrasi dan perpecahan (fragmentation), agar tercipta salingketergantungan yang menguntungkan saat menjalankan organisasi maka aturan harus mengikutinya. Masalah dalam organisasi adalah persoalan aktor, dimana organisasi sangat bergantung terhadap obyektifitasnya dan sumber-sumber yang mereka kendalikan. Perspektif ini menjelaskan adaptasi terhadap lingkungan dipahami melalui para pemain, jaringan pemain adalah sebuah fungsi yang memediasikan ketergantugan organisasi terhadap lingkungan, melalui mediasi jaringan bagi pemain yang satu terhadap pemain lain yang belum tentu saling menguntungkan.

Catatan: Pencapaian profit dan efisiensi dapat dijelaskan secara teoritis dan diterima secara empiris pada pendekatan struktural Chandler, Miles, Snow dan Porter. Dikuatkan oleh Miller (1987), yang memperkenalkan kerangka kerja strategi yang terdiri atas empat dimensi; inovasi, differesiasi pemasaran, breath, dan pengendalian biaya yang merupakan integrasi dari sintesa karya Chandler, Miles, Snow dan Porter.

Tabel kriteria relevansi pada aras makro bagi sebuah teori organisasi:

Teori Ketergantungan Sumberdaya
Teori Ketergantungan Sumberdaya

Kesimpulan: Teori Resource Dependency

Organisasi harus mendapatkan sumber daya dari lingkungannya merupakan gagasan dari Resources Dependency Theory. Walaupun muncul kritik bahwa teori ini muncul dari pemahaman dasar teori struktur kontingensi, dan menyebutkan bahwa teori ini menciptkan logika terbalik tentang lebih pentingnya hubungan inter-organisasional katimbang hubungan intra-organisasional, akan tetapi teori ini membantah bahwa sumber daya kritis memerlukan pengaturan yang dengan sendirinya akan mempengaruhi pembagian kekuasaan dalam organisasi.

Jadi teori ketergantungan terhadap sumber daya sangat berguna sekali dalam menjelaskan kekuasaan lain yang ada dalam organisasi, misalnya pergantian pemimpin yang disebabkan oleh adanya penguasaan sumber daya oleh kelompok tertentu, mendapat penjelasannya dalam pemahaman teori ini, dan tidak mampu dijelaskan dalam teori struktur kontingensi. Dalam mengatur hubungan saling ketergantungan organisasi dapat memakai strategi kerjasama (Thompson, 1967, Thompson dan McEwen, 1958) atau melakukan hubungan inter-organisasional (Pfeffer dan Salancik, 1978). Strategi kerjasama tersebut dapat dilakukan dengan prinsip kontrak (contracting), penyertaan (Cooptation), dan penggabungan.

Jadi teori ketergantungan terhadap sumber daya sangat berguna sekali dalam menjelaskan kekuasaan lain yang ada dalam organisasi, misalnya pergantian pemimpin yang disebabkan oleh adanya penguasaan sumber daya oleh kelompok tertentu, mendapat penjelasannya dalam pemahaman teori ini, dan tidak mampu dijelaskan dalam teori struktur kontingensi. Dalam mengatur hubungan saling ketergantungan organisasi dapat memakai strategi kerjasama (Thompson, 1967, Thompson dan McEwen, 1958) atau melakukan hubungan inter-organisasional (Pfeffer dan Salancik, 1978). Strategi kerjasama tersebut dapat dilakukan dengan prinsip kontrak (contracting), penyertaan (cooptation), dan penggabungan.

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

1 Trackback / Pingback

  1. Perilaku Organsasi #1: | intanpertiwiblog

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*