Positivisme

Positivisme IMG

Positivisme

Istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.

Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori paham realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.

Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lain teori tentang makna yang dapat dibuktikan, yang menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam bidang metafisika.

Konsep-konsep yang berkembang dari aliran positvisme antara lain:

Falibilisme

Falibilisme (falibilism) diartikan sebagai bentuk relativisme internal bahwa setiap orang membawa kenisbian, tidak mutlak, dan tidak menang sendiri.

Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam. Beberapa indikasi metodologis dapat dilihat sebagai alasan dari falibilisme moderat, pertama peneliti sendiri tidak pernah merasa pasti dengan apa yang dicapainya sendiri. Inilah ciri dasar dari setiap penelitian ilmiah yang selalu diawali dengan keraguan dan setiap pendapat yang mantap tidak akan membuat pikirannya tenang. Sehingga hasil penelitiannya sekalipun secara bertahap mengkonvergensi kebenaran, tidak pernah dilihat sebagai tempat terakhir bagi penilitiannya.

Kedua, fokus utama dari penelitian ilmiah adalah verifikasi atau hipotesis. Metode ilmiah dibangun agar sebuah hipotesis, setelah dirumuskan dapat diuji dengan melihat bagaimana prediksi diverifikasi.

Ketiga, metode yang digunakan adalah metode induksi sehingga kita membutuhkan fakta-fakta yang luas untuk merumuskan hipotesis. Dengan keterbatasan fakta maka hanya satu hipotesis yang disusun dan fakta yang lain adalah faktor pendukung.

Keempat, setiap hipotesis pada dasarnya tidak pasti. Hipotesis dirumuskan sebagai jawaban sementara atas problem, meskipun hipotesis itu merupakan suatu titik tolak yang harus dipegang untuk diuji, pada dirinya sendiri sudah terbuka untuk dievaluasidan dikoreksi.

Dari keempat alasan tersebut dapat dikatakan bahwa pengetahuan ilmiah itu tidak luput dari kekeliruan dan selalu terbuka pada kritik dan perbaikan. Jalan penelitian lebih lanjut harus dibuka sehingga kekeliruan dapat dikurangi, meskipun tidak ada harapan untuk menghilangkan semua kekeliruan. Karena itu, dari sudut pandang kaum emperisis tidak mungkin ada kepastian dan universalitas mutlak dalam pengetahuan ilmiah. Dengan demikian, pengetahuan yang paling baik yang kita miliki adalah penyatuan yang tidak pasti. Apa yang kita terima sekarang pada suatu ketika di masa depan akan dilihat sebagai suatu kekeliruan. Karena itu, fabilisme ilmiah menjadi doktrin penting bagi manusia ilmuan. Ilmuan seperti juga para filsuf, akan mengatakan hal yang sama bahwa suatu kerinduan untuk mnegenal kebenaran dan pengakuan akan ketidaktahuan merupakan dorongan paling kuat bagi penelitian.

Renaisans

Zaman Renaisans ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaisans merupakan zaman peralihan ketika kebudayaan abad tengah mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman Renaisans adalah mereka yang merindukan pemikiran yang bebas seperti pada zaman Yunani kuno. Pada zaman ini manusia disebut sebagai animal rasionale, karena pada masa ini pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia ingin mencapai kemajuan (progres) atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan ilahi[1]

Mulai abad ke-14  orang-orang Eropa merindukan kebudayaan klasik Yunani dan Romawi yang memungkin orang berpikir bebas. Zaman ini berlangsung hingga abad ke-16. pikiran orang lebih tertuju kepada manusia sendiri (antroposentris) tidak kepada kosmos atau Tuhan. Manusia menjadi animal rationale, yang kesemuanya ini merintis pengetahuan modern. Pada masa ini juga terjadi reformasi (31 Oktober 1517) yang dipelopori oleh Marthin Luther.

Benua Amerika ditemukan Christopher Columbus (1451-1506) pada tahun 1492 dan oleh Amerigo Vespucci (1454-1512) tahun 1499. keduanya adalah orang Italis yang bekerja untuk Spanyol. Pada umumnya orang beranggapan bahwa benua Amerika ditemukan tahun 1492 oleh Columbus. Tetapi karena Columbus baru mencapai pulau-pulai sebelah timur benua Amerika (yang diduganya Indonesia), benua ini diberi nama menurut nama Amerigo

Jika sebeblumnya hasil pemikiran oleh filsafat dan ilmu pengetahuan ditulis dengan tangan pada tahun 1440-an Johann Gutenberg (1396-1468) di Jerman menemukan mesin cetak, sehingga penyebaran ilmu pengetahuan menjadi cepat. Mesin cetak ini sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern.

Ilmuwan yang berpengaruh besar pada waktu itu adalah Nicolaus Copernicus (1473-1543) di Polandia, seorang ahli astronomi yang mengemukan teori heliosentris, bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi, tetapi bumi dan bulanlah yang mengelilingi matahari. Pendapat ini didukung oleh Tycho Brahe (1546-1601) di Denmark, ahli astronomi yang dnegan memakai alat-alat besar mengamati dnegan teliti benda-bemda di langit dan mengatakan bahwa bumi mengelilingi matahari dengan orbit berbentuk lingkaran. Johannes Kepler (1571-1630) juga mendukung teori heliosentris tetapi mengatakan bahwa orbit berbentuk elips.

Galileo Galilei (1546-1642) di Italia dengan memakai teropong yang lebih sempurna mendukiung teori heliosentris, bahkan dapat melihat adanya gunung-gunung di bulan. Galileo banyak melakukan percobaan dalam mekanika dan fisika, sehingga dia dianggap sebagai pelopor dalam metode ekperimental. Gereja Katolik Roma beranggapan bahwa heliosentrisme bertentangan dengan apa yang tertulis dalam Alkitab, sehingga memaksa Galileo untuk menarik pendapatnya.

Andreas Vesalius (1514-1564) di Italia meneliti anatomi manusia, banyak memberi koreksi pada pendapat Galen yang telah dipakai sejak abad ke-1.

Ahli filsafat yang berpengaruh besar pada saat itu adalah Francis Bacon (1561-1626) di Inggris yang dalam bukunya Novum Organum menyatakan bahwa dengan pemikiran rasional dedukitif seperti yang ditulis Aristoteles dalam Organom orang tidak akan menemukan hal yang baru. Oleh karena itu harus memakai cara-cara empiris, dengan penalaran deduktif. Bacon dianggap sebagai “Knowledge is power”, pengetahu8an adalah kekuasaan sehingga pengetahuan harus disebarluaskan kepada masyarakat.

Ahli filsafat lain adalah Rene Descrates (1596-1650) di Perancis, seorang ahli matematika yang mengatakan bahwa manusia harus memakai rasionya, berpikir kritis dan meragukan segala hal. Agar mudah memecahkannya masalah yang komplek dipecah menjadi masalah kecil-kecil, dan diselelsaikan mulai dari yang paling mudah. Dia terkenal dengan pernyataannya “Cogito ergo sum”, saya berpikir karena itu saya ada.

Pada masa itu di Inggris Isaac Newton (1643-1727) menemukan hukum-hukum mengenai gravitasi dan optika. Dia juga menciptakan kalkulus (diferential integral). Newton menyatakan bahwa hukum gravitasi berlaku umum, tidak hanya untuk benda-benda di bumi, tetapi juga untuki benda-benda ruang angkasa. Benda-benda itu tetap pada orbitnya karena pengaruh gravitasi. Dia tetap mengakui kekuasaan Tuhan dengan mengatakan bahwa tanpa kekuasaan Tuhan benda-benda angkasa akan saling bertabrakan.

Untuk mendorong kemajuan dalam ilmu pengetahuan di banyak negara didirikan Akademi Ilmu Pengetahuan. Akademi-akademi ini mengatur penyelenggaraan pertemuan-pertemuan untuk membahas ilmu pengetahuan, seperti yang didirikan di Roma (1603), Florence (1657), London (1662), Paris (1666), Berlin (1700), dan St. Petersburg (1724).

Kritik

Para pengkritik Positivisme Logis berpendapat bahwa landasan dasar yang digunakan oleh Positivisme Logis sendiri tidak dinyatakan dalam bentuk yang konsisten. Misalnya, prinsip tentang teori tentang makna yang dapat dibuktikan seperti yang dinyatakan di atas itu sendiri tidak dapat dibuktikan secara empiris. Masalah lain yang muncul adalah dalam hal pembuktian teori. Masalah yang dinyatakan dalam bentuk eksistensi positif (misalnya: ada burung berwarna hitam) atau dalam bentuk universal negatif (misalnya: tidak semua burung berwarna hitam) mungkin akan mudah dibuktikan kebenarannya, namun masalah yang dinyatakan sebaliknya, yaitu dalam bentuk eksistensi negatif (misalnya: tidak ada burung yang berwarna hitam) atau universal positif (misalnya: semua burung berwarna hitam) akan sulit atau bahkan tidak mungkin dibuktikan.

Karl Popper, salah satu kritikus Positivisme Logis yang terkenal, menulis buku berjudul Logik der Forschung (Logika Penemuan Ilmiah) pada tahun 1934. Di buku ini dia menyajikan alternatif dari teori syarat pembuktian makna, yaitu dengan membuat pernyataan ilmiah dalam bentuk yang dapat dipersangkalkan (falsifiability). Pertama, topik yang dibahas Popper bukanlah tentang membedakan antara pernyataan yang bermakna dan yang tidak, namun untuk membedakan antara pernyataan yang ilmiah dari pernyataan yang bersifat metafisik. Menurutnya, pernyataan metafisik tidaklah harus tidak bermakna apa-apa, dan sebuah pernyataan yang bersifat metafisik pada satu masa, karena pada saat tersebut belum ditemukan metode penyangkalannya, belum tentu akan selamanya bersifat metafisik. Sebagai contoh, psikoanalisis pada zaman itu tidak memiliki metode penyangkalannya, sehingga tidak dapat digolongkan sebagai ilmiah, namun jika suatu saat nanti berkembang menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penyangkalan, maka akan dapat digolongkan sebagai ilmiah.

Sumber: Wikipedia.org 


p style=”text-align: justify;”

Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Tagged with: , , , , , , , , , ,
Posted in Filsafat
0 comments on “Positivisme
1 Pings/Trackbacks for "Positivisme"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Popular Post