Teori Ekologi Populasi (Population Ecology Theory)

Teori ekologi populasi atau population ecology theory menurut Hanan dan Freeman (1977) dalam Donaldson, 1995) sebagai teori yang menjelaskan mekanisme utama pada perubahan organisasi yang tidak terjadi oleh adanya adaptasi dalam organisasi secara individual, sebagaimana yang terjadi dalam perspektif teori struktur kontingensi.

Akan tetapi ia terjadi seperti yang digambarkan oleh teori Darwin tentang seleksi alam, yang menggambarkan ada yang lahir dan ada yang mati, dimana perubahan pada berbagai tingkatan populasi mengakibatkan organisasi yang tidak mampu menyesuaikan diri akan dikeluarkan dari sebuah populasi organisasi dan akan diganti atau lahir organisasi baru yang lebih mampu beradaptasi.

Population Ecology Theory dibangun dengan literatur yang isinya menggunakan bahasa tehnis tersendiri, dengan model matematika dan prosedur statistikalnya pun khas. Hal ini membuat teori ekologi populasi pada derajat tertentu berbeda dan tidak dapat dibandingkan dengan teori organisasi yang lain.

Teori ini berasumsi bahwa sumber daya pada lingkungan tidak terdistribusi secara merata di pada relung masyarakat, oleh karenanya termanfaatkan atau tidak termafaatkannya sumber daya, tergantung dari kemampuan sebuah organisasi untuk memanfaatkannya atau tidak, hal ini merupakan indikasi berhasil atau gagalnya organisasi.

Teori-Ekologi-Populasi-img

Teori Ekologi Populasi

Population Ecology Theory berasumsi bahwa pilihan strategik mereka dalam teori organisasi merupakan hal yang tidak mudah untuk dikerjakan atau dicapai, asumsi-asumsi yang berlaku pada perspektif ekologi populasi menurut Robbins (1994) adalah:

Pertama, ekologi populasi memfokuskan diri pada kelompok atau populasi organisasi, bukan pada organisasi individual. Ekologi populasi didesain untuk menjelaskan misalnya, bahwa bisnis eceran barang keperluan sehari-hari (grocery) pada akhir tahun 1940-an cenderung terpecah merata antara toko-toko kecil dan pasar-pasar swalayan, namun lingkungan tersebut mengeluarkan hampir semuanya dari kelompok pertama karena karena mereka tidak efesien.

Kedua, ekologi populasi medefinisikan keefektifan organisasi hanya sebagai kemampuan untuk bertahan hidup.

Ketiga, ahli ekologi mengasumsikan bahwa lingkungan tersebut menentukan secara total.

Kebalikan dari yang biasa pada teori organisasi pada umumnya yang menjelaskan bahwa strategi yang menentukan struktur, pandangan ekologi-populasi mengasumsikan bahwa manajemen paling tidak dalam jangka pendek atau menengah hanya mempunyai dampak kecil terhadap keberlangsungan organisasi. Para manajer dianggap tidak sebagai pengamat yang berpontensi. Jika terjadi pergeseran pada ceruk lingkungan yang diduduki organisasi, tidak sesuatu pun yang dapat dilakukan oleh manajemen. Kelangsungan hidup ini hanya ditentukan sejauh mana lingkungan dapat mendukung organisasi tersebut. Keberlangsungan hidup hanya dianggap sebagai hasil dari keberuntungan atau sebuah kebetulan semata. Organisasi yang dapat bertahan hidup hanya berada pada tempat yang tepat, waktu yang tepat, sedangkan penentuan posisi tersebut tidak mempunyai hubungan dengan pilihan manajerial. Jika seseorang pembangun rumah yang memproduksi rumah untuk segmen tertentu dalam pasar, dan jika tingkat bunga turun dengan drastis, maka permintaan yang dibangun akan meningkat dan ada kesanggupan menjual dan membangun lebih banyak. Dan sebaliknya apabila tingkat bunga naik maka terjadi penurunan pada penjualan rumah. Dalam hal ini tingkat suku bunga yang terdapat pada lingkungan tersebut menentukan apakah organisasi dapat bertahan hidup atau tidak, bukan tindakan manajerial yang menentukan.

Keempat, kapasitas daya dukung dari organisasi sangat terbatas. Hanya ada sejumlah rumah sakit-rumah sakit tertentu saja misalnya yang dapat diserap oleh sebuah kelompok masyarakat yang mempunyai jumlah tertentu. Hal ini menimbulkan arena kompetitif di mana organisasi tertentu akan berhasil sedangkan yang lain gagal.

Menurut Robbins (1994), teori ekologi populasi mengasumsikan eksistensi dari sebuah proses tiga tahap yang menjelaskan bagaimana organisasi yang beroperasi pada ceruk lingkungan yang serupa akhirnya akan mendapatkan dimensi umum. Proses tersebut mengingatkan kita bahwa kekuatan pengubah timbul dalam lingkungan, bukan dari tindakan manajerial. Proses tiga tahap tersebut adalah variasi, seleksi, retensi. Variasi adalah pengakuan akan adanya variasi pada dan antara organisasi, seleksi adalah variasi yang paling sesuai dengan lingkungan organisasi, dan retensi (retention) adalah proses yang menopang dan memproduksi kembali variasi yang diseleksi secara positif.

Pada setiap populasi organisasi misalnya rumah makan fast foot, perusahaan kimia, rumah sakit umum, dan perguruan tinggi swasta, akan terdapat variasi pada bentuk organisasi. Ini dapat direncanakan atau merupakan variasi sembarang (random); tetapi kunci utamanya adalah bahwa akan terdapat perbedaan. Tetapi beberapa variasi akan lebih sesuai dengan lingkungan mereka daripada yang lain. Yang sesuai akan bertahan hidup terus, sedangkan yang lain akan keluar dari kelompok dan mati. Organisasi yang mempunyai bentuk yang cocok dengan lingkungannya telah diseleksi secara positif dan akan hidup terus sedangkan yang lain akan gagal, atau akan berubah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Hal ini akhirnya akan menjurus pada mempertahankan variasi yang telah diseleksi secara positif. Setelah beberapa waktu, bentuk organisasi yang diseleksi cenderung untuk berkembang pada populasi yang mempunyai besaran yang sama untuk efisiensi, tehnologi dan sistem kontrol.

Dengan mengikuti proses di atas, kita dapat mengharapkan untuk menemukan praktrek orgaisasi dan karakteristik struktural yang umum dalam populasi umum. Alasannya adalah bahwa organisasi yang berbeda kurang mampu untuk bersaing. Tidak terdapat cukup sumber dalam tiap lingkungan untuk mendukung jumlah organisasi yang tidak terbatas, dengan demikian terdapat seleksi alamiah yang memproduksi kembali struktur organisasi yang paling sesuai dengan lingkungan mereka. Setelah jangka waktu lama, tentunya variasi yang telah dipilih secara positif sekalipun kemungkinan akan diseleksi keluar karena lingkungan berubah dan karena perubahan itu, kumpulan variasi yang lain akan dipilih karena lebih disukai.

Selanjutnya Robbins (1994), menjelaskan bahwa setiap industri terdiri dari kumpulan-kumpulan organisasi yang dapat dibagi menjadi populasi-populasi yang mempunyai sumberdaya dan tehnologi yang sama. Tetapi ada keterbatasan jumlah manusia, segmen pasar dan sumber daya lain yang tersedia di lingkungan. Organisasi dapat dapat menetapkan satu ceruk bagi diri mereka sendiri, misalnya, memberi penekanan pada biaya rendah, kualitas, lokasi yang nyaman, jumlah jam kerja, dan sebagainya. Tetapi tetap ada persaingan, yang bisa bertahan hidup adalah yang dapat menyesuaikan sumber daya internalnya dengan lingkungan mereka.

Ekologi populasi memberikan penjelasan tentang mengapa organisasi di masyarakat umum cenderung mempunyai karakteristik struktur yang sama dan mengapa beberapa jenis organisasi tertentu dapat melangsungkan hidupnya, sedangkan yang lain mati. Teori ini dapat menjelaskan kenapa organisasi kecil seringkali gagal, mengapa struktur divisi menjadi populer pada tahun 1960-an, dan mengapa struktur organisi berkembang pada tahun 1980-an diantara perusahaan dengan tehnologi tinggi. Mungkin yang terpenting dari semuanya, ekologi populasi dapat menjelaskan timbul dan berkembang biaknya bentuk birokratik dan mengapa kebanyakan organisasi saat ini pada umunya adalah birokrasi.

Ekologi populasi menurut Robbins (1994) juga mengatakan kepada kita bahwa kelangsungan hidup organisasi secara mencolok dipengaruhi oleh kapasitas dan stabilitas lingkungan organisasi tersebut. Apakah kapasitas lingkungan tersebut kaya atau miskin?, makin kaya lingkungan, makin banyak pula organisasi yang bertahan hidup. Pada pertengahan 1980-an, lingkungan industri peralatan pertanian lebih miskin katimbang lingkungan para produsen pengolah kata (word processor). Selain itu makin stabil suatu lingkungan, makin sukar pula organisasi baru masuk dan bersaing. Lingkungan yang stabil dan pasti cenderung untuk mempertahankan organisasi besar yang mempunyai pangsa pasar tinggi.

Bagi para peneliti teori organisasi, kontribusi ekologi populasi termasuk mempertanyakan metode penilitian tradisional. Peneliti teori organisasi secara tradisional melihat hubungan struktural yang berbeda dan mencoba menghubungkan dengan tingkat keefektifan organisasi yang berbeda-beda. Para ahli ekologi organisasi benar ketika mengatakan bahwa penilitian yang demikian adalah terbias (biased). Penilitian itu tidak mensurvey semua organisasi, hanya organisasi yang dapat bertahan hidup. Organisasi yang benar-benar tidak efektif tidak diakaji karena mati terlalu cepat. Dengan demikian nilai dari penilitian tentang teori organisasi akan lebih baik jika para peneliti meninjau organisasi yang gagal maupun yang berhasil.

Ekologi populasi mungkin tidak akan diterima sebagai teori utama, paling tidak di kalangan siswa manajemen dan bisnis, karena teori ekologi populasi berlawanan dengan doktrin atribusi rasional. Hasil yang bersifat acak (random) yang mungkin disebabkan oleh keberuntungan atau kebetulan, tidak dapat perdefinisi dikelola (manage). Pandangan yang mengatakan bahwa keberhasilan organisasi adalah peristiwa kebetulan, kemungkinan besar tidak akan diterima secara umum pada sekolah bisnis dan manajemen yang kelangsungan hidupnya didasarkan atas pandangan profesional para manajer.

Perspektif ekologi populasi menurut Robbins (1994) sama dengan Teori Pasar Efisien (TPE) dari investasi keuangan pada teori organisasi. TPE mengatakan bahwa harga-harga saham selalu cenderung mencerminkan yang diketahui tentang prospek perusahaan secara individual dan ekonomi secara keseluruhan. Jika semua informasi yang ada pada saat ini sudah melekat pada harga saham mana saja, penilitian dan analisis tidak dapat memperbaiki performa dalam membuat keputusan portofolio saham. Menurut TPE, karena harga saham adalah akibat dari pasar yang benar-benar efisien, maka siapa saja yang dapat melampaui prestasi pasar sebenarnya karena keberuntungan saja. TPE sebagaimana halnya dengan ekologi populasi, mengasumsikan bahwa keberhasilan sebenarnya merupakan masalah keberuntungan atau keberadaan pada tempat dan waktu yang tepat. Para peneliti saham tentunya meragukan hal tersebut. Demikian juga siswa manajemen kemungkinan tidak akan memeluk determinisme tersebut yang ekstrem tentang lingkungan seperti yang dikemukan oleh ekologi populasi.

Gambaran proses seleksi terhadap organisasi dalam teori ekologi populasi:

Ekologi Populasi IMG

Ekologi Populasi

 Kritik terhadap Teori Ekologi Populasi

Kritik teori ekologi populasi dilakukan oleh Donaldson (1985), Scott (1992), Woodward (1965), Pugh (1965), Child (1972), Perrow (1979), Simon (1965), Blau (1964,1970,1972), Donaldson (1995). Donaldson (1995), melihat ada bagian yang terbatas dalam mengunakan model biologis untuk menjelaskan struktur dan perubahan organisasi, teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa dan bagaimana sebuah organisasi tumbuh. Ekologi populasi bukanlah teori umum untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana organisasi dapat melangsugkan hidup.

Teori populasi ekologi menggunakan teori biologi khususnya teori Darwin tentang seleksi alam sebagai dasar penjelasan dan sumber analogi, akan tetapi organisasi terlihat tidak dapat dikendalikan dengan aturan biologi, misalkan penciptaan kehidupan organisme yang menentukan lahirnya seorang anak adalah gen bawaan tidaklah dapat untuk diadopsi pemahaman demikian pada penjelasan struktur organisasi karena perusahaan sebenarnya dapat memulai (lahir) secara independen, atau mencipta tanpa perlu terlibat dalam sebuah konglomerasi. Dengan demikian organisasi tidak secara tepat dibahas dengan penjelasan suksesnya sebuah organisasi yang tercipta karena organisasi memiliki keturunan yang baik.

Inkonsistensi teori ini juga dilihat oleh Donaldson (1995) dalam hal penjelasan Darwin tentang subyek biologi adalah lahir dan mati, sementara organisasi dapat digabungkan menjadi satu dan tidak mati. Jika organisasi kecil dapat tumbuh menjadi besar atau menjadi besar sebagai hasil merger dua perusahaan. Hannan dan Freeman (1977) menyatakan bahwa seleksi alam akan mengeluarkan organisasi kecil tetapi kemudian akan lahir organisasi besar. Donaldson (1995) tidak melihat hal ini terjadi terjadi dalam realitas organisasi.

Donaldson (1995) melihat banyak aspek struktur internal organisasi yang dapat dijelaskan pada teori struktur kontingensi dan secara keseluruhan berada diluar skopa penjelasan teori populasi ekologi. Sejak organisasi didefinisikan bentuknya dalam beberapa elemen kunci sebagai usaha menjauhkan dirinya dari kelambanan (inertia), antara lain elemen pernyataan tujuan, penciptaan otoritas, tehnologi inti, dan strategi pemasaran. Teori populasi ekologi tidak dapat menjelaskan hal ini sebagai saingan terhadap teori struktur kontingensi atau teori organisasi lainnya. Donaldson (1995) menyatakannya sebagai berikut:

…”Any inquiry into the processes of organizational inertia would require an investigation into the internal power, politics, and decision-making systems of organizations and thus would again require inquiry within the organizations studied about their internal characteristics.”…(hlm.217)

Sementara Hannan dan Freeman (1977) tidak menjelaskan faktor-faktor yang membuat organisasi dapat bertahan pada proses adaptasi yang sangat penting bagi organisasi. Hannan dan Freeman (1977) menjelaskan matinya organisasi hanya terjadi pada level agregat dalam sebuah populasi tidak pada level individual organisasi. Hal ini menurut Donaldson (1995) meninggalkan pertanyaan tentang organisasi mana yang survive dan mengapa yang lainnya gagal? Mungkin mereka tidak cocok dengan lingkungan mereka, sehingga mati sebagai akibat dari tekanan kompetisi atau terbatasnya resources yang tidak memungkinkan mereka mendapatkannya lagi pada ceruk ekologi. Populasi ekologi gagal untuk menunjukkan dimana letak penyebabnya dan gagal pula dalam pembuktian secara empiris.

Teori ekologi populasi mengabaikan motif dan kemampuan manajerial, namun manajemen tidak selalu tidak berpotensi. Manajemen mungkin tidak sedemikian berkuasa seperti sering dikatakan pada text book manajemen tetapi tidak berarti bahwa manajemen tidak relevan. Manajemen dapat memilih domain atau ceruk dimana dia mau bersaing dan, khususnya dalam jangka panjang mengubah domainnya.

Ekologi populasi nampaknya mempunyai aplikasi terbatas bagi organisasi yang besar dan berkuasa. Alasannya adalah bahwa organisasi tersebut seringkali dapat mengisolasi diri dari kegagalan. Mereka memiliki kontituensi (pendukung) yang kuat di pemerintahan yang melindungi mereka. Misalnya, industri baja di Amerika Serikat, ketika diserang oleh pesaing-pesaing dari Jepang dan negara lain, mereka memperoleh dukungan kuat di Kongres dalam bentuk quota import asing, selain itu organisasi yang besar dapat mengontrol lingkungannya karena banyak unsur yang terdapat pada lingkungan mereka, seperti pemasok, pelanggan, serikat buruh dan sebagainya yang bergantung dan tunduk pada permintaan mereka.

Di antara organisasi yang berada di sektor publik, efisiensi dan penyesuaian diri bukanlah kriteria keefektifan. Kita tentunya tidak akan membiarkan sekolah negeri, perpustakaan daerah, dan para pengumpul sampah di kota gagal dalam usahanya. Dengan demikian ekologi populasi sebaiknya dijelaskan sebagai sebuah teori khusus yang dapat diaplikasikan pada organisasi bisnis kecil dan tidak berkuasa. Realitas mengatakan kepada kita bahwa kebanyakan dari organisasi adalah organisasi bisnis besar, demikian juga hampir semua organisasi yang terdapat pada sektor publik, cenderung relatif kebal terhadap ancaman dari lingkungan dan jarang sekali terseleksi untuk dikeluarkan.

Dalam mengukur kontribusi teori ekologi populasi terhadap organisasi yang berskopa luas dan kompleks yaitu perusahan multinasional. Kritik terhadap teori ini dilakukan oleh Westley dan Ghosal (1988), Scott (1987), Bartlet dan Ghosal (1989), Singh dan Lumsden (1990), Zuckler, Doz dan Prahalad (1991)40. Indikator kontribusi teori ekologi populasi diukur pada beberapa elemen manajemen antara lain determinansi teori terhadap struktur, diferensiasi internal, optimalisasi pengambilan keputusan, pengelolaan informasi, akselerasi, penciptaan hubungan antar perusahaan, kontinuitas dan pembelajaran.

Teori ekologi populasi tidak memiliki kontribusi terhadap manajemen perusahaan multinasional (Doz dan Prahalad, 1991). Meskipun sebagian teorinya berkembang tetapi tidak memumpun kepada pemahaman mendasar tentang manajemen yang mampu menjawab tantangan perubahan dan mendarat pada pokok persoalan perubahan dalam perusahaan multinasional. Dari pernyataan riset mengenai perusahaan multinasional (MNC), Hannan dan Freeman (1989), melihat teori ini sangat tidak bermanfaat ketika ia diterapkan dan mempunyai banyak keterbatasan untuk menjelaskan bagaimana sebuah organisasi multinasional yang tingkat kompleksitasnya begitu tinggi mampu mengendalikan dan menerapkan strateginya di lapangan. Temuan yang sama juga diidentifikasikan oleh Aldrich (1979), Doz (1979), Prahalad dan Doz (1979), yang menyatakan bahwa untuk beradaptasi secara baik terhadap kondisi lingkungan yang spesifik, reaksinya terhadap perubahan lingkungan sulit dilakukan.

Menurut Singh and Lumsden (1990), meskipun sebagian teorinya berkembang tetapi tidak berdampak terhadap kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan dan tidak membawa perkembangan terhadap wajah organisasi karena analisanya tidak mengena terhadap pokok persoalan perubahan, kecuali yang bersifat proaktif terhadap perubahan.

Bartlet dan Goshal (1989), Doz (1979), Doz dan Prahalad (1987), melihat teori ini tidak bermanfaat terhadap manajemen perusahaan multinasional, tetapi menurut hemat mereka teori ekologi populasi sebagai sebuah pemahaman populasi organisasi masih memberikan sedikit pemahaman kepada kita tentang persoalan mengapa dan bagaimana organisasi gagal dalam beradaptasi dengan lingkungan, sebagai bahan pembanding dalam studi literatur tentang proses manajemen, oleh karenanya teori populasi ekologi tidak bisa begitu saja dikeluarkan dari analisa tehadap analisa perilaku manajemen. Teori ekologi populasi meskipun tidak mampu untuk diterapkan pada firm besar dan kompleks tetapi jaringan (network) dalam subsistem organisasinya mirip seperti pada masyarakat (populasi), hal ini merupakan sumbangan konsepsional dari teori populasi ekologi. Para ahli ekologi organisasi benar ketika mengatakan bahwa penilitian yang demikian adalah terbias (biased). Penilitian teori organisasi tidak mensurvey semua organisasi, hanya organisasi yang dapat bertahan hidup. Organisasi yang benar-benar tidak efektif tidak dikaji karena mati terlalu cepat. Dengan demikian nilai dari penilitian tentang teori organisasi akan lebih baik jika para peneliti meninjau organisasi yang gagal maupun yang berhasil.

Tabel kriteria relevansi pada aras makro bagi sebuah teori organisasi:

Teori Ekologi Populasi

Teori Ekologi Populasi

Kesimpulan: Teori Ekologi Populasi

Teori Ekologi Populasi menyumbangkan pemikiran yang lain tentang organisasi yaitu proses lahir dan matinya sebuah organisasi. Menurut Singh and Lumsden (1990), dalam Donaldson (1995), meskipun sebagian teorinya berkembang tetapi tidak berdampak terhadap kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan dan tidak membawa perkembangan terhadap wajah organisasi karena analisanya tidak mengena terhadap pokok persoalan perubahan, kecuali yang bersifat proaktif terhadap perubahan.

Bartlet dan Goshal (1989), Doz (1979), Doz dan Prahalad (1987), melihat teori ini tidak bermanfaat terhadap manajemen perusahaan multinasional, tetapi menurut hemat mereka teori ekologi populasi sebagai sebuah pengetahuan tentang populasi organisasi masih memberikan sedikit pemahaman kepada kita tentang persoalan mengapa dan bagaimana organisasi gagal dalam beradaptasi dengan lingkungan, sebagai bahan pembanding bagi studi literatur tentang proses manajemen, oleh karenanya teori populasi ekologi tidak bisa begitu saja dikeluarkan dari analisa tehadap analisa perilaku manajemen.

Teori ekologi populasi meskipun tidak mampu untuk diterapkan dalam firm besar dan kompleks tetapi jaringan (network) dalam subsistem organisasinya mirip seperti dalam masyarakat (populasi), hal ini merupakan sumbangan konsepsional dari teori populasi ekologi. Para ahli ekologi organisasi benar ketika mengatakan bahwa penilitian yang demikian adalah terbias (biased). Penilitian teori organisasi tidak mensurvey semua organisasi, hanya organisasi yang dapat bertahan hidup. Organisasi yang benar-benar tidak efektif tidak dikaji karena mati terlalu cepat. Dengan demikian nilai dari penilitian tentang teori organisasi akan lebih baik jika para peneliti meninjau organisasi yang gagal maupun yang berhasil merupakan sumbangan orisinil dari Teori ekologi populasi atau population ecology theoryi.

 

Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Tagged with: , , , , , , , , , , , , , ,
Posted in Teori Organisasi
0 comments on “Teori Ekologi Populasi (Population Ecology Theory)
1 Pings/Trackbacks for "Teori Ekologi Populasi (Population Ecology Theory)"
  1. […] 1974), Transaction Cost Theory(Williamson, 1975), Agency Theory (Jensen dan Meckling, 1976), Population-Ecology (Hannan dan Freeman, 1977), Institutional Theory (Meyer dan Rowan, 1977, Zuckler, 1977), Marxism […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Popular Post