Tokoh Filsafat

Jean-Jacques Rousseau (1712-1778)

November 22, 2011 // 3 Comments

Rousseau merupakan titik balik gerakan Aufklarung. Optimisme Aufklarung pada Rousseau menjadi pesimisme. Menurut Rousseau, kemajuan seni dan ilmu pengetahuan bagi manusia bukan kemajuan melainkan kemerosotan dan keterasingan. Manusia menjadi buruk dan busuk karena kebudayaan. Waktu manusia dalam keadaan alamiah, sendirian, tanpa struktur-struktur kehidupan sosial, ia hidup secara otonom dan bahagia, cinta pada dirinya sendiri dan baik pada orang lain. Manusia yang terkena pengaruh kebudayaan dirusak dari dalam.

David Hume (1711-1776)

November 22, 2011 // 3 Comments

Hume mau membongkar beberapa faham yang sangat penting bagi kita. Misalnya faham “sebab”. Menurut Hume tidak ada sebab dan akibat, melainkan hanya sederetan peristiwa, yang satu sesudah yang satunya. Yang kita lihat hanya selalu hanya urutan dalam waktu, tetapi tak pernah unsur penyebab. Post hoc non propter hoc (sesudahnya, bukan karenanya). Misalnya, saya lemparkan batu kearah jendela, batu kena kaca dan kaca pecah. Menurut Hume yang dapat dipastikan adalah jendela pecah sesudah tersentuh batu, tetapi tidak bahwa batu (dan saya) menyebabkan pecahnya kaca jendela.

John Locke (1632-1704)

November 22, 2011 // 2 Comments

Ada dua hal dalam filsafat pengetahuan John Locke yang berimplikasi bagi perkembangan kebudayaan modern. (1) Anggapan bahwa seluruh pengetahuan kita berasal dari pengalaman, dan (2) bahwa apa yang kita ketahui melalui pengalaman itu bukanlah objek atau benda yang mau kita ketahui itu sendiri, melainkan hanya kesan-kesannya pada pancaindera kita.

Thomas Hobbes (1588-1679)

November 22, 2011 // 2 Comments

Hobbes berargumen bahwa manusia secara alami adalah jahat dan tidak bisa dipercaya, pada dasarnya egois yang akan melakukan apapun untuk posisi mereka yang lebih baik. Hobbes percaya bahwa kerajaan monarki adalah sistem pemerintahan yang terbaik, dengan sistem kekuasaan pada seorang raja atau ratu. Menurut Hobbes pemerintahan diciptakan untuk melindungi egoisme dan kejahatan manusia itu sendiri, maka pemerintahan yang terbaik adalah yang memiliki kekuasaan besar mampu mengatasi segala seperti leviathan (raksasa laut yang memiliki banyak tangan). Oleh karena itu, membiarkan masyarakat warga negara mengatur pemerintahan seperti dalam demokrasi akan sia-sia dan membahayakan stabilitas negara.

Rene Descartes (1596-1650)

November 22, 2011 // 1 Comment

Gagasan Descartes adalah kesangsian metodis. Descartes tidak puas dengan filsafat pada zamannya. Filsafat itu terlalu tergantung dari dalil-dalil filsuf-filsuf zaman dahulu, seperti Aristoteles. Dengan demikian filsafat tidak cukup radikal. Yang dimaksud dengan kesangsian metodis adalah bahwa filsafat sebagai teori tidak boleh bertolak dari pengandaian-pengandaian yang tidak diperiksa atau disangsikan dulu. Jadi Descartes sendiri boleh saja percaya bahwa Allah itu ada, tetapi ia tidak boleh mebangun suatu sistem filsafat atas pengandaian bahwa Allah ada, kecuali ia dapat memperlihatkan bahwa eksistensi Allah tidak dapat diragukan.