Blog Archives

Jean-Jacques Rousseau (1712-1778)

Rousseau merupakan titik balik gerakan Aufklarung. Optimisme Aufklarung pada Rousseau menjadi pesimisme. Menurut Rousseau, kemajuan seni dan ilmu pengetahuan bagi manusia bukan kemajuan melainkan kemerosotan dan keterasingan. Manusia menjadi buruk dan busuk karena kebudayaan. Waktu manusia dalam keadaan alamiah, sendirian, tanpa struktur-struktur kehidupan sosial, ia hidup secara otonom dan bahagia, cinta pada dirinya sendiri dan baik pada orang lain. Manusia yang terkena pengaruh kebudayaan dirusak dari dalam.

Tagged with: , , , ,
Posted in Tokoh Filsafat

David Hume (1711-1776)

Hume mau membongkar beberapa faham yang sangat penting bagi kita. Misalnya faham “sebab”. Menurut Hume tidak ada sebab dan akibat, melainkan hanya sederetan peristiwa, yang satu sesudah yang satunya. Yang kita lihat hanya selalu hanya urutan dalam waktu, tetapi tak pernah unsur penyebab. Post hoc non propter hoc (sesudahnya, bukan karenanya). Misalnya, saya lemparkan batu kearah jendela, batu kena kaca dan kaca pecah. Menurut Hume yang dapat dipastikan adalah jendela pecah sesudah tersentuh batu, tetapi tidak bahwa batu (dan saya) menyebabkan pecahnya kaca jendela.

Tagged with: , , ,
Posted in Tokoh Filsafat

John Locke (1632-1704)

Ada dua hal dalam filsafat pengetahuan John Locke yang berimplikasi bagi perkembangan kebudayaan modern. (1) Anggapan bahwa seluruh pengetahuan kita berasal dari pengalaman, dan (2) bahwa apa yang kita ketahui melalui pengalaman itu bukanlah objek atau benda yang mau kita ketahui itu sendiri, melainkan hanya kesan-kesannya pada pancaindera kita.

Tagged with: ,
Posted in Tokoh Filsafat

Thomas Hobbes (1588-1679)

Hobbes berargumen bahwa manusia secara alami adalah jahat dan tidak bisa dipercaya, pada dasarnya egois yang akan melakukan apapun untuk posisi mereka yang lebih baik. Hobbes percaya bahwa kerajaan monarki adalah sistem pemerintahan yang terbaik, dengan sistem kekuasaan pada seorang raja atau ratu. Menurut Hobbes pemerintahan diciptakan untuk melindungi egoisme dan kejahatan manusia itu sendiri, maka pemerintahan yang terbaik adalah yang memiliki kekuasaan besar mampu mengatasi segala seperti leviathan (raksasa laut yang memiliki banyak tangan). Oleh karena itu, membiarkan masyarakat warga negara mengatur pemerintahan seperti dalam demokrasi akan sia-sia dan membahayakan stabilitas negara.

Tagged with: , ,
Posted in Tokoh Filsafat