Samuel Huntington: Semangat Perang

Samuel Huntington IMG

Samuel Huntington

Benturan Antar Perdaban, Penulisnya Tiada, Gagasanya Tetap Eksis.

Samuel P. Huntington mencoba menjelaskan latar belakang munculnya berbagai perang atau konflik  antar komunitas maupun antar negara di muka bumi ini.  Pada umumnya, identititas keagamaan sangat berpengaruh dan menjadi identitas yang dominan dalam memicu terjadinya konflik atau perang, dan juga asumsi utamanya bahwa perang antar komunitas dan  bangsa kemudian dapat berkembang menjadi perang antar peradaban. Hal inilah yang disebut Huntington sebagai benturan antar peradaban.

Identitas: Bangkitnya Kesadaran Peradaban

Garis persinggungan perang berjalan melalui proses-proese intensifikasi, ekspansi, resistensi, interupsi dan kadang-kadang resolusi. Konflik komunal maupun perperangan cenderung merenggut kehidupan dan berkembang menjadi aksi reaksi, sehingga identitas-identitas yang sebelumnya memiliki keserbaragaman dan hubungan kausal menjadi terfokus dan mapan, konflik-konflik komunal biasanya disebut “perang identitas”. Para tokoh politik memperkuat komitmen terhadap loyalitas etnis dan keagamaan, dan kesadaran peradaban memiliki hubungan yang kuat dengan identitas-identitas lain.

Huntington menggambarkan realitas ini seperti yang tercermin dalam konflik antara orang-orang Arab dengan Israel, dimana PLO (Palestinians Liberation Organization) melakukan negosiasi dengan pemerintah Israel, maka Persaudaraan Muslim Hamas menolak mengakui keberadaan pemerintah Palestina. Sebaliknya kesediaan pemerintah Israel untuk melakukan negosiasi menimbulkan protes di kalangan kelompok keagamaan Israel yang ekstrem. Biasanya dalam situasi perang, identitas keagamaan yang dominan karena secara psikologis, agama memberikan justifikasi yang meyakinkan dan menggerakkan perjuangan melawan kekuatan-kekuatan “tak bertuhan” yang dipandang sebagai ancaman.

Komunitas keagamaan atau sivilisasional merupakan komunitas yang memiliki daerah yang paling luas dimana kelompok lokal yang terlibat dalam konflik akan memberikan dukungannya. Garis persinggungan perang adalah perang lokal yang terjadi di antara kelompok-kelompok lokal yang memiliki hubungan luas dan mampu mempropagandakan identitas-identitas sivilisasional di antara para pendukung mereka. Salah satu contoh yang dikemukakan Huntington, ialah jika terjadi suatu pertikaian lokal antara dua suku Afrika, salah satu dari mereka tentunya akan mengidentifikasikan dirinya sebagai Muslim dan yang lainnya Kristen. Kelompok Muslim mengharapkan bantuan dana dari Arab Saudi, pasukan Mujahidin Afghanistan dan persenjataan serta berbagai perlengkapan militer dari Iran, sementara kelompok Kristen mengharapkan bantuan kemanusiaan dan ekonomi, dukungan politik serta diplomatik negara-negara Barat. Jika tidak terjadi seperti yang diinginkan, maka bantuan yang signifikan diharapkan datang dari negara-negara tetangga terdekat yang memiliki hubungan sivilisasional.

Menguatnya identitas-identitas sivilisasional terjadi karena adanya garis persinggungan perang yang berasal dari peradaban-peradaban lain, terutama di kalangan masyarakat Musli.Sebuah garis persinggungan perang bisa jadi berasal dari konflik-konflik yang terjadi di antara kelompok kekerabatan, klen ataupun suku, namun karena identitas-identitas di kalangan masyarakat muslim , cenderung berbentuk U, perjuangan yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat Muslim dapat dengan cepat menarik dukungan dari seluruh negara Islam.

Huntington memberikan contoh, pertempuran yang terjadi antara masyarakat Kaukasus dengan Rusia di Kaukasus Utara, dimana seorang pemimpin Islam Shamil menyatakan diri sebagai seorang Islamis, karenanya mampu menyatukan belasan kelompok etnis dan bahasa “atas dasar (sentimen) Islam dan melakukan perlawanan terhadap penyerbuan Rusia yang terjadi sekitar abad ke -19. Identitas keagamaan yang semakin kuat disebabkan oleh adanya pembersihan etnis dan perang, preferensi-preferesi para pemimpinnya dan dukungan serta tekanan yang berasal dari negara-negara Islam lainnya.

Barisan Peradaban: Negara-Negara Inti dan Wilayah Sekitar

Selama 40 tahun masa Perang Dingin, konflik merembes ke bawah, ketika negara-negara superpower berusaha merekrut aliansi-aliansi, partner-partner, dan menggulingkan atau mengubah serta menetralisirnya dari negara-negara superpower lainnya. Namun, pada pasca  Perang Dingin, terjadi konflik-konflik komunal yang melibatkan kelompok peradaban yang berbeda. Ketika konflik memuncak, masing-masing pihak berusaha mencari dukungan dari negara-negara dan kelompok-kelompok yang memiliki hubungan peradaban. Negara-negara ini memberikan dukungan, perlindungan, dan berperan sebagai penengah, sehingga ‘sindrom negara serumpun” biasanya memicu konflik yang lebih besar dan luas. Dengan demikian, Huntington berasumsi bahwa konflik tidak mengalir dari atas ke bawah, melainkan muncul dari bawah.

Ada tiga tingkatan keterlibatan negara dan kelompok dalam setiap konflik antara lain, Tingkat Primer, dimana masing-masing kelompok terlibat dalam perang dan saling membunuh. Misalnya, perang antara India dan Pakistan, dan Israel dan pejuang Palestina. Kemudian, Tingkat Sekunder, dimana konflik yang terjadi juga melibatkan negara-negara yang memiliki hubungan langsung dengan kelompok-kelompok primer. Misalnya, perang antara Serbia dan Kroasia di wilayah bekas Yugoslavia dan Armenia dan Azerbaijan di Kaukasus. Tingkat Ketiga, negara-negara inti peradaban yang memiliki peran primer dalam setiap konflik yang terjadi, namun tidak mau melibatkan diri namun memberikan sedikit bantuan kemanusiaan dan persenjataan. Negara-negara yang berperan dalam tingkatan kedua dan ketiga berkepentingan untuk melalukan resitensi dan tidak melibatkan diri secara langsung. Karenanya, disamping memberikan dukungan primer, mereka juga berusaha membatasi peran tersebut dan mengarahkannya pada tujuan-tujuan yang moderat.

Akhir dari Sebuah Peperangan

Sebuah pernyataan konvensional “ Setiap Perang Pasti Akan Berakhir”. Benarkah hal itu merupakan “hukum” perang?. Menurut Huntington, jawabannya bisa Ya dan Tidak.  Perang bisa saja berakhir sepenuhnya untuk sementara waktu, namun tidak secara permanen. Suatu peperangan selalu ditandai oleh adanya genjatan senjata, namun tidak pernah diikuti adanya perjanjian-perjanjian damai yang bersifat komprehensif yang mampu mencarikan solusi bagi persoalan-persoalan politik yang sedang dihadapi. Konflik-konflik yang terulang biasanya disebabkan oleh adanya persoalan geografis, perbedaan agama, dan kebudayaan, ‘stratifikasi” sosial dan “luka-luka” sejarah masa lalu di antara kedua belah pihak. Huntington berasumsi bahwa konflik itu sendiri tidak akan pernah berakhir.

Berakhirnya suatu konflik untuk sementara waktu bergantung pada dua perkembangan antara lain :

  • Pertama,  yakni Melemahnya pihak-pihak yang memainkan peran primer.

Musim semi 1994, enam bulan setelah terjadinya pertempuran Nagorno- Karabakh, Armenia dan Azerbaijan sepakat untuk mengadakan senjata. Pada musim gugur 1995, semua pihak yang terlibat dalam perang Bosnia sudah sama-sama lemah, perjanjian Dayton pun akhirnya dapat direalisasikan. Contoh-contoh diatas menunjukan bahwa upaya-upaya penghentian konflik seperti itu, merupakan bukti keterbatasan kekuatan mereka. Ketika salah satu pihak merasa telah mampu memulihkan kekuatannya, perang pun kembali terjadi.

  • Kedua, yakni Keterlibatan pihak-pihak yang memiliki kepentingan masing-masing, tidak memainkan peran primer, namun ikut mempengaruhi terjadinya perang.

Setiap perang yang terjadi tidak pernah dapat dihentikan melalui negoisasi yang diperankan oleh pihak-pihak primer sebagai “mediator” yang tidak memiliki kepentingan di dalamnya. Disamping itu juga, faktor adanya perbedaan kultural, kebencian yang mendalam, dan berbagai pelanggaran yang dilakukan menjadi faktor penghambat untuk piha-pihak yang bertikai melakukan dialog untuk melakukan genjatan senjata.

Konflik yang terjadi di antara berbagai negara atau kelompok yang memiliki kesamaan kebudayaan dapat dengan mudah di atasi melalui mediasi yang dilakukan oleh pihak yang berasal dari kebudayaan yang sama dan tidak mempunyai kepentingan, mengakui legitimasi di dalam kebudayaan tersebut, dan berpotensi untuk mencarikan solusi melalui nilai-nilai kebudayaan dijunjung bersama. Sebagai contoh, Paus berhasil dalam menengahi pertikaian yang terjadi antara Argentina dengan Chili menyangkut persengketaan teritorial.

Perang berakhir bukan karena tidak adanya kepentingan baik bersifat individual, kelompok, ataupun organisasi, tetapi karena adanya kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang memainkan peran sekunder dan tertier. Huntington mencatat bahwa di dalam beberapa wilayah, adanya sebuah negara inti cenderung memudahkan penghentian perang. Misalnya, pada tahun 1992,  Konferensi tentang Keamanan dan Kerjasama Eropa (CSCE) berusaha melakukan peran sebagai mediator dalam perang Armenia-Azerbaijan.

Untuk mengakhiri  sebuah pertikaian melalui sebuah “Full Mode”  yang diusulkan oleh Huntington menuntut adanya :

  1. Keterlibatan aktif dari pihak-pihak yang memainkan peran sekunder dan tertier
  2. Negosiasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang dalam konteks luas memainkan peran tertier sebagai upaya untuk mengakhiri pertikaian.
  3. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memainkan peran tertier tentang bagaimana caranya mereka dapat menerima usulan-usulan dan memaksa piha-pihak yang memainkan peran primer supaya menerima mereka.
  4. Penarikan dukungan dari dan sebenarnya merupakan pengkhianatan terhadap pihak-pihak yang memainkan peran primer yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memainkan peran sekunder
  5. Akibat adanya tekanan ini, penerimaan terhadap upaya-upaya tersebut oleh pihak-pihak yang memainkan peran primer pada akhIrnya akan diabaikan manakala mereka melihat adanya kepentingan di dalamnya.

Akhirnya, Huntington berasumsi bahwa penghentian perang dan mencegahnya supaya tidak meluas sangat tergantung pada adanya kepentingan-kepentingan dan tindakan-tindakan negara-negara inti dari peradaban-peradaban besar dunia. Perang muncul dari bawah ke atas, perdamaian dapat dilakukan dari atas.

 

Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Posted in Tokoh Sosiologi Tagged with: , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Popular Post