Robert K. Merton: Pionir Sosiologi Ilmiah

Robert K. Merton IMG
Robert K. Merton

Robert K. Merton berusaha mempertemukan ulang dua wajah sosiologi yaitu pendekatan teoritis dengan observasi empirisnya. Ia menjadi pionir dalam sosiologi ilmu pengetahuan. Robert K. Merton menapaki karir sosiologi ketika ada dua orang tokoh yang mendominasi sosiologi Amerika yaitu Paul F. Lazarfeld yang mewakili sosiologi empiris dan Talcot Parsons yang berpegang pada sosiologi teoritis. Robert K. Merton tetap bersikukuh untuk mengintegrasikan dan melewati kedua kecenderungan tersebut. Dalam bukunya yang kelak menjadi buku klasik berjudul Elemen-Elemen dalam Teori dan Metode Sosiologi dengan gaya bercanda ia menentang kedua teori itu. R. K. Merton berusaha menunujukkan pengaruh timbal balik antara teori dengan realitas empiris.

Robert K. Merton lahir di Philadelphia, Amerika Serikat, dia memperoleh gelar doktoralnya dari universitas Harvard. Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh pemikir seperti Pitirim Sorokin, dan Talcott Parsons. Merton dapat digolongkan pada sosiolog beraliran fungsionalisme modern. Berbeda dengan tokoh fungsionalisme pendahulunya yang melihat kesatuan masyarakat yang fungsional secara universal dan indispensibility (mutlak tak terbantah), Merton lebih melihat adanya disfungsi, alternatif fungsional, konsekwensi keseimbangan fungsional, serta fungsi manifes dan laten. Ia menggagas pemikiran ini dalam ide middle range theories. Secara prinsipil R. K. Merton tidak bertentangan dengan teori-teori umum, namun ia tetap mempertahankan arti penting teori-teori  berjangkauan menengah (middle range).

Merton menggerakkan kajian sosiologi menuju lebih pada perilaku individu yang unik dan abstrak, namun individu tersebut memiliki status dan peran yang membentuk struktur. Karena itu Merton juga melakukan studi tentang penyimpangan sosial yang berawal dari perilaku individu yang menyimpang kemudian disosialisasikan, ditiru, dan melembaga dalam komunitas. Konsep Merton yang terkenal juga tentang membership dan reference group, bahwa keanggotaan dalam suatu keomunitas bukan berarti seorang itu sejalan dengan komunitasnya, kadang mereka mengacu pada komunitas lain, bahkan reverensi mereka banyak.

Merton dan Sosiologi Ilmu Pengetahuan

Refleksi pemikiran R. K. Merton ‘membuka sumbat’ menuju sosiologi ilmu pengetahuan yang menjadi salah satu tema yang memberikan banyak kontribusi. Pada tahun 1936 Merton yang masih muda meraih gelar doctor filsafat dengan membahas tentang revolusi ilmiah di Inggris pada abad XVII.

Pada tahun 1942 dengan mengambil tema tentang kesukaan (predeliction) R. K. Merton bermaksud menjelaskan “nilai” mana yang berkaitan dengan semangat ilmiah. Ada empat prinsip yang dianggap esensial yaitu: 1) universalisme yang mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang ilmiah itu bersifat independen dari individu-individu, dari opini mereka, dari kebudayaan mereka, dari kebangsaan atau agama mereka; 2) komunalisme yang mempertahankan pemikiran pemisahan pengetahuan di tengah-tengah komunitas; 3) terlepas dari kepentingan tertentu, bahwa ilmuwan berkarya, murni demi ilmu saja sehingga integral dan jujur terhadap hasil yang dikemukakannya; 4) terakhir skeptisme yang mengadopsi sikap kritis dan keraguan yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan.

Sikap  yang menghargai nilai-nilai ini menurut R. K. Merton menjamin berkembangnya sebuah ilmu pengetahuan yang obyektif, rasional, dan cermat.

Ramalan-Ramalan yang Terealisasi Dengan Sendirinya  

Dengan mengambil kembali sebuah pemikiran yang diungkapkan pada tahun 1928 oleh sosiolog William I. Thomas dimana representasi yang dimiliki individu dari situasi ikut memberi kontribusi dalam menciptakan situasi tersebut, maka R. K. Merton lalu mendeskripsikan mekanisme ramalan yang terbukti dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy): bahwa ramalan yang terealisasikan dengan sendirinya mula-mula merupakan definisi atas suatu situasi yang keliru, namun definisi yang salah itu justru menimbulkan sebuah sikap baru yang malah menjadikannya benar.

R. K. Merton banyak memberikan contoh, misalnya kebangkrutan pasar modal. Jika sang pemilik modal keliru mengira  bahwa pasar akan anjlok sehingga memutuskan untuk menjual surat-surat berharganya, maka tindakannya ini malah akan mempercepat anjloknya pasar. Diagnostik mereka malah memicu kebangkrutan.  Contoh lain adalah semacam dampak emosi karena kegagalan; jika seorang mahasiswa merasa yakin bahwa ia tidak akan berhasil dalam ujiannya maka stress dan demobilisasi bisa menyebabkan ia tidak akan berhasil mengerjakan ujian yang sebenarnya. Kasus lain yang dikembangkan oleh R. K. Merton adalah bahwa dalam serikat buruh Amerika para buruh berkulit putih berusaha mengucilkan mereka yang berkulit hitam dengan alasan bahwa orang-orang kulit hitam tersebut berusaha menghambat aksi pemogokkan dan menghianati kelas buruh. Oleh karena itu mereka lalu mengeluarkan buruh kulit hitam dari perjuangan serikat dan mengisolasikan mereka di tempat kerja, mengeluarkannya dari kelas mereka dan seringkali tetap berada diluar gerakan pemogokan. Ramalanpun terwujud dengan sendirinya.

R. K. Merton juga mengarisbawahi berbagai fenomena yang bertentangan dengan hal ini yaitu ketika prediksi suatu peristiwa menghalangi realisasi ramalan itu. Ketika para pengemudi mobil takut akan terjebak dalam kemacetan maka mereka bisa memutuskan untuk beralih  naik kendaraan umum saja atau mengganti waktu keberangkatannya. Dengan demikian mereka menjadikan lalulintas lebih lancar.

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*