Paul Felix Lazarsfeld: Penilitian Tentang Pengaruh Sosial

Paul F. Lazarsfeld IMG
Paul F. Lazarsfeld

Bagaimana individu-individu bereaksi menghadapi lingkungan sosialnya? Demikian pertanyaan yang menjadi poros utama dalam karya Paul F. Lazarsfeld dan dibahasnya lewat penilitian empiris berskala besar.

Paul F. Lazarsfeld (1901-1976) adalah seorang pemuda asal Wina dan lahir dari keluarga intelektual Yahudi. Lazarsfeld melihat ayahnya sebagai pengacara yang sangat miskin dan tidak sukses. Kehidupan Lazarsfeld merupakan perpaduan antara dunia akademik dan bisnis. Ibunya tidak memiliki pendidikan formal, tetapi dikenal sebagai penulis buku How the Woman Experiences the Male yang terbit di Eropa tahun 1931.
Lazarsfeld mmperoleh bekal pendidikan yang memadai sebagaimana tipikal anak-anak kalangan menengah di Wina. Ketika masih sangat muda ia pernah menganut pemikiran sosialis dan militant lewat sebuah organisasi yaitu Rote Falke. Seiring dengan hal itu Paul F. Lazarsfeld pertama-tama menuntut ilmu hukum, matematika, dan ekonomi.

Dengan gelar doctor matematika terapannya ia kemudian mengajar matematika dan fisika. Selanjutnya ia berkenalan dengan suami-istri bernama Karl dan Charlotte Buhler yang merupakan dua psikolog kenamaan. Paul F. Lazarsfeld berhasil meyakinkan mereka untuk membangun sebuah pusat riset dibidang psikologi ekonomi.

Lewat riset ini Paul F. Lazarsfeld menjalankan sebuah penilitian empiris tentang pengangguran di Marienthal. Sesudah surutnya revolusi Jerman (pada tahun 1923) dan kemudian pemerintahan sosialis Austria, Paul F. Lazarsfeld mulai menyadari alasan-alasan gagalnya gerakan sosialis di Austria dan timbulnya sikap apatis gerakan kaum buruh.

Para Pengangguran di Marienthal

Para Pengangguran dari Marienthal (1932) menjadi salah satu penilitian pertama dalam jenisnya di Eropa. Desa Marienthal Austria dibangun pabrik pemintalan namun pada tahun 1929 pabrik itu tutup sehingga menciptakan pengangguran yang kemudian menjadi obyek penilitian Lazarfeld. Ia dibantu oleh Marie Johoda (1907–2001) dan Hans Zeisel (1905–1992) bertujuan untuk membuat sebuah gambaran lengkap tentang kehidupan para penganggur itu. Secara total dari berbagai data menghasilkan sebagai berikut: bahwa para penganggur malah tenggelam dalam sikap apatis, pasrah, bahkan ada yang putus asa. Mereka yang ingin mengubah nasib lalu beremigrasi ke daerah lain atau Negara lain.

Selanjutnya poros utama dari seluruh penilitiannya adalah bagaimana individu-individu bereaksi terhadap lingkungan sosialnya? Apakah riset yang dilakukan berkenaan dengan pengaruh radio atau keputusan terhadap konsumsinya, namun demikian tema ini akan menjadi sumbu yang dominan dalam karya-karya Lazarfeld.

Tahun 1934 Paul F. Lazarsfeld beremigrasi juga ke Amerika dan melanjutkan penilitian-penitiannya disana dengan menggunakan metode-metode pengaruh social dan media yang pernah ditelitinya di Austria.

Media Massa Mempengaruhi Kondisi Sosial Masyarakat

Dalam tulisannya yang berjudul “Mass Communication, Popular Taste and Organized Social Action”, Paul F. Lazarsfeld dan Robert K. Merton menggunakan istilah “Narcotizing Dysfunction” sebagai istilah yang ditimbulkan oleh media massa dalam mempengaruhi kondisi sosial masyarakat. Studi kasus yang diambil adalah masyarakat Amerika Serikat. Dalam studinya mereka menerangkan bahwa banjir informasi telah membius orang Amerika ke dalam apatisme massa. Media massa membuat mereka kecanduan, layaknya sebuah “narkotika sosial”. Mengutip pendapat Idi Subandy, “informasi media mempunyai efek tak ubahnya seperti efek obat bius atau narkotika. Pada gilirannya orang-orang menjadi kurang tercerahkan dan berkurang pula minatnya untuk terlibat dengan hal-hal yang bersifat aktual”.

Lebih lengkap Lazarsfeld dan Merton berpendapat, “increasing dosages of mass communications may be inadvertently transforming the energies of men from active participation into passive knowledge.” (Meningkatnya dosis komunikasi massa dengan kurang hati-hati bisa saja mengubah energi manusia dari partisipasi aktif menjadi pengetahuan pasif). Pendapat penulis ini setidaknya bisa menjadi rujukan kita bersama ketika masyarakat tidak melakukan proses kritis, pro aktif dan selektif terhadap iklan-iklan para capres yang ditayangkan di televisi maka masyarakat pun pada akhirnya hanya akan menjadi pemilih pasif.

Sebagai penutup, efek Narcotizing Dysfunction media massa khususnya televisi pada akhirnya bisa menyebabkan pasifnya pengetahuan seseorang diakibatkan karena mengkonsumsi media tanpa hati-hati. Ruang lingkup yang lebih luas dapat membentuk pseudo-environment yang mempunyai ciri khas hanya menggantungkan kebenaran informasi pada media televisi semata.

Angket Tentang Penerimaan Masyarakat Terhadap Media

Pada tahun 1940 ketika berlangsung pemilihan presiden Amerika dimana saat itu kandidat dari Partai Republik yaitu Wilkie dan kandidat dari Partai Demokrat yaitu Roosevelt, Paul Lazarfeld dan timnya memutuskan untuk mempelajari dampak kampanye pemilihan yang disiarkan lewat radio, yaitu yang menyangkut soal revolusi opini para pemilih. Untuk itu mereka mengikuti sekelompok pemilih dari wilayah Ohio selama kampanye dan menginterogasi mereka sebanyak 7 kali tentang berubahnya pendapat atau opini mereka. Hasilnya sangat mencengangkan para peneliti bahwa opini dan pilihan para pemilih selama berlangsungnya kampanye ternyata cukup stabil dan tidak berubah dari pilihan awal mereka. Semuanya terjadi seolah-olah kampanye yang dipancarluaskan lewat radio dan surat kabar hanya memiliki dampak yang sangat kecil terhadap perubahan opini para pemilih.

Pada saat yang sama P. Lazarfield membandingkan opini orang-orang itu dengan posisi sosial mereka, dan menyatakan adanya kaitan antara status dengan opini politik. Para pemilih yang berasal dari pedesaan yang beragama Protestan dan lebih tidak terkekang kebanyakan memilih calonnya dari partai Republik. Sementara para penganut Katolik, warga kota dan yang lebih miskin lebih banyak memilih partai Demokrat hingga 75%. Kesimpulannya “Seseorang akan berpikir tentang politik dengan cara yang sama jika ia berpikir tentang soal sosial. Karakteristik-karakteristik sosial menentukan karakteristik politik”. Kelompok dimana seseorang menjadi bagian atau anggota didalamnya merupakan salah satu faktor terpenting yang mendefinisikan opini politik. Para peneliti terutama juga mencatat bahwa semakin mendekati hari pemilihan para pemilih yang belum memiliki pilihan pasti pada akhirnya akan memutuskan pilihannya sesuai opini yang dominan dalam keluarganya.

Kesimpulan P. Lazarfield selanjutnya secara luas disetujui oleh para ahli komunikasi dan inovasi. Berbagai inovasi dan pemikiran dalam masyarakat tidak langsung dari media ke individu tetapi melewati semacam ‘air terjun’ berupa kelompok dan orang sebagai perantara.

strong

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*