Pengantar Sosiologi

pengantar_sosial

Dengan melihat perbandingan munculnya ilmu-ilmu lain (seperti filsafat, ekonomi, hukum, dan- lain-lain) maka sosiologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang masih muda.

Auguste Comte (1798 – 1853) merupakan orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi yang secara tegas membedakan cakupan dan isi sosiologi dengan cakupan dan obyek ilmu-ilmu yang lain.

Dilihat dari sudut pandang etimologi, kata sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan atau teman, dan kata Yunani logos yang berarti pengetahuan.

Dengan demikian sosiologi berarti pengetahuan tentang pertemanan atau perkawanan. Secara lebih luas maka sosiologi berarti pengetahuan tentang hidup bermasyarakat. Yang lebih penting adalah bahwa kata sosial mengandung pemahaman adanya sifat berjiwa pertemanan, terbuka untuk orang lain dan tidak bersifat individual atau egoistik atau tertutup terhadap orang lain (Hendropuspito (1989).

Walaupun sosiologi merupakan ilmu yang masih muda namun secara tidak langsung, manusia sudah sejak lahir telah menggeluti sosiologi terutama lewat pergaulan dengan kelompok-kelompok anggota keluarga intinya (terutama ibu), kelompok manusia di sekitar keluarganya sampai kelompok pergaulan internasional. Permasalahannya apakah sosiologi itu? Dari sini, mulailah orang mencoba mendefinisikan sosiologi.[1]

Roucek dan Warren (1962), menyebutkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dalam kelompok-kelompok. Van Doorn dan Lammers (1964) menyebutkan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

Selosoemardjan dan Soelaeman Soemardi ( 1974) mendefinisakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial. Hendropuspito (1989) mendefinisikan sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat secara empiris untuk mencapai hukum kemasyarakatan yang seluas mungkin. Banyak definisi (seperti terurai diatas) yang satu sama lain saling melengkapi dan mempunyai persamaan pandangan. Persoalannya adalah apakah hakekat terdalam dari sosiologi? dan untuk apakah sosiologi itu kita pelajari ?

Hakekat Sosiologi

Pengantar-sosiologi-IMG
Sociology

Kalau kita mempelajari kehidupan seseorang atau sekelompok orang tertentu sejak dia masih muda sampai dia (mereka) dewasa maka kita lebih banyak memahami aspek-aspek kemasyarakatan yang berkaitan dengan sejarah.

Kalau kita mempelajari pola tingkah laku seseorang atau sekelompok (mengapa mereka mempunyai sifat dan tindakan yang faktanya seperti kita amati) maka kita sedang merambah aspek kemasyarakatan yang lebih berkaitan dengan psikologi.

Kalau kita mempelajari (mengamati atau meneliti) seseorang atau sekelompok orang dalam berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain (dalam istilah sosiologi dikenal sebagai interaksi) maka kita memang sedang marambah aspek kemasyarakatan yang lebih berkaiatan dengan sosiologi.

Di ranah sosiologi inilah kita dapat mempelajari: teori-teori sosiologi; tindakan dan interaksi sosial; keteraturan dan konflik sosial; stratifikasi dan deferensiasi sosial; mobilitas sosial; pranata dan kelembagaan sosial; perubahan sosial; masyarakat tradisional dan modern; modernisasi dan globalisasi; masalah-masalah sosial; dan motodologi penelitian sosial (semuanya akan dibahas tersendiri); analisa sosial; dan penerapan sosial (sosiologi pembangunan).

Berdasar definisi dan pemahaman tentang sosiologi maka pada dasarnya dapat dikemukakan ciri-ciri dan sifat-sifat dari sosiologi yang merupakan hakekat dari sosiologi itu sendiri (Soekanto 1997).

(1). Sosiologi adalah ilmu sosial yang berisi tentang gejala-gejala kemasyarakatan

(2).     Sosiologi adalah ilmu yang tidak bersifat normatif.

(3).  Sosiologi adalah ilmu pengetahuan murni dan bukan ilmu terapan (walaupun sosiologi dapat digunakan untuk pembangunan masyarakat)

(4).   Sosiologi adalah ilmu yang merupakan abstraksi dari hal-hal kongkrit (empirik)

(5).    Sosiologi melihat (mencari) pola-pola yang bersifat umum dari gejala sosial yang ada di masyarakat

(6).    Sosiologi merupakan ilmu yang didasarkan kepada fakta empirik dan bersifat rational.

Dengan demikian maka hakekat sosiologi adalah suatu pencarian gejala umum yang terpola (umum) yang ada dalam kenyataan di lapangan (empirik) dari setiap interaksi antar manusia atau antar kelompok manusia. Hakekat inilah yang membedakan dengan sosiografi yang di dalam pencarian gejalanya bukanlah gejala yang umum (yang tidak mempunyai pola umum) dan tidak berusaha untuk membuat suatu generalisasi. Sebagai contoh dari sosiografi adalah gambaran suatu interaksi sosial dari suatu suku tertentu (asing) yang tidak sama dengan gejala pada suku-suku yang lain.[2]

Persamaan dari sosiologi dan sosiografi adalah di dalam keterikatannya dengan tradisi dan waktu. Tradisi atau adat istiadat (termasuk pranata) yang berlaku di mana interaksi itu terjadi akan mewarnai gejala interaksi sosial yang ada sesuai dengan perkembangan waktu yang di jalaninya.

Perkembangan Sosiologi

Adapun perkembangan sosiologi secara kronologis dan singkat dapat dikemukakan sebagai berikut.

 (1).    Pada Jaman Keemasan Filsafat Yunani

Pada masa ini sosiologi dipandang sebagai bagian tentang kehidupan bersama secara filsafati. Pada masa itu Plato (429-347 SM) seorang filosof terkenal dari Yunani, dalam pencariannya tentang makna negara dia berhasil merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup kehidupan sosial dan ekonomi. Plato menganggap bahwa institusi-institusi dalam masyarakat saling bergantung secara fungsional. Kalau ada satu instutusi yang tidak jalan maka secara keseluruhan kehidupan masyarakat akan terganggu.

Seperti halnya Plato maka Aristoteles (384-322 SM) juga menganggap bawa masyarakat adalah suatu organisme hidup (seperti pandangan kaum biologiwan) dengan basis kehidupannya adalah moral (yang baik. Pada masa ini kaum agamawan yang berkuasa sehingga kehidupan sosial lebih diwarnai oleh keputusan-keputusan kaum agamawan yang berkuasa.

(2).    Pada Zaman Renaissance (1200-1600)

Machiavelli adalah orang pertama yang memisahkan antara politik dan moral sehingga terjadi suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Di sini muncul ajaran bahwa teori-teori politik dan sosial memusatkan perhatian pada mekanisme pemerintahan. Sejak masa ini, pengaruh kaum agamawan mulai memperoleh tantangan.

(3).    Pada Abad Pencerahan (abad ke 16 dan 17)

Pada masa ini muncul Thomas Hobbes (1588-1679) yang mengarang buku yang dikenal sebagai The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika. Pada masa ini, pengaruh keagamaan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh pandangan-pandangan yang bersifat hukum sebagai kodrat keduniawiannya.

Berdasar pandangan kelompok inilah kemudian muncul suatu kesepakatan antar manusia (kelompok) yang dikenal sebagai kontrak sosial. Pada mulanya interaksi antar manusia berada dalam kondisi chaos karena saling mencurigai dan saling bersaing untuk memperebutkan sumber daya alam dan manusia yang ada. Kondisi yang bersifat kodrati (sesuai dengan hukum alam) ini kemudian dipandang akan selalu menyengsarakan kehidupan manusia. Oleh sebab itu dibuatlah kesepakatan-kesepakatan pengaturan antar kelompok yang dapat saling berterima dan saling menguntungkan, yang kemudian dikenal sebagai kontrak sosial.

(4).    Pada Abad Ke 18

Pada masa ini munculah John Locke (1632-1704) yang dianggap sebagai bapak Hak Asasi Manusia. Dia berpandangan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai hak-hak dasar yang sangat pribadi yang tidak dapat dirampas oleh siapapun termasuk oleh negara (seperti hak hidup, hak berpikir dan berbicara, berserikat, dan lain-lain).

Tokoh lain yang muncul adalah J.J. Rousseau (1712-1778) yang masih berpegang pada ide kontrak sosialnya Hobbes. Dia berpandangan bahwa kontrak antara pemerintah (negara ?) dengan yang diperintah (rakyat ?) menyebabkan munculnya suatu kolektifitas yang mempunyai keinginan-keinginan tersendiri yang kemudian menjadi keinginan umum. Keinginan umum inilah yang harusnya menjadi dasar penyusunan kontrak sosial antara negara dengan rakyatnya.

(5).    Pada Abad ke 19

Abad ke 19 dapat dianggap sebagai abad mulai berkembangnya sosiologi, terutama sesudah Auguste Comte (1798-1853) memperkenalkan istilah sosiologi, sebagai usaha untuk menjawab adanya perkembangan interaksi sosial dalam masa industrialisasi.

Pada masa ini sosiologi dianggap mulai dapat mandiri. Kondisi yang baru dalam taraf mulai mandiri ini disebabkan walaupun sosiologi sudah dapat menunjukkan adanya obyek yang dijadikan fokus pembahassan (interaksi manusia), namun di dalam pengembangan ilmunya masih menggunakan metode-metode ilmu-ilmu yang lain (ilmu ekonomi misalnya).

(6).    Pada Abad ke 20

Baru pada abad ke 20 inilah sosiologi dapat benar-benar dianggap mandiri karena:

(a).     Mempunyai obyek khusus yaitu interaksi antar manusia

(b).     Mampu mengembangkan teori-teori sosiologi

(c).     Mampu mengembangkan metode khusus sosiologi untuk pengembangan sosiologi

(d).     Sosiologi menjadi sangat relevan dengan semakin banyaknya kegagalan pembangunan karena tidak mendasarkan dan memperhatikan masukan dari sosiologi.

Pada akhir abad ke 20 ini, salah satu kelemahan (masih dianggap ketinggalan) dari sosiologi, namun yang pada saat ini juga sudah mulai dapat dipecahkan, yaitu dalam kaitannya dengan perkembangan dan permasalahan global. Di sini interaksi antar manusia yang dapat diamati adalah adalah interaksi tidak langsung lewat telepon, internet, dan -lain-lain yang menghubungkan manusia yang saling berjauhan letaknya.

Perspektif Sosiologi

Sosiolog bukanlah pembaca pikiran orang atau peramal tetapi dia bisa dengan sangat meyakinkan mengatakan tentang kehidupan seorang (sekelompok orang) yang belum dikenalnya bahkan dapat meramalkannya dengan tepat. Sosiolog dapat dengan secara tepat menggambarkan anda berasal dari lingkungan mana, latarbelakang pendidikan anda, pendapatan keluarga anda, dan bahkan kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpa anda (yang akan lakukan).

Manusia mempunyai kesempatan yang tidak terbatas untuk mencari kesempatan secara terbuka baik dalam pemikiran maupun tindakan. Namun demikian di dalam pengambilan keputusan penting yang terjadi setiap hari seorang individu akan tetap berada dalam arena (yang terbatas) yang dikenal sebagai masyarakat (society), seperti keluarga, lingkungan RT/RW, kampus, suku, bangsa, bahkan lingkungan dunia.

Makna kebijakan penting dari sosiologi adalah bahwa dunia sosial akan menuntun (guides) aktivitas dan pilihan-pilihan hidup kita, seperti kokok ayam jantan yang menentukan kapan kita harus bangun pagi. Demikian pula munculnya suara garengpung yang menuntun petani untuk menanam jenis tanaman tertentu. Mengingat sosiolog adalah orang (kelompok orang) yang mempunyai pemahaman yang kuat tentang bagaimana bekerjanya masyarakat (society works) maka mereka itu dapat menganalisa dan meramal dengan ukuran yang baik dan akurat bagaimana seharusnya kita bertingkah laku.

Cara Pandang Sosiologi

Secara formal disiplin dari sosiologi adalah studi yang sistematik dari human society dan di pusat (jantung) sosiologi adalah (distinctive point of view) cara pandang yang khusus (tersendiri). Paling tidak ada tiga cara pandang dalam sosiologi (Mationis 97)

(1).    Melihat Hal-hal Umum Di dalam Hal-hal Yang Khusus

Peter Berger (1963) menggambarkan karakteristik dari perspektif sosiologi adalah: “melihat umum di dalam khusus“, yaitu mengidentifikasi pola-pola umum di dalam tingkah-laku khusus dari individu-individu. Mengingat bahwa masing-masing individu adalah khusus (unik) maka sosiolog mengenali tingkah laku masyarakat dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan katagori dari kelompok individu yang diamati (seperti anak-anak dibandingkankan dengan orang tua atau kelompok perempuan dengan laki-laki, atau kelompok kaya dengan kelompok miskin).

Dari sini kalau kita memulai berpikir secara sosiologi maka kita harus mulai dengan menyadari bahwa katagori umum dari masyarakat yang kita amati akan membentuk atau mengarahkan pengalaman hidup dari individu-individu dimana mereka berada. Sebagai contoh adalah pembedaan antara anak dan orang dewasa tidak hanya dari bentuk fisiknya namun dari seberapa jauh tingkah lakunya sudah dipengaruhi oleh pengalaman masyarakat di dalam bertingkah laku. Anak-anak seringkali menerima pemberian seseorang dengan tangan kiri atau kanan namun orang dewasa akan selalu menerima pemberian seseorang dengan tangan kanan (Indonesia).

(2).    Melihat Sesuatu Yang Asing Di dalam Hal-Hal Yang Sudah Biasa

Usaha untuk melihat sesuatu yang asing dalam sosiologi tidak berarti bahwa sosiolog selalu memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang bersifat aneh atau ganjil (bizarre) dalam masyarakat. Namun yang dimaksud adalah didasarkan kepada suatu ide bahwa hal-hal yang biasa (familiar) dalam tingkah laku manusia adalah sangat sederhana yaitu menyangkut apa yang diputuskan manusia untuk melakukan sesuatu yang disukai. Di sini tindakan tersebut dapat menimbulkan wacana yang dianggap asing (strange) dalam petunjuk masyarakat (society) tentang cara kita berpikir dan bertindak.

Sebagai gambaran dapat dikemukakan alasan seseorang untuk masuk sekolah adalah bermacam-macam dan menyangkut hal-hal yang biasa seperti untuk memperoleh kekayaan, memperoleh ijasah untuk dapat pekerjaan, dan alasan-alasan lain. Namun untuk kelompok tertentu mereka masuk sekolah karena sekedar mencari pacar atau pasangan. Bahkan untuk masyarakat pada masa-masa ratusan tahun yang lalu mereka tidak membutuhkan sekolahan (bukan merupakan pilihan). Dengan demikian maka adalah mudah untuk menunjukkan bahwa masyarakat (society) mempengaruhi apa yang kita kerjakan. Bahkan lebih dari itu masyarakat (society) juga menentukan (mempengaruhi) siapakah kita.

Contoh yang paling jelas adalah nama-nama yang digunakan oleh selibriti terkenal menggunakan nama-nama yang dipengaruhi oleh masyarakat. Tom Cruise mempunyai nama asli Thomas Mapotreh, Cher mempunyai nama asli Cherilyn Sarkisian, atau Bruce Lee mempunyai nama asli Lee Yuen Kam.

 (3).    Individuality Dalam Konteks Sosial.

Perspektif sosiologi seringkali menantang suatu common sense dengan mengungkapkan bahwa tingkah laku manusia bukanlah bersifat individualistik seperti yang seringkali kita pikirkan (duga). Yang terjadi adalah bahwa tingkah laku individu tersebut seringkali menyangkal individualistiknya masing-masing pribadi. Bahkan dalam kondisi yang berat dan menyakitkan seringkali tingkah laku manusia akan disesuaikan dengan pola-pola sosial masyarakat. Sebagai contoh adalah hasil studi tentang bunuh diri. Di sini tindakan bunuh diri adalah sesuatu yang sangat personal dan diduga sangat individualistik.

Dalam kenyataannya diperoleh fakta bahwa kondisi masyarakat yang ada di sekitarnya menjadi penentu di dalam jumlah dan motivasi bunuh diri. Emile Durkheim (1858-1917) menemukan bahwa laki-laki, protestant, dari keluarga yang berkecukupan, dan tidak menikah merupakan kelompok yang paling banyak melakukan tindakan bunuh diri (dibandingkan dengan perempuan, Katolik atau Jahudi, miskin, dan menikah). Mereka yang banyak melakukan bunuh diri berkaitan dengan faktor lemahnya derajad integrasi, kuatnya isolasi sosial, dan tingginya sifat individualistik kelompoknya.

Pentingnya Perspektif Global

Dunia ini dihuni oleh banyak penduduk yang terdiri dari bermacam-macam suku, agama, kelompok golongan, dan lain-lain yang tinggal di banyak wilayah permukiman (global village). Orang Amerika merupakan salah satu bangsa yang hidup berkecukupan di gobal village tersebut. Perspektif sosiologi mengingatkan mereka bahwa keberhasilan mereka dilihat dari sudut individual maupun bangsa merupakan hasil dari adanya privileged position (posisi yang menguntungkan atau posisi yang mempunyai hak istimewa) yang mereka peroleh dalam suatu sistem sosial dunia yang luas. Lalu bagaimana global perspective dapat meningkatkan atau memperbaiki (enhance) sosiologi?

Secara singkat dapat dikemukakan lewat adanya kesadaran global yang merupakan perluasan perspekti sosiologi. Di sini kita disadarkan bahwa di dalam global village ini tidak semua bangsa atau negara makmur dan enak. Negara-negara Amerika latin, Afrika, dan sebagaian Asia (termasuk Indonesia) yang menggantungkan dirinya di bidang pertanian tidak dapat dibandingkan dengan negara-negara industrialis Eropa Barat atau Amerika.

Dalam global sosial sistem, masing-masing posisi dari suatu bangsa atau negara akan mempengaruhi kondisi sosial bangsa lain. Adanya kemiskinan dan kerusuhan di suatu negara seperti Indonesia misalnya akan berdampak secara global dan langsung menghantam wilayah lain termasuk negar-negara industri di belahan dunia yang lain (Amerika Serikat juga).

Ada tiga pandangan mengapa kesadaran global dapat meningkat yaitu:

(1).     Masyarakat sosial dunia sudah semakin terkait dengan erat.

(2).  Global perspektif memungkinkan kita untuk melihat bahwa permasalahan manusia yang kita hadapi, juga (bahkan lebih) terasa di belahan dunia lain.

(3).     Berpikir secara global adalah cara yang terbaik untuk belajar lebih banyak tentang diri sendiri, demi perbaikan diri sendiri.

Perspektif Sosiologi Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Secara tidak sadar sebenarnya kita tidak tahu secara pasti apakah kita telah menggunakan perspektif sosiologi dalam kehidupan sehari-hari atau belum. Hanya dengan membangkitkan kesadaran akan pentingnya dan besarnya manfaat penggunaan perspektif sosiologi kita akan memperoleh manfaat darinya.

(1).    Sosiologi dan Marginalisasi Sosial

Bagi sejumlah kelompok atau orang menjadi terpinggirkan (termarginalisasi) sudah merupakan kehidupan sehari-hari. Di sini semakin terpinggirkan suatu kelompok maka semakin besar kesadaran kita untuk lebih menyadari dan merangkul mereka dalam perspektif sosial. Di AS banyak orang kulit putih yang tidak mau menyadari tentang hal ini karena mereka menganggap bahwa marginalisasi orang kulit hitam merupakan kehidupan sehari-hari yang sudah selalu terjadi. Di sini kita harus kembali (introspeksi) dan melihat kehidupan kita sehari-hari yang biasa (familiar routine) dengan kesadaran baru dan keinginan untuk mengetahui lebih jauh.

(2).    Sosiologi dan Krisis Sosial.

Adanya krisis sosial yang melanda dunia (seperti pada jaman malaise) telah merangsang munculnya pandangan sosiologi yang baru. Munculnya krisis sosial pada jaman sekarang pun (seperti maraknya penjarahan, pembunuhan sadis, tawuran, dan lain-lain) menyebabkan kita terdorong untuk kembali berpikir tentang perlunya perubahan pelaksanaan sistem sosial dan sekaligus mengadakan perubahan.

Dengan demikian maka pengenalan terhadap sosiologi adalah suatu undangan untuk mempelajari jalan (pandangan) baru untuk melihat pola-pola kehidupan kita yang kita anggapa familiar (biasa) dalam kehidupan sosial kita. Kembali lagi kondisi ini menunjukkan adanya keuntungan dari usaha kita untuk mempelajari perspektif sosiologi.

Manfaat Penggunaan Perspektif Sosiologi.

Beberapa manfaat atau keuntungan yang dapat diperoleh apabila kita menggunakan perspektif sosiologi dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah:

(1).     Perspektif sosiologi telah menantang (mendorong) untuk meninjau kembali pemahamann kita dan orang lain tentang pemahaman yang familiar. Dari sini kita bisa mengkritik pemahaman yang dianggap secara umum memang begitu (establihed) yang pada dasarnya sudah perlu dirubah.

(2).   Perspektif sosiologi memungkinkan kita untuk mengetahui dan memperoleh kesempatan atau (dan) kendala dalam kehidupan kita.

(3).   Perspektif sosiologi memberdayakan kita untuk menjadi aktif berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat menuju kebaikan bersama.

(4).    Perspektif sosiologi menolong kita untuk mengenali perbedaan (pluralitas) manusia dan menghadapi tantangan kehidupan dalam dunia yang bervariasi (diverse).

Penerapan Sosiologi

C. Wrigt Mills (1916-1962), pernah mengatakan bahwa sosiologi adalah jalan untuk keluar bagi kita dari jebakan dari kehidupan kita karena masyarakat bertanggungjawab terhadap permasalahan kita. Apa yang kita butuhkan adalah kualitas pikiran kita untuk menolong dan melihat apa yang terjadi di dunia dan apa yang akan menimpa kita. Inilah yang disebutnya sebagai Sociological Imagination.

Di pihak lain adapula yang mengatakan bahwa sosiologi dapat menolong kita untuk memperoleh pekerjaan di banyak bidang (sebagai peneliti, pekerja sosial, pengembang masyarakat, bankir, jurnalis, dll).

Durkheim mengatakan bahwa pada jamannya tidak ada seorang ahli sosialpun yang mendekati masyarakat dari sudut pandangan sosiologi. Pada mulanya orang hanya melihat dan menekankan bagaimana caranya agar masyarakat dapat hidup lebih baik dan hanya melihat bagaimana kenyataan kehidupan sosial masyarakat.

Munculnya era industrialisasi tidak hanya merubah pola dan tatanan ekonomi namun sekaligus juga merbah pola dan tatanan sosial. Munculnya kota yang menjadi pusat pertumbuhan industri membawa pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Pola interaksi antar manusia di wilayah perkotaan padat yang dekat dengan pusat indutri menjadi berubah, hubungan antar individu menjadi spesifik dan terbatas. Dengan demikian maka terjadilah suatu perubahan sosial di masyarakat eropa pada waktu itu.

Demikian pula muncuknya era globalisasi pada akhir abad 20 atau awal abad 21 tidak hanya membawa perubahan ekonomi dan politik global namun juga terjadi perubahan sosial. Semakin tipisnya batas-batas negara dan semakin “dekatnya” jarak (lewat transportasi dan komunikasi canggih) memungkinkan pola dan tatanan sosial masyarakat juga menjadi berkembang. Di sini sosiologi menjadi semakin penting dan relevant untuk menjawab tantang perubahan jaman untuk kebaikan bersama.

Asal-Usul Sosiologi

Auguste Comte (1798-1857) adalah orang pertama yang menggunakan istilah sosiologi, namun bagaimana dan mengapa sosiologi muncul dan berkembang ?

Ilmu dan Sosiologi.

Durkheim mengatakan bahwa pada jamannya tidak ada seorang ahli sosialpun yang mendekati masyarakat dari sudut pandangan sosiologi. Pada mulanya orang hanya melihat dan menekankan bagaimana caranya agar masyarakat dapat hidup lebih baik dan hanya melihat bagaimana kenyataan kehidupan sosial masyarakat.

(1).     Theological Stage: Pada masa di dalam era medieval, orang (people) yang dikenal sebagai masyarakat dianggap sebagai ekspresi dari kehendak Tuhan.

(2).     Metaphysical Stage: Pada masa renaissance mulai ada pendekatan yang berbeda, dimana masyarakat lebih dipahami sebagai gejala alamiaha (natural) dibandingkan pandangan sebagai suatu gejala super natural. Thomas Hobbes (1588-1679) memandang bahwa masyarakat bukan sebagai perfection of God tetapi lebih merupakan human nature.

(3).     Scientific Stage: Di sini pendekatan keilmuan telah digunakan utnuk memahami masyarakat. Comte menyebutnya sebagai tahap positifisme, yaitu suatu usaha untuk memahami dunia dan gejalanya dengan dasar keilmuan.

Dengan demikian maka sosiologi tumbuh dan berkembang didasarkan kepada disiplin akademik  atau keilmuan. Di sini tingkah laku manusia jauh lebih komplek dari sekedar gejala alam, sehingga tingkah laku manusia tidak akan dapat sepenuhnya dijelaskan dengan menggunakan hukum-hukum masyarakat secara kaku.

Perubahan Sosial dan Sosiologi.

Munculnya era industrialisasi tidak hanya merubah pola dan tatanan ekonomi namun sekaligus juga merubah pola dan tatanan sosial. Munculnya kota yang menjadi pusat pertumbuhan industri membawa pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Pola interaksi antar manusia di wilayah perkotaan padat yang dekat dengan pusat indutri menjadi berubah, hubungan antar individu menjadi spesifik dan terbatas. Dengan demikian maka terjadilah suatuy perubahan sosial di masyarakat eropa pada waktu itu.

Demikian pula muncuknya era globalisasi pada akhir abad 20 atau awal abad 21 tidak hanya membawa perubahan ekonomi dan politik global namun juga terjadi perubahan sosial. Semakin tipisnya batas-batas negara dan semakin “dekatnya” jarak (lewat transportasi dan komunikasi canggih) memungkinkan pola dan tatanan sosial masyarakat juga menjadi berkembang. Di sini sosiologi menjadi semakin penting dan relevant untuk menjawab tantang perubahan jaman untuk kebaikan bersama.

Paradigma Sosiologi

STRUCTURAL FUNCTIONAL PARADIGM (Macro-level orientation) (Emile Durkheim; H. Spencer; Talcott Parsons; Robert.K. Merton)
IMAGE OF SOCIETY CORE QUESTION CRITICAL EVALUATION
Kerangka pikir untuk membangun teori yang memimpikan bahwa masyarakat adalah suatu sistem yang komplek yang masing-masing bagian bekerja sama untuk mengembangkan solidaritas dan stabilitas.Struktur berarti pola kehidupan sosial yang relatif stabil (seperti tubuh)Masing-masing elemen dalam masyarakat saling mendukung demi pengembangan masyarakat bersama. Bagaimana integrasi masyarakat ?Apakah yang menjadi bagian utama dari masyarakat ?Bagaimana bagian-bagian tersebut saling tergantung ?Apa konsekwensi dari ketergantungan tersebut ? Bagaimana masyarakat dapat terus-menerus saling tergantung padahal bagian-bagian dari masyarakat sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dan setiap waktu selalu berkembang.Dengan mengasumsikan selalu adanya stabilitas dan tidak ada konflik maka paradigma ini berarti bersikap konservatif.
SOCIAL-CONFLICT PARADIGM (Macro-Level Orientaion) (Karl Marx; Du Bois)
IMAGE OF SOCIETY CORE QUESTION CRITICAL EVALUATION
Kerangka pikir untukmembangun teori yang memimpikan bahwa masyarakat adalah suatu arena ketidak samaan yang mendorong konflik dan perubahan.Di sini sosiolog memandang bahwa masyarakat dalam kondisi konflik yang terus menerus antara kelas yang dominan dengan yang tidak diuntungkan.Pardigma ini menolong kita untuk melihat bagaimana ketidak samaan dan konflik berkembang  yang akarnya ada di dalam organisasi masyarakat itu sendiri. Bagaimana membagi masyarakat ?Apa yang menjadi pola utama dari ketidaksamaan masyarakat ?Bagaimana masyarakat menjaga hak-hak istimewanya ?Bagaimana kelompok masyarakat lain menantang kelomp[ok status quo ? Aspek ketidak samaan sering tidak jelas tergantung nilai yang ada.Paradigma ini tidak objektif secara keilmuan karena mengandung tujuan politik tertentuKondisi konflik yang terus menerus dalam kehidupan sehari-hari nampaknya tidak selalu terbukti.
SYMBOLIC-INTERACTION PARADIGM (Micro-Level Orientation) (Max Weber; George Herbert Mead)
IMAGE OF SOCIETY CORE QUESTION CRITICAL EVALUATION
Kerangka pikir untuk membangun teori yang memimpikan bahwa masyarakat adalah hasil suatu interaksi dari individual sehari-hari.Kalau macro-level orientation melihat semua gejala umum seperti menggambar dari helikopter, maka micro-level orientation memfokuskan diri pada interaksi sosial dari suatu situasi yang spesifik. Bagaimana pengalaman masyarakat ?Bagaimana manusia berinteraksi di dalam mengembangkan kecukupan dan pola perubahan sosial ?Bagaimana individu berusaha membentuk realitas yang dirasakan oleh individu lain ?Bagaimana tingkahlaku individual berubah dari satu situasi ke situasi lain ? Paradigma ini lebih meyakinkan bagaimana individu mengaktualisasikan pengalaman masyarakat. Walaupun demikian dengan memfokuskan pada interaksi sosial sehari-hari maka paradigma ini dapat mengaburkan gambaran struktur sosial yang lebih besar.
TIDAK ADA SATUPUN DIANTARA KETIGA PARADIGMA YANG LEBIH UNGGUL, KETIGANYA SALING MELENGKAPI. JALAN TERBAIK DALAM MELIHAT INTERAKSI SOSIAL MANUSIA ADALAH DENGAN MENGGUNAKAN KETIGA PARADIGMA TERSEBUT SEKALIGUS (Contohnya dalam hal Sport)

[1] Definisi dapat dikatakan baik atau memenuhi kaidah logika apabila memenuhi tiga kriteria yaitu: (1)  Pendek dan jelas; (2) Objek harus disebutkan; dan (3) Mengungkapkan seluruh makna yang dikandungnya.

[2] Pendekatan yang digunakan di dalam sosiografi lebih bersifat anthropologis.

Sumber: Prof. Kutut Suwondo

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*