Paradigma Teori Organisasi

Paradigma Teori organisasi

Paradigma adalah seperangkat andaian/asumsi yang tersurat maupun tersirat tentang fenomena/gejala yang menjadi landasan bagi gagasan-gagasan analisis keilmuan (Philips, 1971).

Definisi lain menyebutkan bahwa paradigma adalah kerangka keyakinan penata (ordering believe framework) yang menjadi bintang pemandu (the guiding star) yang menuntun kegiatan keilmuan masyarakat keilmuan (Wilardjo, 2000).

Konsep paradigma menjadi populer melalui karya Kuhn, The Structure of Scientific Revolution (1962).

Bagan proses perubahan keilmuan menurut Kuhn (1962):

Bagan proses perubahan keilmuan menurut Kuhn (1962)

Bagan proses perubahan keilmuan menurut Kuhn (1962)

Penjelasan bagan sebagai berikut; pada suatu masa tertentu ilmu tertentu didominasi oleh sebuah paradigma tertentu. Berdasarkan paradigma tertentu itu, terjadilah akumulasi ilmu pengetahuan dan berlangsunglah kemajuan ilmu. Tahapan ini dikenal sebagai normal science. Karya-karya tersebut di atas selain mengakumulasi ilmu pengetahuan berdasarkan paradigma yang ada, juga membuahkan penyimpangan-penyimpangan yang tak dapat dijelaskan lagi berdasarkan paradigma yang digunakan. Tahapan ini yang disebut dengan anomalies.

Kelanjutan dari keadaan anomalies adalah krisis, yaitu bila penyimpangan-penyimpangan tersebut telah memuncak. Kalau situasi seperti ini telah terjadi, maka munculah revolusi keilmuan dimana paradigma I ditinggalkan dan paradigma II digunakan sebagai landasan baru bagi gagasan ilmiah.

Idea IMG

Idea

Pemahaman tentang paradigma yang dimaksud oleh Kuhn tidaklah harus linear. Ihalauw (2000), membagi paradigma atas tiga macam:

1. Paradigma Kuhn, yaitu cara pandang baru yang amat luar biasa.

2. Paradigma yang merupakan suatu kiblat baru namun belum merupakan suatu penyimpangan dramatis dari cara-cara lampau.

3. Variasi paradigma, yaitu penyempurnaan, baik terhadap paradigma Kuhn maupun terhadap paradigma jenis kedua; merupakan penguraian lebih rinci saja dari paradigma yang sedang digunakan.

Teori adalah pendapat yang dikumpulkan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa. Teori adalah suatu set hipotesis yang saling berkaitan atau pernyataan mengenai suatu gejala atau satu set gejala (Shaw dan Constanzo, 1970). Secara deskriptif teori dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dan mendalam terhadap beberapa fenomena, dalam hal ini pemahaman tentang organisasi yang memungkinkan terciptanya manajemen organisasi yang lebih baik. Teori secara deskriptif dimaksudkan untuk memahami apa dan mengapa segala sesuatunya terjadi. Sementara secara normatif atau preskriptif menyangkut bagaimana sesuatunya harus terjadi atau apa yang dilakukan terhadap sebuah keadaan yang diidentifikasikan secara deskriptif.

Organisasi adalah hubungan pekerjaan antara manusia yang satu dengan yang lainbdalam suatu kelompok demi terwujudnya pekerjaan tersebut (Olan Hendrick, 1985). Organisasi adalah kolektivitas yang dibentuk secara sadar dengan tujuan formal yang berusaha dicapai secara bersama. Organisasi adalah kerjasama diantara manusia yang memiliki keyakinan, keterlibatan dan tujuan bersama (Barnard, 1938). Organisasi adalah sekelompok manusia yang berinteraksi … dalam kelompok yang besar mereka memiliki sistem koordinasi … spesifikasi yang jelas dalam struktur dan koordinasi (March dan Simon, 1958). Organisasi adalah unit sosial atau kelompok yang secara sadar mengkonstruksi dan merekonstruksi dalam mencapai tujuan (Etsioni, 1964).

Banyaknya definisi mungkin berhubungan dengan keragaman cara pandang dan mudanya disiplin ilmu ini. Istilah organisasi sebenarnya tidak dikenal dalam ilmu sosial pada masa lalu, dan pada umumnya juga belum dikenal pada ilmu sosial kemudian. Sosiolog besar Ferdinand Tonnies (1855 1936), di dalam bukunya yang terbit pada tahun 1888 yaitu ‘Gemeinschaft und Gesellschaft’ (Komunitas dan Masyarakat), menggolongkan bentuk-bentuk yang dikenal dari organisasi umat manusia sebagai komunitas, yang bersifat organik, dan merupakan sebuah struktur yang berada di bawah kontrol sosial yang ketat. Tonnies tidak pernah membicarakan tentang organisasi. Demikian pula para sosiolog lainnya pada awal abad kesembilan belas atau kedua puluh. Hal ini menunjukkan bahwa teori organisasi sebagai cabang ilmu-ilmu sosial merupakan sebuah cabang ilmu yang masih relatif muda.

Teori organisasi menurut Stephen P. Robbins (1994) adalah teori yang mengkaji struktur, fungsi dan performansi organisasi beserta perilaku kelompok dan individu didalamnya, dalam mencapai tujuan yang luas dan rumit. Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat di identifikasikan yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.

Definisi teori organisasi kemudian diuraikan oleh Robbins (1994) sebagai berikut:

  1. Perkataan dikoordinasikan dengan sadar mengandung pengertian manajemen. Kesatuan sosial berarti bahwa unit terdiri dari orang atau kelompok orang yang berinteraksi satu sama lain. Pola interaksi yang diikuti orang di dalam suatu organisasi tidak begitu saja timbul, melainkan telah dipikirkan terlebih dahulu. Organisasi merupakan kesatuan sosial, maka pola interaksi para anggotanya harus diseimbangkan dan diselaraskan untuk meminimalkan keberlebihan (redundancy) namun juga memastikan bahwa tugas-tugas yang kritis telah diselesaikan. Hasilnya adalah untuk mengkoordinasikan pola interaksi manusia.
  2. Sebuah organisasi mempunyai batasan yang relatif dapat diidentifikasi. Batasan dapat berubah dalam kurun waktu tertentu dan tidak selalu jelas, namun sebuah batasan yang nyata harus ada agar kita dapat membedakan antara anggota dan bukan anggota. Batasan cenderung dicapai melalui perjanjian yang eksplisit maupun implisit antara para anggota dan organisasinya. Pada kebanyakan hubungan kepegawaian, terdapat sebuah perjanjian yang implisit di mana pekerjaan itu ditukar dengan pembayaran upah. Pada organisasi sosial atau suka rela, para anggota member kontribusi dengan imbalan prestise, interaksi sosial, atau kepuasan dalam membantu orang lain. Tetapi setiap organisasi mempunyai batasan yang membedakan antara siapa yang menjadi bagian dan siapa yang tidak menjadi bagian dari organisasi tersebut.
  3. Orang-orang di dalam sebuah organisasi mempunyai suatu keterikatan yang terus menerus. Rasa keterikatan ini, tentunya bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan konstan di dalam keanggotaan mereka meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.

Organisasi itu ada untuk mencapai sesuatu. Sesuatu ini adalah tujuan, dan tujuan tersebut biasanya tidak dapat dicapai oleh individu-individu yang bekerja sendiri, atau jika mungkin, hal tersebut dicapai secara lebih efisien melalui usaha kelompok. Tidak perlu semua anggota mendukung tujuan organisasi secara penuh, namun definisi tersebut diatas menyatakan adanya kesepakatan umum mengenai misi organisasi. Robbins (1994) kemudian menjelaskan bahwa dari definisi-definisi terdahulu, tidak sulit mendeduksi arti sesuatu dengan istilah teori organisasi. Teori organisasi adalah disiplin ilmu yang mempelajari struktur dan desain organisasi. Teori organisasi menunjuk aspek-aspek deskriptif maupun preskriptif dari disiplin ilmu tersebut. Teori itu menjelaskan bagaimana organisasi sebenarnya distrukturisasi dan menawarkan tentang bagaimana organisasi dapat dikonstruksi guna meningkatkan keefektifan dan keefisienan maka dibangun disiplin ilmu yang disebut teori organisasi.

Dari batasan-batasan yang terdefinisikan tentang paradigma dan teori organisasi diatas selanjutnya penulis mencoba berselancar dan menautkan kedua konsep tersebut untuk dapat memperoleh wawasan yang lebih luas terhadap studi tentang organisasi. Jadi tulisan ini merupakan amatan atau tinjauan terhadap perkembangan paradigma yang terjadi dalam teori organisasi. Amatan yang dilakukan oleh penulis dialamatkan terhadap paradigma-paradigma yang berlaku pada teori organisasi atau dengan kata lain paradigma-paradigma teori organisasi yang diakui dan diterima sebagai sebuah teori yang ilmiah.

Keragaman Teori Organisasi

Donaldson (1995), melihat sejak sekitar awal tahun 1967 di Amerika Serikat saja berkembang begitu banyak teori organisasi, ia menyebutkan ada sekitar lima belas teori organisasi yang berkembang, antara lain Structure (Evan, 1966), Ethno-Methodology (Garvinhel, 1967), Enachment Theory (Weick, 1969), Cybernetycs (Hage, 1974), Transaction Cost Theory (Williamson, 1975), Agency Theory (Jensen dan Meckling, 1976), Population-Ecology (Hannan dan Freeman, 1977), Institutional Theory (Meyer dan Rowan, 1977, Zuckler, 1977), Marxism (Goldman dan Van Houten, 1977), Resource Dependence (Pfeffer dan Salancik, 1978), Organizational Symbolism (Smirchich, 1983), Organization Cultures (Fine, 1984), Feminism (Ferguson, 1984), Emotionalism (Sutton dan Rafaeli, 1988) dan Post-Modernism (Murphy dan Putman, 1992).

Keragaman teori organisasi diatas oleh Morgan (1986), diklasifikasikan dalam beberapa klasifikasi berbagai perspektif, antara lain:

1. Organisasi sebagai mesin: organisasi di manfaatkan oleh pemilik dan menajemen untuk mencapai tujuan pribadi mereka. Proses dalam organisasi harus teridentifikasi secara jelas, pengelolaan atau manajemen menggunakan pendekatan engineering dalam mendesain tugas dan tanggung jawab secara mekanistik dan berulang.

2. Organisasi sebagai organisme; sistem terbuka: organisasi adalah entitas yang kompleks, dimana keberadaan kelompok organisme selalu berubah dengan lingkungannya. Perubahan adalah sesuatu yang krusial untuk menopang hidup dan bentuk. Merupakan kunci hubungan antara lingkungan dan berfungsinya secara internal.

Adanya pandangan tentang organisasi sebagai organisme, memungkinkan kita secara bijak bertanya tentang: kapan organisasi itu merasa baik, dimana organisasi itu sakit, bagaimana ia harus menghadapi tantangan (failling rock), apa yang diperlukan untuk membantu memahaminya.

3. Organisasi sebagai pikiran/ide (brain): organisasi sebagai ide (brain) adalah kemampuan untuk memproses informasi (mengambilnya dari berbagai sumber) dan pembelajaran (learning), sebagai bentuk pemikiran dan kreatifitas. Data, informasi, dan ide, didesiminasikan secara luas dan diberikan/dijangkau oleh semua orang. Kedua bagian otak baik yang bersifat analistis dan emosional harus merupakan bagian dari organisasi.

4. Organisasi sebagai kultur (budaya): organisasi sebagai kultur didesain dalam arti yang mendalam agar pelaku organisasi terpenuhi kebutuhan norma, nilai, ritual, dan tradisi sebagai basis parameter desain organisasi. Hasil dari pemahaman (shared meaning) membuat pelaku organisasi memiliki komitmen dan petunjuk dalam berbagai aktivitas organisasi.

5. Organisasi sebagai sistem politik: digambarkan dalam aspek kepentingan, konflik dan kekuasaan. Pertanyaan yang harus dijawab adalah siapa pemilik kekuasaan, dimana harus terjadi aturan-aturan organisasional dimana hal ini di lakukan. Pembedaan dalam pendekatan terhadap laki-laki dan perempuan diteliti dalam lima model penanganan konflik: kompetisi, kolaborasi, kompromi, pencegahan dan pengakomodasian.

6. Organisasi sebagai tahanan/penjara fisikal (psychic prison), organisasi dalam penjara fisikal merupakan jebakan terhadap pekerja dalam cara yang berbeda:

1. Pekerja dapat terjebak oleh keyakinan dan ketidakyakinan proses mental dalam rutinitas dan tekanan organisasional.

2. Mereka dapat terjebak dalam perhitungan ekonomis.

3. Kerja kelompok telihat sebagai sebuah penjara.

7. Organisasi sebagai gerakan yang berubah-ubah (flux) dan transformasi, perubahan dipaparkan secara logis. Tiga gambaran berbeda tentang perubahan diberikan sebagai cara menjelaskan bagaimana realitas organisasi mengukuhkan dirinya. Menjelaskan bagaimana hidup organisasi dibentuk dan ditransformasikan oleh proses transformasi logis dalam diri mereka.

Ketiga gambaran tersebut adalah:

1. Pendekatan biologis: organisasi digambarkan sebagai penghasil sistem bagi dirinya.

2. Hubungan kausal yang logis, dimana logika perubahan adalah proses edaran (circular) sebagai pengaruh dari trend dan tekanan.

3. Dialektika perubahan yang logis, dimana perubahan adalah hubungan dialektika antara berbagai pihak.

8. Organisasi sebagai seperangkat instrumen dominan: organisasi digambarkan dalam bentuk dominasi eksploitasi terhadap partisipan (stakeholders) dalam mencapai tujuan mereka. Hal ini menjelaskan adanya penyeragaman dan tekanan kelompok (pressure groups) dan tekanan untuk mengendalikan organisasi lewat hukum dan aturan-aturan.

Keragaman teori organisasi diatas sebenarnya tidak masalah sebab ia memberi kasanah yang luas dalam cara memandang organisasi dan kesemuanya diakui dan diterima sebagai sebuah teori ilmiah. Donaldson (1995) mengkaji beberapa diantaranya dan menemukan kelebihan dan kelemahan masing-masing teori. Secara keselurahan masing-masing teori memiliki kontribusi tersendiri bagi pemahaman yang lebih luas tentang teori organisasi. Segelintir catatan kritis ada namun tidaklah penting untuk dibahas dalam kesempatan ini misalnya Pfeffer (1993) dalam Donaldson (1995) pada publikasi wawancaranya di Organization Management Theory Newsletter menyatakan bahwa pengembangan teori organisasi sangat bersifat ‘trendi’ semata, oleh karenanya yang dibutuhkan adalah mengurangi sifat trendi tersebut,…less caught up with fads and fashions…, ditambahkan olehnya, kita butuh untuk mengoleksi sejumlah data yang bernilai bagi sejumlah isu yang memungkinkan agenda penelitian pada teori organisasi semakin dilengkapi.

Konteks Sejarah Teori Organisasi

Penulis menyajikan latar belakang singkat konteks sejarah dimana teori organisasi sebagai sebuah cabang ilmu sosial dikembangkan. Lansink (1997) menggambarkan dan mengklasifikasikan konteks sejarah teori organisasi sejak studi organisasi awal sampai saat ini dengan determinan historis yang ditonjolkan antara lain ciri utama perkembangan lingkungan (main features), mekanisme pasar (market mechanism), penggunaan teknologi (role of technology), perkembangan lingkungan (environmental influence), aspek politik-kemasyarakatan (political, society), sifat kompetisi (competing on), pengorganisasian (organization), model teori yang dikembangkan (leading models) pada jamannya.

Periode 1750-1870

Ciri utama (main features) situasi masyarakat pada waktu itu adalah adanya revolusi industri (1st industrial revolution, role of technology, invention of steam enggine in the UK). Sebagai salah satu kejadian paling penting sebelum abad kedua puluh ini, dalam kaitannya dengan teori organisasi. Revolusi Industri dimulai pada abad kedelapan belas di Inggris, revolusi tersebut menyeberangi Samudera Atlantik dan ke Amerika pada akhir perang saudara. Revolusi tersebut mempunyai dua elemen utama di Amerika Serikat. Kekuatan mesin telah menggantikan kekuatan manusia secara cepat, dan pembangunan terusan dan rel kereta api dengan cepat mengubah metode transportasi. Hasilnya adalah menyebarnya pendirian pabrik. Pabrik-pabrik besar menggunakan kekuatan uap untuk menjalankan beratus-ratus mesin secara efesien. Barang-barang jadi kemudian dapat dikirimkan dengan murah melalui kapal atau kereta api keseluruh negara. Dampaknya terhadap desain organisasi menjadi jelas yaitu penekanan terhadap dimensi efisiensi.

Pembangunan pabrik membutuhkan penciptaan yang terus-menerus dari struktur organisasi untuk memungkinkan terjadinya proses produksi yang efisien. Pekerjaan harus dirumuskan, arus pekerjaan harus ditetapkan, departemen diciptakan, dan mekanisme koordinasi dikembangkan. Secara singkat, struktur organisasi yang kompleks harus dirancang karena pengaruh lingkungan, politik dan masyarakat. Model kepemimpinan dan bisnis administratif dikembangkan pula. Adam Smith menulis buku tentang kemakmuran negara pada tahun 1776. Buku tersebut membahas tentang keuntungan ekonomis dari pembagian kerja pada industri paku. Smith mengatakan bahwa apabila sepuluh orang pekerja masing-masing melakukan tugas spesialisasi, maka mereka dapat menghasilkan kurang lebih empat puluh delapan ribu buah paku seharinya. Namun demikian ia mengatakan jika masing-masing pekerja bekerja secara terpisah dan bebas, kesepuluh orang pekerja tersebut dapat dikatakan beruntung jika dapat membuat dua ratus atau sepuluh paku seharinya.

Smith kemudian membuat kesimpulan yang sekarang diterima oleh para manajer sebagai suatu akal sehat, yaitu pembagian kerja dapat menghasilkan efesiensi ekonomis yang mencolok. Selain Smith dan juga Marx, kontribusi yang berpengaruh pada waktu itu terhadap teori organisasi adalah pandangan Ralph C. Davis (1928), yang memperkenalkan perspektif perencanaan rasional, yang mengatakan bahwa struktur merupakan hasil logis dari tujuan-tujuan organisasi. Davis mengatakan bahwa tujuan utama sebuah perusahaan adalah pelayanan ekonomis.

Periode 1870-PD II (WW II)

Ciri utama (main features) adalah basis pengembangan produksi dengan melakukan diferensiasi tenaga kerja, mekanisasi pabrik dan penciptaan skala ekonomi (production improvement based on diferentiation of labour, mechanism and economy of scale) dengan membuat produk secara masal (mass production), spesialisasi terhadap pekerjaan juga sudah dilakukan pada waktu itu dan semakin dimanfaatkannya pemikiran rasional dari para tenaga ahli administrasi bisnis. Pengaruh lingkungan sebagai faktor yang berpengaruh menjadi pertimbangan bisnis, undang-undang dibuat dengan memperhitungkan kepentingan kemanusiaan, studi tentang organisasi berbasis pada negara, angkatan bersenjata dan gereja. Pada waktu itu Mayo melakukan pengamatan terhadap para pekerja dengan percobaan intensitas cahaya, pengaruhnya terhadap pekerja, yang ditemukan pada percobaan tersebut adalah kesimpulan tentang faktor manusia pada organisasi (human factor) dan organisasi informal yang kemudian menjadi bintang pemandu (guiding star) yang paling berpengaruh terhadap pengembangan teori organisasi neo-klasik.

Ide-ide yang menonjol tentang organisasi pada waktu itu adalah tentang struktur, hirarki, aturan dan norma-norma (Weber, dengan tipe idealnya), Max Weber menulis pada permulaan abad ini dan telah mengembangkan sebuah model struktural yang ia katakan sebagai alat yang paling efisien bagi organisasi-organisasi untuk mencapai tujuan-tujuannya. Ia menyebut struktur ideal ini sebagai birokrasi. Struktur tersebut ditandai dengan adanya pembagian kerja, sebuah hirarki wewenang yang jelas, prosedur seleksi yang formal, peraturan yang rinci, serta hubungan yang tidak didasarkan hubungan pribadi (impersonal). Gambaran Weber tentang birokrasi telah menjadi prototype rancangan bagi kebanyakan struktur organisasi yang sekarang ada. Saat itu mulai diidentifikasi pula tentang adanya kesamaan fungsi pada semua organisasi, identifikasi yang dilakukan oleh Fayol sangat berpengaruh kepada cara pandang terhadap organisasi, bahwa tujuan organisasi adalah agar tugas dapat dilaksanakan, organisasi membutuhkan sebuah struktur yang mengatur agar pekerjaan-pekerjaan sejenis seperti rekayasa, manufaktur dan penjualan dikelompokkan dalam bagian-bagian tertentu.

Setelah Perang Dunia I dan reorganisasi General Motors Company oleh Alfred Sloan dan mencapai puncaknya pada tahun 1950-an dengan didesentralisasinya American General Electric Company oleh Jack Welch, model Fayol diterapkan sebagai sebuah struktur yang disebut sebagai unit usaha. Hal ini diterima sebagai usaha untuk menyeimbangkan antara kepentingan intern untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan kepentingan ekstern dimana pasar harus dapat dilayani. Sampai saat ini ia tetap merupakan pendekatan yang diterima secara luas dan melandasi semua pembahasan tentang menyeimbangkan kompetensi inti (core competencies) dengan fokus pasar (market focus), juga karena perhatian dewasa ini adalah dengan reengineering. Cara pandang Fayol, sebetulnya sudah didahului oleh Fredrick yang Akbar raja Prusia yang mendefinisikan konsep tentara modern, dia mengatakan bahwa tentara mempunyai tiga bagian: invanteri berjalan, kaveleri menunggang, dan arteleri ditarik. Dengan kata lain definisi sebuah organisasi adalah berdasarkan perbedaan pekerjaan.

Konsep dasar ini melandasi semua organisasi militer sampai Perang Dunia I dan dapat dikatakan sebagai teori atau definisi pertama dari organisasi. Selain itu ia juga merupakan konsep yang melandasi usaha pertama untuk mendefinisikan organisasi perusahaan: yaitu teori usaha manufaktur yang dikembangkan Henry Fayol, sekitar Perang Dunia I, yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala pertambangan batu bara terbesar di Eropa. Kontribusi Fayol hanya sebatas struktur dan pasar, tetapi tidak membatasi keyakinan kita bahwa sekarang begitu banyak pendekatan yang berbeda muncul, tidak mengganti pendekatan Fayol, tetapi melengkapinya, organisasi diatas semua itu bersifat sosial yang mencerminkan nilai-nilai bukan sekedar alat, dan dengan berbagai pendekatan tentunya akan ditemukan satu organisasi yang ideal. Model bagi administrasi bisnis pada waktu itu oleh ilmuan administrasi seperti Weber (1910), Taylor, Gilbraith, serta muncul pula 14 prinsip manajemen Fayol. Fayol menganalisis kegiatan manajemen kedalam lima elemen: perencanaan, organisasi, komando (pengarahan), koordinasi dan pengendalian, kerangka kerja analisis ini kemudian dipakai dan dikembangkan oleh banyak sekali pengarang. Sementara itu Mayo (1930); memberi pemahaman awal tentang organisasi sebagai suatu kesatuan sistem, kontribusinya didasari oleh suatu riset bukan hanya pengalaman pribadi, dia mengalihkan perhatian dari masalah struktur dan pengendalian mekanis ke faktor manusia yang mempengaruhi performa organisasi industri.

Periode PD II-1960

Situasi pada waktu itu menuntut masyarakat untuk membangun kembali industri atau melakukan rebuilding terhadap industri. Industri pasca PD II berkembang pesat dari segi  kuantitatif, basis perencanaan bersifat ekspansif, didasarkan pada data pertumbuhan, mekanisme pasar pada waktu itu bercirikan adanya permintaan lebih besar dibanding  penawaran (demand > supply), adanya pasar penjual, dan rendahnya tekanan harga. Sementara industri manufaktur pada waktu itu berkembang pesat dengan dibangunnya kembali industri-industri yang melayani kebutuhan masyarakat akan barang sehingga tercipta lapangan pekerjaan baru, industri-industri berkompetisi dalam hal kapasitas produksi yang optimum.

Organisasi-organisasi memfokuskan diri pada peningkatan produktifitas lewat pembagian kerja yang baik, mekanisasi kerja, dan peningkatan skala produksi. Tokoh yang menonjol dalam menciptakan model pemikiran adalah Keynes, Simon (1940); membahas teori pengambilan keputusan (theory on decision taking), Miller (1940); dengan pendekatan sosio-teknikalnya, termasuk anggota Tavistock Institute of Relation di Inggris juga menunjukkan pentingnya perhatian akan hambatan teknologi dan kebutuhan manusia untuk memperoleh kebutuhan hubungan sosialnya ketika mendesain struktur organisasi.

Dari hasil riset mereka muncul prinsip optimalisasi gabungan sosial dan tehnik, dengan penekanan pada kebutuhan untuk mencari bentuk organisasi yang dapat memenuhi kebutuhan tehnik dan aspirasi manusia secara simultan. Pada waktu itu studi perilaku (behavioural science) mulai dikembangkan. Studi perilaku yang terkenal dilakukan oleh tiga pakar psikologi di Amerika yaitu Herzberg, McClelland dan Maslow. Herzberg terkenal dengan pembedaannya antara motivator dan apa yang disebut sebagai kesehatan kerja. Menurutnya motivator adalah pekerjaan itu sendiri, prestasi, tanggung jawab, dan pengakuan, sedangkan kesehatan adalah sesuatu yang tidak berfungsi sebagai motivator, melainkan hanya menjaga pekerja dari perasaan tidak puas. Faktor ini antara lain bayaran atau upah kerja, kondisi kerja dan hubungan dengan penyelia. Kerja Herzberg telah mendorong diadakannya eksperimen penting tentang pengayaan kerja dan meragukan efektivitas dari banyak skema insentif keuangan.

Riset McClelland menekankan pentingnya motivasi dalam performa kerja. Sedangkan kontribusi Maslow yang berpengaruh dalam pembahasan teori organisasi adalah penyusunan urutan kebutuhan manusia dalam sistem hirarki. Hirarkinya didasari oleh anggapan bahwa kebutuhan pokok seperti keinginan untuk bertahan dan rasa aman adalah dasar motivasi, sedangkan urutan kebutuhan yang lebih tinggi seperti rasa memiliki, penghargaan, prestasi dan aktualisasi diri berfungsi sebagai motivator yang semakin penting pada masyarakat maju, yaitu ketika keinginan untuk bertahan dan rasa aman tidak dipermasalahkan lagi.

Periode 1960-1970

Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan ciri utama pada periode ini, peningkatan skala produksi dengan memperhatikan tingkat pengembalian (turn-over), dan internasionalisasi organisasi, di pasar persaingan makin terasa karena konsumen dapat menyeleksi produk dengan pertimbangan keragaman harga yang ditawarkan, produsen menciptakan diferensiasi terhadap harga dalam kerangka melayani beragamnya preferensi konsumen. Teknologi yang ada pada waktu itu adalah aplikasi teknologi yang dikembangkan dalam kepentingan ekspansi produksi, sementara pengembangan teknologi baru masih sangat rendah.

Lingkungan kegiatan investasi pada waktu itu berkembang pesat, industri perbankan menjadi bagian yang semakin penting dalam dunia bisnis, yang memungkinkan terciptanya tingkat kemakmuran yang tinggi, peningkatan kualitas kerja pada organisasi mulai diperhatikan. Pada saat itu tekanan lingkungan terhadap organisasi melalui kelompok-kelompok mulai terjadi dan implikasinya perusahaan harus memperlakukan para pekerjanya dengan lebih manusiawi. Kompetisi terjadi dalam hal harga, pengendalian intern agar terjadi efisiensi melalui tindakan restrukturisasi, memindahkan tempat produksi di negara-negara yang tingkat upahnya rendah, mengurangi integrasi vertikal, meningkatkan mekanisasi, dan memperkecil range dari produk.

Organisasi pada waktu itu bertumpu pada pemisahan antara bagian lini dan staf, antara bagian operasi dan kontrol, perencana dan pelaksana, penciptaan produk yang kreasinya semakin disederhanakan. Pekerjaan dilakukan dalam tugas-tugas berulang (repetitive tasks). Kompleksitas organisasi diatur oleh prosedur yang luas atau dengan birokrasi dan struktur yang fungsional. Hal ini menunjukkan bahwa organisasi pada waktu itu dikondisikan agar lebih memperhatikan orientasi internal organisasi. namun pada saat yang sama harus mengintegrasikan secara simultan berbagai kegiatan ini kedalam satu organisasi yang koheren dan kohesif guna pengendalian dan koordinasi.

Ide-ide yang berkembang pada waktu itu menyatakan bahwa kesuksesan organisasi ditentukan oleh birokrasi yang rasional dan manajemen yang kuat. Teori ketidakpastian (contingency), dengan pemahaman akan pentingnya hasil eksternal, dikembangkan oleh Pugh, Woodward, dan Minzberg. Joan Woodward dalam studinya mengenai struktur organisasi dan tingkatan teknologi, secara meyakinkan menunjukkan bahwa tidak ada cara terbaik untuk mengorganisasi suatu bisnis dan bahwa bentuk organisasi berdasarkan prinsip klasik, yang menekankan kesatuan perintah, hirarki, dan kejelasan struktur, dalam kenyataannya jarang dipraktekkan oleh perusahaan yang sukses. Hal yang sama juga dilihat oleh Burns dan Stalker, mereka mendemonstrasikan bahwa prinsip manajemen klasik berjalan dengan baik dalam perusahan yang memiliki teknologi tinggi, mapan dan pasar yang baik, tetapi tidak cocok bagi perusahaan yang menghadapi keadaan perubahan setiap saat.

Pertimbangan efisiensi, spesialisasi, hirarki, sangat mewarnai ide-ide dalam pengembangan teori organisasi dekade ini. Selain itu, studi perilaku (behavioural science) pada organisasi juga masih dikembangkan oleh para teoritikus, dan salah satu tesis dari Duglas McGregor, menyatakan bahwa ada dua pandangan tentang manusia yaitu; pertama pada dasarnya negatif-Teori X, dan yang lainnya pada dasarnya positif-Teori Y. Implikasi dari teori McGregor terhadap teori organisasi adalah argumentasi bahwa asumsi-asumsi teori Y lebih disukai dan asumsi-asumsi itu harus dapat membimbing para manajer guna merancang organisasi mereka dan memotivasi pegawai-pegawainya.

Gairah yang besar pada permulaan tahun 1960-an bagi pengambilan keputusan partisipatif, penciptaan pekerjaan yang bertanggungjawab dan menantang para pekerja, serta pengembangan hubungan antar kelompok yang baik dapat ditelusuri dari saran McGregor agar manajer mengikuti asumsi-asumsi teori Y.

Makin tingginya tingkat persaingan internasional mendorong teoritisi menciptakan organisasi yang mampu bersaing secara global, hasil studi yang terkenal dilakukan Ansof (1965) dengan model perencanaan strategisnya (strategic planing) pada strategi bersaing secara menyeluruh sebuah perusahaan dalam sebuah industri (corporate strategy). Selain Ansof, karya klasik mengenai hubungan antara strategi organisasi dan strukturnya dibuat oleh ahli sejarah dari Harvard, Alfred Chandler yang dipublikasikan pada tahun 1960-an.

Dewasa ini, semua tulisan tentang hubungan strategi dan struktur jelas dipengaruhi penelitian Chandler. Chandler mempelajari hampir seratus perusahaan terbesar di Amerika Serikat. Setelah menelusuri perkembangan organisasi-organisasi tersebut dari tahun 1909 sampai 1959, termasuk didalamnya kasus-kasus historis yang ekstensif dari perusahaan-perusahaan seperti Du Pont, General Motors, Standart Oil Of New Jersey, dan Sears. Chandler menyimpulkan bahwa perubahan strategi mengakibatkan terjadinya perubahan dalam struktur sebuah organisasi. Seperti yang dikatakan oleh Chandler, ‘Strategi baru membutuhkan struktur yang baru atau, paling tidak struktur yang diperbaharui jika perusahaan yang makin besar tersebut harus dapat dioperasikan secara efisien…kecuali jika struktur tidak mengikuti strategi, maka akan timbul ketidakefisienan.

Penulis subyek teori organisasi yang berpengaruh pada priode 1960-1970 adalah McGregor, 1961, Chandler, 1962, Cyert dan March 1963, Agryris, 1963, Simon, 1960 dan 1964, Likert, Ansoff, 1965, Hutte, 1966, Lawrence and Lorsch, DeBono, 1967, Blake dan Mouton, 1968.

Periode 1970-1980

Masa dimana perdagangan dunia mengalami stagnasi, industri mengalami kelebihan kapasitas, hanya negara Jepang yang tampil beda dengan konsep high quality tetapi harga produknya rendah. Situasi persaingan pada waktu itu berdampak pada daur hidup produk yang semakin pendek, dibarengi dengan krisis energi karena harga minyak membubung tinggi dan berimplikasi terhadap tingkat suku bunga bank yang tinggi sehingga dunia usaha pada waktu itu melakukan restrukturisasi besar-besaran dan mengendalikan usaha mereka secara ketat. Dengan demikian pada waktu itu sumbangan dunia kepada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan mengalami penurunan.

Situasi pasar pada waktu itu sangat memprihatinkan, daya beli masyarakat mengalami penurunan. Pasar didominasi oleh pasar pembeli, tidak lagi didominasi oleh pasar penjual. Hal ini mengindikasikan berkembangnya dunia usaha tidak berkembang seperti dekade sebelumnya. Pesimisme terhadap masa depan dunia industri terjadi karena munculnya berbagai krisis, dilain pihak memunculkan kesadaran dalam masyarakat tentang penciptaan lingkungan kerja yang lebih baik agar lebih tahan terhadap hantaman krisis yang terjadi.

Isu demokrasi adalah isu yang paling menonjol dalam kehidupan bernegara, termasuk munculnya berbagai organisasi yang berbasis demokratisasi. Determinan krisis yang menonjol pada waktu itu, mendorong persaingan bertumpu pada kualitas bila tidak ingin ditinggalkan pelanggan, dan perusahaan mulai melihat peluang baru dengan kesadaran baru pula yaitu tingkat persaingan antar perusahaan yang meluas. Dengan situasi persaingan yang terjadi, kemudian berdampak padanya perubahan budaya organisasi dimana kualitas menjadi fokus perhatian organisasi, dan lebih beriorientasi kepada konsumen serta melakukan segala hal secara baik dan benar sejak awal demi menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Perusahaan-perusahaan pada umumnya melakukan koordinasi kembali antara bagian teknisi, produksi dan pemasaran sebagai subyek hangat yang dibahas dalam teori organisasi pada waktu itu. Solusi yang berkembang adalah penciptaan sistem informasi yang memungkinkan organisasi cepat melakukan evaluasi, dan terjadi komunikasi yang baik secara vertikal maupun horisontal dalam organisasi, serta memungkinkan adanya monitoring terhadap proses produksi.

Dengan demikian orientasi organisasi pada waktu itu adalah organisasi yang betul-betul fungsional dalam mencapai kinerja yang berorientasi pada mutu. Ide-ide yang berkembang sebagai konsep organisasi adalah pendekatan sistem, konsep Deming/Juran, konsep quality thinking, kedekatan hubungan antara produsen dengan para pelanggan, pentingnya komunikasi dan kerjasama, peningkatan kualitas adalah jalan untuk meningkatkan efisiensi, keberhasilan ditentukan oleh kualitas, struktur dan komponen-komponen manajemen. Ansof (1976), mengembangkan hal ini dengan melanjutkan rumusan perencanaan strategis menjadi sebuah stategi manajemen organisasi. Dengan kata lain ide-ide teknikal yang berkembang pada organisasi dekade ini adalah otomatisasi dalam kegiatan produksi dan pemasaran, penciptaan organisasi yang semakin simple, penciutan jumlah staf, memperpendek rute komunikasi, integrasi dan desentralisasi, pengembangan yang sifatnya paralel, proyek manajemen, gugus tugas, Just in Time (JIT), Manufacturing Resource Planing (MRP) Manufacturing Resource Planing II (MRP II), OPT.

Penulis subyek teori organisasi yang berpengaruh pada periode 1970-1980 adalah Redin, 1971, Hersey, 1975, Blancard,1976.

Periode 1980-1990

Kondisi dunia usaha kembali kepada keadaan yang lebih baik merupakan ciri utama periode ini. Pelanggan dapat memilih berbagai alternatif dan hal ini dilakukan secara sadar karena informasi pasar tentang spesifikasi sebuah produk sangat jelas. Sektor industri yang berkembang pesat adalah perusahaan jasa. Kontribusi industri manufaktur terhadap GNP megalami penurunan jika dibandingkan dengan sumbangan yang diberikan oleh sektor jasa.

Pasar didominasi oleh pasar pembeli yang berimplikasi kepada pelayanan konsumen dituntut adanya fleksibelitas pelayanan perusahaan. Pembeli mempunyai kebiasaan memilih sehingga model produk dan jasa yang diintrodusir ke pasar harus dibarengi dengan konsep pelayanan yang cepat, dan siklus hidup produk yang semakin diperpendek.

Manufacturing Resource Planing (MRP) adalah software manufaktur yang bermanfaat menolong manajemen menyelesaikan persoalan bisnis dalam hal penyediaan informasi tentang persediaan, material, kualitas, customer service, produktifitas, dan manajemen kas. Semakin penting untuk mengembangkan tehnologi karena situasi persaingan yang semakin ketat. Teknologi baru memberi peluang kepada produk maupun proses pembuatannya untuk bersaing. Dengan demikian investasi terhadap pengembangan teknologi dan mesin penting untuk dilakukan dalam dunia industri.

Situasi sosial pada waktu itu tidak lagi menganggap industri sebagai sebuah kejahatan, pandangan negatif mulai bergeser, industri ternyata dapat menciptakan kekayaan dan kemakmuran. Trend yang umumnya terjadi pada waktu itu adalah restrukturalisasi organisasi (organizational restructuring), kebijakan dunia industri adalah kesatuan dalam kebijakan inovasi dan pengembangan teknologi. Situasi persaingan dekade ini bertumpu pada persaingan harga, kualitas, dan kecepatan pelayanan. Konsumen mempunyai altenatif pilihan produk, oleh karenanya kecepatan dan fleksibilitas pelayanan sangat penting. Konsentrasi pada organisasi dekade ini bertumpu pada inovasi terhadap proses dan produk. Implikasinya organisasi membentuk struktur yang semakin datar (flat), mengurangi persediaan, jangka waktu proses produksi dipersingkat, pengurangan beberapa komponen produksi yang dianggap tidak perlu, dan melakukan evaluasi produk dengan cepat, serta mengurangi konsentrasi untuk proyek-proyek yang dianggap membuang waktu seperti inovasi dalam engineering dan pilot-pilot proyek, CAD/CAM.

Penulis teori organisasi periode 1980-1990 adalah Hofstede, Deming, 1980,Pascale dan Athos, De Siter, 1981, Te Hart, Petters dan Waterman, Ohmae, Ouchi, 1982, Mintsberg, 1983, Porter, Moss-Kanter, 1985 dan De Geus, 1988.

Periode 1990-Sekarang

Dekade ini ditandai dengan berkembangnya konsep IT (Information Technology), penggunaan teknologi mendominasi semua aktivitas, dan merupakan kesadaran awal akan pentingnya pengembangan teknologi. Teknologi yang bukan teknologi inti (core technology) ditransfer ke negara-negara dunia ketiga. Kegiatan pasar difokuskan untuk perdagangan barang, jasa, sumber daya manusia, dan modal. Organisasi dekade ini memandang pentingnya kerjasama antara pemasok dan pelanggan, oleh karena itu untuk mendapatkan dan mempertahankan pelanggan organisasi harus betul-betul mendesain produk secara baik sebelum dilepas ke pasaran.

Ide-ide yang berkembang pada organisasi dekade ini adalah pemikiran tentang kompetensi mendasar yang harus dimiliki organisasi, sistem manajemen yang terintegrasi, partisipasi dan demokratisasi dalam organisasi.

Masa Datang

Perkembangan masa datang sangat dipengaruhi oleh berkembangnya akumulasi perkembangan teknologi. Situasi lingkungan dan organisasi akan bergantung terhadap apa yang akan diperbuat dalam teknologi sebagai efek berkembangnya teknologi inormasi (effect of full IT implementation). Teknologi semakin disertakan pada setiap aspek kehidupan berorganisasi. Salah satu kiblat yang relefan adalah prediksi Peter Drucker mengenai masyarakat informasi yang ternyata relevan dengan konteks kini dan akan datang.

Perkembangan Paradigma Teori Organisasi

Hampir pada semua buku teks standar tentang teori organisasi dimulai dengan pengklasifikasian terhadap perkembangan paradigma teori organisasi. Hodge dan Anthony (1988, hlm. 32), mengklasifikasikan paradigma teori organisasi dalam tahap classic, behavioural, systems, dan contingency.

Tabel klasifikasi paradigma teori organisasi Hodge dan Anthony (1988):

Klasifikasi paradigma teori organisasi Hodge dan Anthony (1988)

Klasifikasi lainnya dibuat oleh Lansink (1997, hlm 68) dalam bentuk paradigma efisiensi, kualitas, fleksibilitas, dan inovasi. Paradigma efisiensi berlaku sekitar tahun 1960 dan sebelumnya, dimana birokrasi sangat dominan dalam teori organisasi. Paradigma kualitas, memasuki model pengembangan teori organisasi pada tahun 1980-an, dimana birokrasi di usahakan hilang atau organisasi non birokrasi. Model inovasi berkembang dalam paradigma teori organisasi pada tahun 1990-an. Sementara Stephen P. Robbins (1994) mengutip Richard W. Scott merangkum keseluruhan perkembangan paradigma teori organisasi dalam empat tipe yaitu yaitu: Tipe 1, Tipe 2, Tipe 3, dan Tipe 4.

 Tabel klasifikasi paradigma teori organisasi Stephen P. Robbins (1994):

Klasifikasi Paradigma Teori Organisasi Stephen P. Robbins (1994)

Klasifikasi Paradigma Teori Organisasi Stephen P. Robbins (1994)

Kemiripan dari klasifikasi yang mereka buat adalah adanya empat tahap perkembangan dimana perkembangan awal dari paradigma organisasi pada awal abad ini menganggap organisasi sebagai alat mekanis untuk mencapai tujuan, organisasi dipahami sebagai sebuah sistem tertutup. Pengembangan organisasi yang mutakhir kini memahami organisasi sebagai sebuah sistem terbuka (1960an). Menurut Robbins (1994) hasilnya adalah pemahaman bahwa struktur bukanlah hasil usaha yang rasional dari para manajer untuk menciptakan struktur yang paling efektif, tetapi merupakan hasil dari pertarungan politis di antara koalisi-koalisi di dalam organisasi untuk memperoleh kontrol. Perkembangan tahap terakhir dari semua klasifikasi diatas diidentifikasi oleh Thompson (1967) sebagai kedewasaan relatif.

Penjelasan lebih jauh mengenai perkembangan paradigma teori organisasi dalam kesempatan ini lebih banyak menggunakan sumber dan klasifikasi yang dibuat Stephen P. Robbins (1994) karena bila dibandingkan klasifikasi yang lain terlihat jelas bahwa klasifikasi yang dibuat Robbins sedikit lebih jauh perkembangannya dimana paradigma teori organisasi kini sudah sampai pada tahap paradigma kekuasaan dan  politik. Sementara klasifikasi lainnya masih sebatas paradigma desain-desain kontingensi. Klasifikasi lain hanya sedikit dimunculkan pada tulisan diatas demi sebuah pembanding bahwasannya tahap kontingensi dan tahap politis merupakan dua kondisi yang teraktual dari perkembangan paradigma teori organisasi.

Alur perkembangan paradigma teori organisasi dengan klasifikasi yang dibuat oleh Stephen P. Robbins (1994) diurai sebagai berikut:

Tipe 1 (1900-1930). Perkembangan paradigma teori organisasi pada tahap ini adalah paradigma efisiensi dan merupakan pendekatan-pendekatan awal terhadap teori organisasi. Organisasi dipandang sebagai alat mekanis untuk mencapai tujuan. Perhatian para ahli dipusatkan pada terciptanya efisiensi dalam fungsi-fungsi intern organisasi.

Tipe 2 (1930-1960). Perkembangan paradigma teori organisasi pada tahap ini memandang organisasi beroperasi dibawah asumsi sistem tertutup namun menekankan hubungan informal dan motivasi-motivasi non ekonomis yang beroperasi dalam organisasi. Organisasi tidak bekerja dengan mulus dan bukan merupakan mesin yang bekerja secara sempurna. Manajemen dapat merancang hubungan dan peraturan yang normal dan sebagainya, namun diciptakan juga pola hubungan, status norma, dan persahabatan informal yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan sosial para anggota.

Tipe 3 (1960-1975). Perkembangan paradigma teori organisasi pada tahap ini memfokuskan diri terhadap pencapaian sasaran dan aspek teknologi serta ketidakpastian lingkungan sebagai variabel-variabel kontingensi akan membantu pencapaian tujuan organisasi. Sebaliknya penerapan struktur yang salah akan mengancam kelangsungan hidup organisasi.

Tipe 4 (1975-?). Perkembangan paradigma teori organisasi pada tahap ini berfokus pada perspektif sosial dalam kerangka kerja sistem terbuka. Hasilnya adalah pandangan bahwa struktur bukanlah merupakan usaha yang rasional dari para manajer untuk menciptakan struktur yang paling efektif, tetapi merupakan hasil dari suatu pertarungan politis di antara koalisi-koalisi di dalam organisasi untuk mendapatkan kontrol terhadap organisasi.

Kontribusi Teoritikus Terhadap Paradigma Teori Organisasi

Teoritikus Tipe 1

Para teoritikus Tipe 1, dikenal juga sebagai aliran klasik, megembangkan prinsip atau model universal yang dapat digunakan pada semua keadaan. Para teoritikus aliran klasik melihat organisasi sebagai sistem tertutup yang diciptakan untuk mencapai tujuan dengan efisien. Tokoh teori organisasi Tipe 1 antara lain: Frederick Taylor, Henry Fayol, Max Weber, dan Ralph Davis.

Frederick Taylor dan Scientific Management

Fredrick Winslow Taylor dilahirkan di Germantown sekarang merupakan bagian dari Philadelpia pada tahun 1856. Ia bekerja pada perusahaan baja Midvale Steel Company, sebagai pekerja biasa kemudian kariernya terus meningkat sebagai mandor hingga menjadi chief-enggineer, dalam usia 28 tahun. Selain karier kerja yang baik, ia juga berhasil dalam studinya. Ia memperoleh gelar doktoral lewat studi lanjut di Stevens Institute of Technology.

Karyanya yang berpengaruh adalah The Principles of Scientific Management, ditulis pada tahun 1911. Diterbitkannya karya Frederick Taylor menandai awal penciptaan sebuah teori yang serius di bidang manajemen dan organisasi. Buku ini ditulis atas dasar filososfi Taylor tentang efisiensi, usaha manusia, pelatihan dan sistem. Masalah utama yang dibahas dalam buku ini adalah tentang terjadinya ketidakefisienan dalam kerja dan Taylor berusaha mencari jawaban mengapa hal ini bisa terjadi. Sejak masih menjabat sebagai penyelia di Midvale, Taylor mulai menunjukkan sikap anti terhadap pemborosan dan ketidakefisienan. Ia memperhatikan bahwa faktor utama yang menghambat produktivitas adalah metode kerja yang buruk serta kecenderungan pekerja untuk bekerja secara lamban. Mereka dengan sengaja memperlambat tempo kerja karena takut kehilangan pekerjaan bila semua diselesaikan dengan cepat. Manajemen tidak menyadari hal tersebut, karena mereka tidak pernah berusaha menganalisis cara kerja karyawannya dan tidak berusaha tahu berapa banyak yang harus dihasilkan oleh setiap pekerja.

Menurut Taylor, pada hematnya ada beberapa hal yang mesti dikoreksi, antara lain; kesalahan keyakinan tentang efisiensi, sistem manajemen dan kesalahan metode. Sumbangan pemikirannya membuat ia dijuluki sebagai Bapak Ilmu Manajemen. Sumbangan pemikirannya yang orisinil tersebut memberi pengetahuan kepada teori manajemen tentang pengetahuan bagi pekerja, metode-metode melakukan pekerjaan, dan juga tentang terbatasnya sistem insentif dalam mencapai efektifitas. Dalam prinsipprinsip ilmu manajemen yang ditulisnya, ia meyakini bahwa efisiensi dapat dicapai melalui pengurangan biaya dan harga, pemberian insentif yang tepat, dimana majikan dan pekerja merasa sama-sama diuntungkan, dan penciptaan nilai lebih terhadap produk.

Dasar dan konsekwensi dari prinsip efisiensi harus didahului dengan adanya revolusi mental dan hubungan yang baik diantara majikan dan pekerja, mereka harus sama-sama merasa diuntungkan. Prinsip yang diurai oleh Taylor adalah pencarian (gathering) pengetahuan, seleksi secara alamiah, pembagian kerja (division of work), pengembangan pekerja secara ilmiah (bringing together of science and workmen).

Henry Fayol dan Prinsip-Prinsip Organisasi

Pada saat Taylor menuliskan hasil penelitiannya tentang manajemen pabrik di Amerika Serikat, Henry Fayol, orang Perancis mengkonsolidasikan prinsip-prinsip organisasinya. Meskipun mereka menulis pada waktu bersamaan namun fokus keduanya berbeda. Ide-ide Taylor didasarkan atas penelitian ilmiah, sedangkan Fayol menulis atas dasar pengalamannya bertahun-tahun sebagai seorang praktisi eksekutif. Henry Fayol lahir pada tahun 1841, ia menjadi seorang insinyur profesional pada tahun1860 kemudian menjabat sebagai Managing Director dalam usia muda pada tahun 1888. Setelah 20 tahun duduk dalam jabatan tersebut, ia berhenti dan pada masa istrahatnya ia masih membuka pusat studi administrasi dan berusaha untuk meyakinkan pemerintah Perancis agar mengadopsi prinsipnya. Fayol mencoba mengembangkan prinsip-prinsip umum yang dapat diaplikasikan pada semua manajer dari semua tingkatan organisasi, dan menjelaskan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seorang manajer. Sedangkan Taylor memusatkan perhatian pada tingkat-tingkat yang paling rendah dari organisasi dan manajemen.

Karya-karyanya yang menonjol adalah tentang manajemen industri dan umum, dan prinsip-prinsip umum manajemen. Karya manajemen industri dan umum merupakan buku yang dipublikasi pada tahun 1929 dan karya ini baru dipublikasi di Amerika Serikat pada tahun 1949. Buku ini merupakan upaya pencarian Fayol terhadap bentuk teori manajemen. Ada empat hal yang dibahas pada buku yaitu: pertama, kebutuhan dan kemungkinan tentang pengajaran manajemen, kedua, prinsip dan elemen manajemen, planing, organizing, controling, commando, coordination, ketiga, observasi dan pengalaman pribadinya, keempat, pelajaran tentang perang. Sedangkan buku tentang prinsip umum manajemen berisi 14 prinsip sebagai aturan yang fundamen, pilihan yang strategis, menekankan pada proses adaptasi, pentingnya elemen manusia, dan kaya dengan ide-ide modern.

Empat belas prinsip sebagai aturan yang fundamen disebutkan oleh Fayol sebagai berikut: 1. Pembagian kerja dan spesialisasi, 2. Kekuasaan yang seimbang dengan tanggung jawab, 3. Displin, 4. Kesatuan komando, 5. Kesatuan arah, 6. Subordinasi kepentingan umum dan kepentingan pribadi, 7. Keseimbangan antara imbalan dengan upaya 8. Sentralisasi, 9. Hirarki prinsip dan kesatuan lini, 10. Prinsip urutan (satu tempat bagi setiap orang dan setiap orang pada tempatnya), 11. Kewajaran/keadilan, 12. Stabilitas masa jabatan personal, 13. Pentingnya inisiatif, 14. Pentingnya semangat korps. Rumusan-rumusan diatas didasarkan oleh pengalaman beliau bekerja selama 20 tahun sebagai sebagai Managing Director.

Max Weber dan Birokrasi

Kontribusi utama yang ketiga yang dibuat oleh para teoritikus Tipe 1 adalah struktur organisasi “tipe ideal” yang diusulkan oleh ahli sosiologi Jerman, Max Weber. Weber menulis pada permulaan abad ini dan telah membangun model bagi penciptaan struktur-struktur organisasi yang menurutnya dapat menjadi alat yang paling efisien bagi organisasi untuk mencapai tujuannya. Struktur yang ideal ini ia sebut organisasi rasional. Organisasi rasional ini kemudian dikenal sebagai birokrasi. Weber sendiri tidak pernah menggunakan kata birokrasi dalam menjelaskan konsep organisasi rasional-nya. Birokrasi dicirikan oleh pembagian pekerjaan yang jelas, hirarki kewenangan yang jelas, adanya prosedur seleksi formal dalam rekrutmen, peraturan organisasi yang rinci, serta pengembangan hubungan tidak didasarkan atas hubungan pribadi (impersonal). Gambaran Weber adalah model organisasi yang kini menjadi prototype bagi kebanyakan struktur organisasi yang sekarang ada.

Ralph Davis dan Perencanaan Rasional

Kontribusi terakhir dari para teoritikus Tipe 1 adalah Ralph Davis yang menawarkan perspektif perencanaan rasional. Perencanaan rasional memandang struktur organisasi sebagai produk logis dari tujuan organisasi. Struktur organisasi dibentuk berdasarkan tujuan organisasi, bukan sebaliknya. Struktur organisasi harus mampu menyesuaikan diri dengan tujuan organisasi. Davis menyatakan bahwa tujuan utama perusahan adalah pelayanan ekonomi. Nilai ekonomi ini dihasilkan lewat keterlibatan anggota organisasi dalam menciptakan produk atau jasa organisasi. Kegiatan ini kemudian menghubungkan antara tujuan organisasi dengan hasil pencapaiannya. Davis kemudian berkesimpulan bahwa struktur organisasi bergantung pada tujuan-tujuan organisasi.

Perspektif perencanaan rasional menawarkan sebuah model yang sederhana dan berdampak langsung bagi desain organisasi. Perencanaan manajemen menentukan tujuan organisasi. Tujuan ini kemudian menentukan pengembangan struktur organisasi, arus kewenangan, dan hubungan-hubungan lainnya.

Teoritukus Tipe 2

Tema umum di anatara para teoritikus Tipe 2 adalah pengakuan mengenai sifat sosial dari organisasi. Teoritikus-teoritikus tersebut yang seringkali disebut sebagai yang membentuk aliran hubungan antar manusia (human relation school), memandang organisasi sebagai sesuatu yang terdiri dari tugas-tugas maupun manusia. Para teoritikus Tipe 2 mewakili pandangan dari sisi manusianya dibandingkan sisi mesin pandangan teoritikus Tipe 1. Tokoh teori organisasi Tipe 2 antara lain: Elton Mayo, Chester Barnard, Douglas McGregor, Warren Bennis.

Elton Mayo dan Kajian Hawthorne

Tahap kedua dari teori organisasi kontemporer dimulai dengan sejumlah percobaan yang dilakukan Western Electric Company Hawthorne Works di Cicero, Illinois, Amerika Serikat adalah lokasi riset (penelitian) para insinyur perusahaan yang dilakukan antara tahun 1924 dan 1927. Kajian Hawthorne bermaksud menguji dampak aneka tingkat pemberian pengarahan ataclassic, behavioural, systems, s produktivitas para pekerja. Dua jenis kelompok dibentuk: Satu kelompok diberi muatan pengarahan yang beragam, kelompok lainnya hanya diberi muatan pengarahan yang tetap. Ternyata, tingkat produktivitas adalah sama di kedua kelompok. Mereka menyimpulkan bahwa intensitas pengarahan tidak berhubungan dengan produktivitas pekerja. Namun, mereka tidak mampu menjelaskan mengapa fenomena tersebut dapat terjadi.

Para insinyur Western Electrik kemudian menghubungi ahli psikologi dari Harvard,  Elton Mayo beserta kawan-kawannya untuk terlibat. Pada tahun 1927 mereka meminta Mayo ikut serta dalam penelitian selaku konsultan. Hubungan ini terus berlangsung hingga 1932 dan telah mengadakan serangkaian eksperimen yang meliputi desain ulang pekerjaan, perubahan lama kerja per hari dan minggu, pengenalan cuti, dan rencana upah individu dan kelompok. Pada akhirnya para peneliti tersebut menyimpulkan bahwa ternyata norma kelompok merupakan kunci penentu perilaku kerja seseorang.

Pada umumnya para ahli manajemen sepakat bahwa kajian Hawthorne memberi dampak besar atas arah teori manajemen dan organisasi. Kajian tersebut  menghantarkan kita ke era humanisme organisasi. Dalam melihat masalah rancangan organisasi, para manajer tidak lagi melakukan desain organisasi tanpa mempertimbangkan dampak atas kelompok pekerja, sikap pekerja, dan hubungan manajemen dan pegawai.

Chester Bernard dan Sistem Kerja Sama

Chester Bernard mempersatukan pandangan Taylor, Fayol, Weber, dan hasil kajian Hawthorne membawa kita kepada kesimpulan bahwa organisasi adalah suatu sistem kerjasama. Organisasi terdiri atas hubungan antara tugas dan manusia yang keseimbangannya harus dipelihara. Jika perhatian hanya diberikan pekerjaan teknis atau hanya pada manusia atau pegawai yang mengerjakan pekerjaan, maka sistem kerjasama akan mengalami degradasi. Sebab itu, manajer harus melakukan pengorganisasian di sekitar pekerjaan yang harus dilakukan sambil memperhatikan kebutuhan pegawai yang mengerjakannya.

Gagasan bahwa sebuah organisasi adalah sebuah sistem kerjasama pada umumnya bisa dikatakan berasal dari Chester Barnard. Ide-idenya muncul dalam karyanya The Functions of the Executive, yang ia buat berdasarkan pengalamannya di perusahaan publik American Telephone and Telegraph, termasuk kedudukannya sebagai presiden New Jersey Bell.

Selain termasuk orang yang paling awal memandang organisasi sebagai sebuah sistem. Barnard juga menawarkan sebuah pandangan penting lainnya. Ia menantang pandangan klasik yang menyatakan bahwa wewenang harus didefinisikan sesuai dengan tanggapan dari bawahan; ia memperkenalkan peran dari organisasi informal dalam teori organisasi;  dan ia juga mengusulkan agar peran utama manajer adalah memperlancar komunikasi dan mendorong para bawahan untuk berusaha lebih keras.

Douglas McGregor dan Teori X-Teori Y

Salah satu kontribusi yang paling banyak disebut dari para teoritikus Tipe 2 adalah tesis Douglas McGregor yang menyatakan bahwa ada dua pandangan tentang manusia: yang pertama dasarnya negatif – Teori X – dan yang lainnya pada dasarnya positif – Teori Y. Teori X dan Teori Y yang ia ajukan dalam memandang manusia (pegawai). Setelah meninjau bagaimana manajer berhubungan dengan pegawai, McGregor menyimpulkan bahwa pandangan manajer seputar sifat manusia didasarkan pada kelompok asumsi tertentu dan ia cenderung memperlakukan pegawai berdasarkan asumsi-asumsi tersebut. Asumsi ini dapat bersifat negatif (Teori X) atau positif (Teori Y).

Di bawah Teori X ada empat asumsi yang dianut oleh para manajer:

  1. Pegawai tidak menyukai pekerjaannya dan sebisa mungkin akan berupaya menghindarinya.
  2. Karena pegawai tidak menyukai pekerjaannya, mereka harus diberi sikap keras, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman agar mau melakukan pekerjaan.
  3. Pegawai akan mengelakkan tanggung jawab dan mencari aturan-aturan organisasi yang membenarkan penghindaran tanggung jawab tersebut.
  4. Kebanyakan pegawai menempatkan rasa aman di atas faktor lain yang berhubungan dengan pekerjaan dan hanya akan memperlihatkan sedikit ambisi.

Kebalikan dari pandangan yang negatif terhadap manusia, McGregor menempatkan empat asumsi lain yang disebut Teori Y:

  1. Para pegawai  dapat memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang biasa sebagaimana halnya istirahat dan bermain.
  2. Manusia dapat mengendalikan dirinya sendiri jika mereka punya komitmen pada tujuan-tujuan.
  3. Rata-rata orang dapat belajar untuk menyetujui, bahkan untuk memikul tanggung jawab.
  4. Kreativitas – yaitu kemampuan mencari keputusan yang terbaik – secara luas tersebar di populasi pekerja dan bukan hanya mereka yang . menduduki fungsi manajerial.

Implikasi dari Teori X dan Teori Y McGregor terhadap organisasi adalah bahwa asumsi-asumsi Teori Y lebih dapat diterima dan dapat menuntun manajer dalam mendesain organisasi dan memotivasi para pegawai. Tahun 1960-an antusiasme pekerja cukup tinggi untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan organisasi, penciptaan tanggung jawab dan tantangan pekerjaan, termasuk pembangunan hubungan kelompok-kelompok kerja yang lebih baik. Antusiasme ini, sebagian besar, diakibatkan oleh Teori Y dari McGregor.

Warren Bennis dan Matinya Birokrasi

Tema humanistik yang kuat dari para Teoretikus Tipe 2 mencapai puncaknya dengan sebuah pidato tentang matinya birokrasi. Warren Bennis misalnya mengatakan bahwa pengambilan keputusan pada birokrasi yang disentralisasi, kepatuhan pada wewenang, serta pembagian kerja yang sempit dalam birokrasi harus digantikan dengan strukturi organisasi yang lebih terdesentralisasi dan pengambilan keputusan yang lebih demokratis di sekitar kelompok yang fleksibel. Pengaruh yang didasarkan atas kekuasaan mulai diganti dengan pengaruh yang berasal dari keahlian. Seperti juga Weber yang berargumentasi bahwa birokrasi itu adalah organisasi yang ideal, maka Warren Bennis menyatakan yang sebaliknya – kondisi saat ini menunjukkan bahwa bentuk organisasi yang ideal adalah adhocracy yang fleksibel. Dalam kurun waktu lima tahun kita telah bergerak dari satu posisi ektrem ke posisi ekstrem lainnya.

Teoretikus Tipe 3

Baik pandangan mekanistik (Tipe 1) ataupun humanistik (Tipe 2) mampu menyediakan jawaban atas masalah organisasi yang ada. Sintesa antara Tipe 1 dan Tipe 2 mendorong munculnya teoritikus Tipe 3 yang memberi pedoman lebih baik bagi para manajer organisasi. Sintesis tersebut adalah pendekatan contingency. Tokoh teori organisasi Tipe 3 antara lain: Herbert Simon, Katz dan Kahn serta Kelompok Aston.

Herbert Simon dan Serangan Terhadap Prinsip-Prinsip Klasik

Gerakan contingency mencapai puncaknya di tahun 1960-an; tetapi Herbert Simon sudah menyadarinya sejak tahun 1940-an bahwa prinsip-prinsip Tipe 1 harus mengalah terhadap pendekatan contingency. Simon mencatat bahwa kebanyakan dari prinsip klasik tidak lebih daripada pepatah saja dan banyak di antaranya saling bertentangan. Ia menyatakan bahwa teori organisasi perlu melebihi prinsip-prinsip yang dangkal dan terlalu disederhanakan bagi suatu kajian mengenai kondisi yang dibawahnya dapat diterapkan prinsip yang saling bersaing. Namun demikian, tahun 1950 dan 1960-an cenderung masih didominasi oleh prinsip-prinsip yang – baik dalam keragaman mekanistik maupun humanistiknya. Diperlukan kurang lebih duapuluh tahun bagi para teoritikus organisasi untuk memberikan tanggapan yang efektif terhadap tantangan Simon.

Katz dan Kahn dan Perspektif Lingkungan

Buku Daniel Katz dan Robert Kahn, The Social Psychology of Organizations, menjadi pendorong yang penting bagi pengenalan perspektif sistem terbuka Tipe 3 terhadap teori organisasi. Buku mereka memberikan deskripsi yang meyakinkan tentang keunggulan-keunggulan perspektif sistem terbuka dalam menelaah pentingnya hubungan antara organisasi dengan lingkungan tempat mereka beroperasi. Buku tersebut juga menyebutkan jika ingin bertahan hidup, maka suatu organisasi harus selalu mampu berdaptasi dengan lingkungan yang berubah.

Sejak terbitnya karya Katz and Kahn, sejumlah teoretikus menyelidiki hubungan antara struktur-lingkungan organisasi. Berbagai jenis lingkungan telah diidentifikasi, dan banyak penelitian telah diadakan guna mengevaluasi struktur mana yang lebih cocok dengan keragaman lingkungan. Pada saat ini tidak ada diskusi mengenai organisasi yang dapat dikatakan lengkap tanpa adanya penelitian yang mendalam mengenai lingkungan sebagai sebuah faktor contingency utama yang mempengaruhi bentuk struktur yang diinginkan.

Joan Woodward dan Charles Perrow dan Kasus Teknologi

Penelitian pada tahun 1960-an oleh Joan Woodward dan Charles Perrow, demikian juga kerangka kerja konseptual yang disampaikan oleh James Thompson, telah memberi alasan yang kuat mengenai pentingnya teknologi dalam menentukan struktur yang sesuai bagi sebuah organisasi. Seperti halnya dengan lingkungan, tidak ada diskusi pada masa kini mengenai organisasi yang dapat dikatakan lengkap tanpa memperhitungkan teknologi dan kebutuhan bagi para manajer untuk memadukan struktur dengan teknologi.

Kelompok Aston dan Besaran Organisasi

Selain para pendukung lingkungan dan teknologi, para teoritikus Tipe 3 mencakup mereka yang mendukung besaran (size) organisasi sebagai sebuah faktor penting yang mempengaruhi struktur. Posisi ini dipertahankan dengan gigih oleh para peneliti yang mempunyai hubungan dengan Universitas Aston di Inggris. Oranisasi besar telah terbukti mempunyai banyak kesamaan komponen struktural. Demikian juga halnya dengan organisasi kecil. Mungkin yang paling penting adalah bukti menunjukkan bahwa beberapa hal dari komponen tersebut mengikuti sebuah pola tertentu pada saat organisasi berkembang besarannya. Bukti tersebut ternyata berguna bagi para manajer untuk membantu mereka membuat keputusan desain organisasi bersamaan dengan bertumbuhnya organisasi.

Teoretikus Tipe 4

Penjelasan paling mutakhir mengenai teori organisasi memusatkan perhatian pada sifat politis dari organisasi. Tokoh teori organisasi Tipe 4 antara lain: James March dan Herbert Simon, Jeffrey Pfeffer.

March dan Simon dan Batas-batas Kognitif Terhadap Rasionalitas

March dan Simon menentang gagasan klasik mengenai keputusan rasional dan optimum. Mereka berargumentasi bahwa mayoritas pengambil keputusan memilih alternatif yang memuaskan – alternative yang cukup baik. Hanya pada kasus-kasus yang luar biasa mereka akan mencari dan menyeleksi alternatif yang optimal.

March dan Simon menganjurkan agar model teori organisasi diubah – model yang sangat berbeda dengan pandangan organisasi sebagai sistem kerjasama yang rasional. Model yang diperbaiki ini mengakui keterbatasan rasionalitas pengambil keputusan serta mengenai keberadaan tujuan yang saling bertentangan.

Jeffrey Pfeffer dan Organisasi sebagai Arena Politik

Berdasarkan karya March dan Simon, Jeffrey Pfeffer menciptakan suatu model teori organisasi yang memuat koalisi kekuasaan, konflik-konflik inherent pencapaian tujuan organisasi, dan keputusan-keputusan yang diambil seputar bagaimana mendesain organisasi yang mendukung kepentingan pribadi dari mereka yang berkuasa. Pfeffer mengusulkan agar kendali di dalam organisasi menjadi tujuan ketimbang hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan yang rasional, seperti produksi output yang efisien.

Organisasi adalah koalisi yang terdiri atas individu yang punya tuntutan berbeda serta aneka kelompok yang saling bersaing. Desain organisasi tidak lain merupakan hasil dari perjuangan kekuasaan yang dilakukan oleh koalisi-koalisi yang berbeda tujuan ini. Pfeffer mengatakan bahwa jika kita hendak memahami mengapa dan bagaimana organisasi didesain, kita perlu mengkaji pilihan-pilihan dan kepentingan-kepentingan dari mereka yang punya pengaruh atas pembuatan keputusan di dalam organisasi. Pandangan ini sekarang sedang digemari.

Kesimpulan

Teori organisasi modern dimulai dengan karya para teoritikus Tipe 1. Mereka sangat menggantungkan diri pada prinsip-prinsip yang simplistik dan universal dan mengembangkan paradigma organisasi yang terlalu rasional dan mekanistis. Para teoritikus Tipe 2 sampai pada tingkat tertentu, mewakili pandangan tandingan terhadap pandangan rasional-mekanistis tersebut. Fokus kemudian menjauh dari pembagian kerja dan kekuasaan yang disentralisasi ke arah organisasi yang lebih demokratis. Faktor manusiawi yang cenderung diperlakukan sebagai sesuatu yang “biasa” dapat diramalkan oleh para teoritikus Tipe 1, menjadi yang paling utama, sebagai inti dari teori organisasi pada tahun-tahun 1930 dan 1960.

Keadaan organisasi dewasa ini lebih mencerminkan kontribusi para teoritikus Tipe 3 dan 4. Para pendukung pandangan contingency mengambil alih pandangan yang diberikan oleh para teoritikus sebelumnya dan menyusunnya kembali ke dalam konteks situasional. Pandangan contingency selalu menggarisbawahi penegasan bahwa tidak ada “cara” yang terbaik, telah membuat langkah yang cukup berarti dalam mengidentfikasi variabel-variabel contingency yang paling penting untuk menentukan struktur yang tepat. Perspektif politik yang diambil oleh para teoritikus Tipe 4, yang membangun atas dasar pengeahuan kita tentang pengambilan keputusan berdasarkan perilaku dan ilmu politik, telah meningkatkan kemampuan kita dengan cukup berarti untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terlewatkan oleh asumsi rasional para pendukung contingency.

Penutup

Berbagai teori telah diperkenalkan, dievaluasi, dan diperbaiki dari waktu ke waktu; pandangan-pandangan baru cenderung mencerminkan keterbatasan paradigma teori terdahulu. Jadi jika ingin memahami apa yang tengah berlangsung sekarang ini pada teori organisasi, kita perlu melihat ke belakang di sepanjang alur tempat teori itu berasal.

Dalam paradigma teori organisasi masing-masing paradigma teori organisasi memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri pada elemen mereka. Pada dasarnya hal ini terjadi karena manusia memiliki keterbatasan secara kognitif yang menyebabkan setiap pilihan-pilihan teoritis tidak selalu mengarahkan setiap tindakan dalam organisasi. Determinan pada organisasi yang menentukan sebenarnya bukan hanya teori organisasi itu sendiri melainkan determinan manusia sebagai pelaku dan pemimpin organisasi yang juga turut menentukan, yang mampu membawa nilai-nilai organisasi melampaui nilai-nilai sebuah komunitas. Hal ini disimpulkan dengan baik oleh Bennis dan Mische (1996), sebagai berikut;

…menguji rimba dunia ke-tiga atau budaya perusahaan dan karakteristik tertentu adalah sungguh-sungguh serupa. Masing-masing memiliki pemimpin, pahlawan, cerita ritual, upacara dan benda-benda bersejarah. Masing-masing memiliki pola perilaku yang mendarah daging yang mempengaruhi cara segala sesuatunya dilakukan. Rekayasa ulang memberikan reaksi atas perubahan psikologis yang mendalam. Ini dimulai dengan visi yang berani, yang secara gagah berani dikejar. Visi ini menghasilkan perilaku baru, yang pada akhirnya melahirkan para pemimpin dan pahlawan serta kisah-kisah dan akhirnya budaya baru… (hlm. 154).

Harus ada pahlawan-pahlawan pada organisasi yang mampu membawa organisasi melampaui komunitas, ketika organisasi berbenturan dengan nilai-nilai dalam komunitas. Fungsi pengetahuan hanyalah sebagai sarana untuk mencapai tujuan manusia agar ia dapat hidup nyaman (optimismenya Francis Bacon). Demikianlah upaya-upaya keilmuan yang telah dilakukan dalam masyarakat keilmuan.

Sumber:

-          Donaldson, Lex American Anti-Management Theories of Organization, A Critique of Paradigm Proliferation, 1995, Cambridge, University Press.

-          Robbins, Stephen P. Teori Organisasi, Struktur, Desain dan Aplikasi, edisi 3, 1994, Penerbit Arcan.

-          Ihalauw, John J.O.I. Bangunan Teori, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, 2000.

-          Hodge, B. J, Anthony, William. P dan Gales, Lawrence M. Organization Theory, A Strategic Approach, edisi XI, Prentice Hall, 1997.

-          Warren, Bennis dan Mische, Michael. Organisasi Abad 21, Reinventing Malalui Reengineering, PT Pustaka Binaman Presindo, 1996.

-          Lansink, Herbert. Future Thrust to Global Competitivesness, Published in Collaboration the TSM Bussiness School,1997.

Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Tagged with: , , , , , , , , , ,
Posted in Teori Organisasi
Popular Post