Anthony Giddens: The Third Way

Anthony Giddens IMG
Anthony Giddens

Anthony Giddens menerbitkan buku The Third Way (Jalan Ketiga) dengan maksud memberikan jalan keluar yang rasional dan beretika di dalam mengatasi kegagalan pembangunan di banyak negara. Pokok utama pemikiran “Jalan Ketiga” adalah dikembangkannya konsep Politik Demokrasi Sosial yang sebenarnya sudah lama dikenal namun dengan sejumlah perubahan yang disesuaikan dengan kondisi lokal yang ada.  Di dalam hal ini Giddens lebih mendasarkan uraian-uraiannya pada kondisi lokal Britania.

“Jalan ketiga” pada dasarnya adalah merujuk pada kerangka pemikiran dan pembuatan kebijakan yang mencoba mengadaptasikan demokrasi sosial dalam sebuah dunia yang fundamental telah berubah. Bagi Giddens “Jalan Ketiga” bukanlah sekedar “jalan tengah” yang diantara model pembangunan yang berpola sosialis (negara sebagai pusat peran) atau kapitalis (pasar bebas), namun merupakan tawaran model pembangunan yang tersendiri yang menyeleksi aspek-aspek yang tepat baik dari konsep “kiri” (intervensi negara) maupun dari konsep “kanan” (pasar bebas). Walaupun begitu apa yang diuraikan oleh Giddens sepertinya tidak tuntas dan tidak terlalu jelas tentang tawaran yang dia kemukakan. Di dalam hal ini pihak manapun dapat membuat pilihan sendiri diantara pilihan-pilihan positif yang ada.

Lebih dari itu, ketidak jelasan “jalan” yang ditawarkan oleh Giddens ini menjadi lebih kabur lagi apabila kita mencoba memahami setiap aspek yang dia uraian secara panjang lebar namun terasa berbelit-belit dan tidak menunjukkan arah uraian yang terstruktur secara sistematis. Bagi Giddens model pembangunan pada awalnya (menurut sejarah) dapat digolongkan menjadi dua “jalan utama” yang saling bertentangan yaitu (1) Demokrasi Sosial Klasik (Kiri Lama); dan (2) Neoliberalisme (Kanan Baru). “Kedua jalan” tersebut secara singklat dapat diskemakan seperti terurai dibawah ini.

Ciri Demokrasi Sosial Klasik (Kiri Lama)

Paling tidak ada sembilan ciri demokrasi sosial klasik yaitu: (a). Besarnya keterlibatan negara di dalam kehidupan sosial dan ekonomi; (b). Adanya dominasi negara terhadap civil society; (c). Kolektivitas; (d). Manajemen permintaan Keynesian dan korporatisme; (e). Peran pasar yang dibatasi; (f). Pemaksimalan pemberdayaan SDM; (g). Egalitarianisme yang kuat; (h). Negara kesejahteraan yang aktif secara luas melindungi rakyatnya; dan (i). Internasionalisme.

Ciri Neoliberalisme (Kanan Baru)

Sembilan ciri neoliberalisme yang dikemukakan Giddens adalah: (a). Peran negara yang minimal; (b). Civil society yang berkembang (otonom); (c). Fundamentalisme pasa (bebas); (d). Individualisme; (e). Kemudahan pasar tenaga kerja; (f). Penerimaan Pluralitas; (g). Nasionalisme tradisional; (h). Negara kesejahteraan hanya sebagai jaring pengaman; (i) Teori realis tentang tatanan internasional

Yang menarik adalah bahwa walaupun kedua model tersebut mempunyai perbedaan yang mendasar namun kedua-duanya mempunyai kesamaan ciri yaitu (1) Rendahnya kesadaran terhadap ekologi (kerusakana lingkungan) dan (2) pandangan terhadap modernisasi yang dianggap linear.

“Kedua jalan” tersebut akan selalu menghadapi permasalahan besar yang merupakan dilema yang biasanya dihadapi. Adapun kelima dilema yang akan marak pada akhir-akhir ini adalah:

(1). Globalisasi: Suatu rentangan proses yang kompleks yang digerakkan oleh berbagai pengaruh politis dan ekonomi. Globalisasi bukan hanya menyangkut permasalahan ketergantungan namun juga menyangkut transformasi waktu dan ruang dalam kehidupan kita.

(2). Individualisme: Suatu sikap hidup yang menjauh dari pola komunalisme dan merupaskan ancaman bagi solidarotas. Permasalahannya apakah masyarakat modern menjadi semakin individual dan apakah memang berdampak negatif.

(3). Kiri dan Kanan: Pada akhir-akhir ini perbedaan pemahaman antara kiri dan kanan semakin kabur dan kedua-duanya nampaknya tidak dapat secara terpisah mengatasi permasalahan yang ada. Kedua-duanya nampaknya harus berani melampaui batas-batasnya.

(4). Subyek pelaku politik: Siapa yang menjadi pelaku politik utama dan bagaimana perannya merupakan suatu permasalahan yang juga sulit untuk dipecahkan dipandang dari dua jalan yang terpisah tersebut. Bagaimana peran pemerintah, partai-partai politik, dan pelaku politik lain (NGO) di dalam era globalisasi sekarang, tentu harus mengalami perkembangan.

(5). Isu Lingkungan: Perusakan lingkungan merupakan isu yang tidak diperhatikan oleh kedua jalan diatas di dalam melaksanakan pembangunan. Konsep pembangunan yang berwawaskan lingkungan akan menjadi perdebatan di kedua jalam diatas.

“Jalan Ketiga” Sebagai Alternatif

Kelima dilema yang pada akhir-akhir ini selalu muncul dipermukaan memungkinkan adanya kesulitan di dalam memilih jalan mana yang akan digunakan. “Kedua jalan” diatas selalu memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing sesuai dengan hakekat jalan tersebut. Oleh sebab itu Giddens menawarkan “jalan ketiga” yang walaupun belum merupakan strategi yang pasti benar dan baik, namun paloing tidak akan menambah wawasan tentang wacana teori pembangunan yang ada.

Bagi Giddens Politik “jalan ketiga” harus mempertahankan inti keperdulian pada keadilan sosial dan sekaligus mengakui bahwa rentang masalah yang lepas dari sekedar perbedaan antara kiri dan kanan justru lebih luas dari sebelumnya. Politik “jalan ketiga” juga bermakna mencari hubungan baru antara individual dengan komunitas. “Jalan ketiga” juga tidak dapat ditafsirkan sebagai sekedar pilihan antara sosialisme atau kapitalisme, antara intervensi negara atau passar bebas, namun merupakan jalan keluar untuk menemukan alternatif di dalam menghadapi dilema yang ada (seperti dilema antara resiko yang besar dengan jaminan keselamatan, dan dilema-dilema yang lain).

Nilai-Nilai “Jalan Ketiga”.

Secara singkat nilai-nilai dari “jalan ketiga” yang dibayangkan oleh Giddens adalah: (1). Persamaan; (2). Perlindungan terhadap yang lemah; (3). Kebebasan sebagai otonomi; (4). Tak ada hak tanpa tanggungjawab (individualisme di dalam komunitas); (5). Tak ada otoritas tanpa demokrasi (civil society); (6). Pluralitas kosmopolitan; dan (7). Konservatisme filosofis.

Program “Jalan Ketiga”

Berdasar nilai “jalan ketiga” tersebut maka sejumlah program “jalan ketiga” yang masih dalam proses pembentukan (sebagian masih menjadi wacana) diantaranya adalah: (1). Pusat yang radikal; (2). Negara demokratis yang baru; (3). Civil society yang aktif; (4).Keluarga demokratis; (5) Ekonomi campuran; (6). Kesamaan sebagai inklusi; (7). Kesejahteraan positif; (8) Negara berininvestasi sosial; (9) Bangsa kosmopolitan; (10) Demokrasi kosmopolitan.

Kesepuluh program “Jalan ketiga” tersebut nampaknya mencakup banyak bidang dan merupakan alternatif yang lebih jauh dari yang ditawarkan dari “dua jalan” yang pertama. Beberapa nilai yang nampaknya memperoleh penekanan adalah:

(1). Proses Pendemokratisasian demokrasi: Disini pendemokratisasian tidak hanya menyangkut keluarga dan negara namun menyangkut sistem itu sendiri. Menyangkut peran negara maka negara harus: (a) Merespon globalisasi secara struktural; (b) memperluas ruang publik agar ada rational discourse yang lebih luas; (c) Meningkatkan persahabatan (tanpa musuh) dan efisiensi administrasi; dan (d) Memperluas demokratisasai.

(2). Pengembangan civil society: Di dalam hal ini maka yang harus dilaksanakan adalah: (a). Mengembangkan perluasan dan perlindungan ruang publik yang bebas; (b). Dikembangkannya rational discourse antara negara dan masyarakat; (c) Pelibatan partisipasi publik; (d).pencegahan kejahatan dengan basis komunitas; (e) Pendemokratisasian keluarga.

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Anthony_Giddens

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*