Harold Garfinkel: Ethnometodology

Harold Garfinkel IMG
Harold Garfinkel
Harold Garfinkel IMG
Harold Garfinkel

Harold Garfinkel (29 Oktober 1917 – April 21, 2011) adalah seorang Profesor Emeritus di University of California, Los Angeles. Dia dikenal karena membangun dan mengembangkan teori ini. Dalam bukunya Studies in Ethnomethodology (1984), untuk pertama kali di tahun 1967, sebuah pendekatan baru yang berbeda dari pendekatan sosiologi biasa.

Studies in Ethnomethodology terbit pada priode revolusi ilmu-ilmu sosial yang ‘kacau’, dan selama waktu-waktu itu, dominasi paradigma fungsional-struktural Parsons yang menjadi standar sosiologi sebelumnya masih berdiri tegak.

Konsekuensi yang tidak menyenangkan adalah ethnometodologi di pahami sebagai “metode tanpa substansi”(Coser: 1975) Lewis Coser, sebagai Ketua Perhimpunan Sosiologi Amerika sampai menuduh etnometodologi mirip sebagai sebuah sekte daripada ranah ilmiah.. Namun Garfinkel, sudah mendeklarasikan sebelumnya kalau dari istilah `ethnometodologi` inilah akan tersusun sebuah prinsip yang akan membentuk jalan hidupnya sendiri.

Perkembangan etnometodologi sebenarnya relatif baru bila dibandingkan dengan pendekatan struktural fungsional dan interaksionis-simbolis yang sudah mapan. Pendekatan etnometodologi memiliki ragam yang berbeda, karena subject matternya adalah berbagai jenis perilaku dalam kehidupan sehari-hari sehingga banyak muncul kajian lanjutan sesuai dengan disiplin ilmu tertentu. Etnometodologi dengan analisis percakapannya tidak dapat dipungkiri juga memberi pengaruh yang besar dalam agenda penelitian komunikasi. Khususnya menyangkut konsep percakapan sebagai suatu bentuk interaksi.

Orang sering mengira etnometodologi adalah suatu metodologi baru dari etnologi, sering juga dipertukarkan dengan etnografi. Etnometodologi yang diperkenalkan oleh Harold Garfinkel adalah suatu ranah ilmiah yang unik, sekaligus radikal dalam kajian ilmu sosial. Dikatakan radikal karena dikenal keras dalam mengkritik cara-cara yang dilakukan para sosiolog sebelumnya.

Garfinkel sepanjang hayatnya memfokuskan mengenai permasalahan-permasalahan konseptual yang menjadi topik utama sosiologi, isu ini ialah mengenai tindakan sosial, hakekat intersubjektivitas dan pembentukkan pengetahuan secara sosial. Grafinkel mengeksplorasi bidang ini melalui sifat-sifat dasar dan penalaran praktis. Studi ini di maksudkan untuk memisahkan antara teori tindakan dari kesibukan tradisionalyang bergulat dengan masalah motivasi.

Garfinkel lalu menyimpulkan bahwa jikalau tindakan—tindakan sosial sehari-hari dibangun di atas premis rasionaliitas ilmiah, maka hasilnya bukan sebuah aktivitas melainkan ketidak aktifan, disorganisasi dan anomi (inactivity, disorganization and anomie). Dengan usulan yang terakhir ini Garfinkel menetapkan sebuah wilayah baru bagi kajian sosial;  studi tentang sifat-sifat penalaran akal-sehat praktis dalam situasi tindakan sehari-hari. Usulan ini mengandung penolakan penggunaan rasionalitas ilmiah sebagai  titik sentral perbandingan untuk menganalisis penalaran sehari-hari.

Studi ini mendorong analis untuk memperkirakan semua komitmen apapun kepada versi tertentu struktus-struktur sosial sebelumnya (termasuk versi yang di pegang analis dan pertisipan sendiri) untuk mendukung penyelidikan tentang bagaimana petisipan menciptakan, merangkai, memproduksi dan memproduksi struktur-struktur sosial yang didalamnya mereka berorientasi. Ini disebut Ethnometodological indifference (Garfinkel dan Sack:1970). Jadi di lapisan dasarnya studi ini adalah studi tentang penalaran praktis dan tindakan praktis, menahan diri untuk tidak melakukan penilaian yang berefek mendukung atau menolak hal tersebut.

Sasaran Ethnometodologi adalah deskripsi mendetail tentang praktek-praktek sosial yang terorganisasikan secara alamiah, seperti observasi-observasi di dalam ilmu alam, bias di reproduksi, diperiksa, dievaluasi dan membentuk dasar bagi studi dan penyimpulan yang  alamiah.

Pada tataran teoretis, Harold Garfinkel di tahun 1940 telah menolak pemikiran Emile Durkheim tentang fakta sosial, baginya “aktor-sosial” bersifat menentukan dan tidak pernah dibatasi oleh struktur dan pranata sosial. Dalam pemikiran etnometodologi, para sosiolog yang menitikberatkan pada fakta sosial itu disebut sebagai “kesepakatan si-dungu” (judgment-dopes), sebab kalangan etnometodologi melihat fakta sosial sebagai prestasi anggota, sebagai produk aktivitas metodologi anggota, bersifat lokal dan dihasilkan secara endogenous untuk mengatasi masalahnya sendiri (George Ritzer 1996, Denzin 1994).

Perspektif yang mengilhami Etnometodologi

Etnometodologi adalah karya-karya Talcot Parson dan Alfred Schutz. Sumber lain yang mempengaruhi karyanya adalah Durkheim, Weber, Mannheim, Edmun Husserl, Aaron Gurwitsch, Maurice Merleau-Ponty dan lain-lain. Talcot Parson sendiri adalah promotor Garfinkel ketika melanjutkan pendidikan doktornya pada tahun 1946 sampai dengan 1952 di Universitas Harvard.

Walaupun Garfinkel telah mengakui adanya pengaruh dari para pemikir lain, tetapi terbukti bahwa Schutz dengan fenomenologinya merupakan sumber utama dari etnometodologi. Wajarlah jika. George Ritzer (1975) melihat fenomenologi dan etnometodologi sebagai dua komponen teoritis dari “paradigma definisi sosial” ; Monica Morris (1977) melihatnya sebagai dua variasi dari apa yang disebutnya “sosiologi kreatif”; Jack Douglas (1980) dan Andrew Weigert (1981) memasukkan mereka sebagai “sosiologi kehidupan sehari-hari; dan Richard Hilbert (1986) melihatnya sebagai variasi “konstruksi sosial” (George Ritzer 1992).

Bagi Schutz, dunia sehari-hari merupakan dunia intersubjektif yang dimiliki bersama orang lain dengan siapa kita berinteraksi. Di sini terlihat teori Schutz, sangat mirip dengan interaksionis simbolis dari George Herbert Mead, tetapi menurut Schutz dunia intersubyektif terdiri dari realitas-realitas yang sangat berganda, yang mana realitas sehari-hari tampil sebagai realitas yang utama. Schutz memberikan perhatiannya kepada dunia sehari-hari yang merupakan common sense atau diambil begitu saja. Realitas seperti inilah yang kita terima, dengan mengenyampingkan setiap keraguan.

Realitas common-sense dan eksistensi sehari-hari itu dapat disebut sebagai kepentingan praktis kita dalam dunia sosial. Kepentingan praktis ini dilawankan dengan kepentingan ilmiah atau teoretis kaum ilmiawan. Teori ilmiah mencoba meneliti dan memahami dunia secara sistematis. Menurut Schutz, orang bergerak bukan berdasarkan teori ilmiah, tetapi oleh kepentingan praktis. Dunia intersubjektif ini sama-sama dimiliki dengan orang lain yang juga mengalaminya.

Pembahasan realitas common sense oleh Schutz ini memberi Garfinkel suatu perspektif untuk melaksanakan studi etnometodologinya, dan menyediakan dasar teoretis bagi risalah-risalah etnometodologis yang lain. Etnometodologi secara empiris telah mencoba menunjukkan observasi filosofis yang dilakukan Schutz.

Sumber lain dari etnometodologi.adalah interaksi simbolik khususnya “Aliran Sosiologi Chicago” merupakan asalnya, dan Robert Park, Ernest Burges dan William I. Thomas merupakan tokoh-tokoh utama aliran tersebut. Etnometodologi bersama dengan perspektif labeling theory dalam studi tentang penyimpangan perilaku (deviance) dan perspektif dramaturgis dari Erving Goffman, bahkan dapat dianggap varian-varian interaksionisme simbolik (Deddy Mulyana 2001).

Etnometodologi mempunyai sejumlah persamaan dengan pendekatan ini, karena sama-sama berpandangan bahwa realitas dunia sosial bersifat subjektif. (Poloma 2003). Selain itu dalam interaksi tatapmuka (face to face) kesamaan (commonalities), termasuk sebagai inti analisa, menekankan pentingnya bahasa, dan mencoba menjelaskan realitas empiris dari manusia yang sedang diteliti.
Keotentikkan pengetahuan sosiologi, menurut para interaksionis, terletak di dalam pengalaman langsung dari interaksi sehari-hari. Para aktor memainkan peran kreatif dalam mengkonstruksi kehidupan sehari-hari mereka.

Tokoh dan Aliran yang Mengilhami Etnometodologi

Aliran Chicago I:
– William Thomas 1863-1944)
– Robert E. Park (1864-1944)
Aliran Chicago II:
– E. Hughes 1897-1983)
– Herbert Blumer (1901-1987)
Interaksionisme Simbolik:
– Howard S. Becker (1928)
– Anselm Strauss (1916-1998)
– Erving Goffman (1922-1982)
George H. Mead
(1863-1931)
Etnometodologi:
– Garfinkel (1917)
– A. Cicourel
Fenomenologis:
Alfred Shutz
(1899-1959)
Analisis Percakapan:
Harvey Sacks
Max Weber
( 1864-1920)
Talcott Parsons
(1902- )

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

2 Comments

1 Trackback / Pingback

  1. Perilaku Organsasi #1: | intanpertiwiblog

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*