Francesco Alberoni: Menyelidiki Sexualitas Pria dan Wanita

Francesco Alberoni IMG
Francesco Alberoni
Francesco Alberoni IMG
Francesco Alberoni

Francesco Alberoni adalah seorang sosiolog dengan ciri khusus sehingga hanya sedikit koleganya yang mengenalinya sebagai bagian dari kelompok mereka. Ia mengajar sosiologi di Milan dan membangun kariernya dengan mempelajari pergerakan kolektif dari institusi-institusi, sekalipun demikian publik mengenalinya lewat beberapa kronik yang membahas nafsu/keinginan/sexualitas manusia dan dipublikasikan dalam La Republica serta Corriere della Sera.

Dalam buku-bukunya yang terbit berturut-turut yaitu Le Choc amoureux (Goncangan Cinta), L’Amitie (Persahabatan), L’Erotisme (Erotisme), Vie publique et vie privee (Kehidupan untuk publik dan Kehidupan Pribadi), Francesco Alberoni tanpa jemu-jemu melanjutkan proyek yang sama yaitu menyingkapkan sifat dasar sentiment-sentimen yang mempertautkan dua mahluk bersama-sama, mendeskripsikan nafsu/keinginan dan menganalisis mekanisme ketergantungan terhadap cinta. Keinginan untuk menyelidiki jiwa menusia lebih mendekatkan Francesco Alberoni pada Proust dibanding kepada Durkheim atau Weber yang disebut-sebut sebagai bapak-bapak sosiologi! “Tujuan saya bukan untuk menggambarkan dunia (manusia) namun lebih untuk memberi suatu instrumen introspeksi dan mengenali diri yang memandu mereka untuk melihat hal-hal internal, bukan eksternal”.

F. Alberoni berusaha menelaah logika itu sendiri dan emosi-emosi khusus yang terkait dengan setiap hubungan. Dengan demikian erotisme maskulin lebih cenderung bersifat sexual dan menaklukan. Ia hanya bertujuan satu hal yaitu memiliki seorang wanita yang telanjang dan pasrah. Majalah kaum lelaki yaitu Playboy atau Phenthouse manjadi bukti kejayaan fanatisme ini. Sedangkan erotisme wanita tidak demikian halnya. Perempuan lebih tertarik dengan kekuatan dan kekuasaan kaum lelaki. Ketelanjangan lelaki kurang begitu mempesonanya dibandingkan baju seragam (uniforme) yang dikenakannya. Erotisme lelaki cenderung menuju ke sex dan orgasme, sementara sexualitas perempuan lebih bersifat global dan situasional. Majalah-majalah wanita sebagian besar halamannya berisi tentang resep kecantikan, krim dan parfum, sebab sensibilitas feminim memang lebih tactile (diraba) dan sensitif terhadap belaian/sentuhan. Disisi lain rayuan dan nafsu memegang porsi lebih pada diri perempuan dibandingkan persetubuhan. Pornografi menjadi imajinasi lelaki sedangkan godaan dimiliki perempuan.

Apakah ini psikologi secara singkat dan mulai diberlakukan? Buku-buku karya  Francesco Alberoni memang seringkali menyukai hal itu. Bagaimanapun juga tujuannya mengundang kita untuk sekonyong-konyong menampilkan daya pendorong dan motif yang menggerakkan hubungan cinta dibalik perilaku keseharian kita.

Sumber: Sosiologi, Philippe Cabin dan Jean Francois Dortier, ed.

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*