Filsafat Ilmu (bagian III): Metafisika Ilmu

Metafisika IMG
Metafisika
Metafisika IMG
Metafisika

Metafisika[1] adalah cabang filsafat yang mempelajari struktur dan konstitusi terakhir dari realitas. Di dalamnya dipelajari kategori-kategori dasar dari apa yang ada, realitas di balik penampilan, yang nyata dari apa tampak nyata.[2] Pertanyaan-pertanyaan dasar yang digumuli di sini adalah apa ini, mengapa ini dan bagaimana kita bisa memahaminya.[3] Metafisika ilmu dengan demikian memfokuskan perhatiannya pada struktur dan hal-hal yang terkandung di dalam apa yang disebut orang ilmu.

a. Sebab-Akibat

Banyak persoalan filosofis dibicarakan oleh metafisika ilmu. Namun dari semuanya itu, sebab-akibat adalah pangkal persoalan. Artinya, banyak persoalan metafiska ilmu berpusar pada soal ini. Tentang hal ini, David Hume, salah seorang pertama yang merumuskan persoalan ini, berpendapat bahwa soal sebab-akibat sebenarnya hanyalah soal konjungsi konstan (constant conjunction). Maksudnya, suatu peristiwa menyebabkan peristiwa lain jika dan hanya jika kejadian-kejadian yang masuk dalam tipe pertama itu secara teratur terjadi bersamaan dengan kejadian-kejadian yang masuk ke dalam tipe kedua.

Formulasi Hume di atas problematik karena memunculkan sejumlah pertanyaan. Pertama, timbul masalah bagaimana membedakan hukum-hukum sebab-akibat (causal laws) yang sejati dari sekedar keteraturan yang tidak disengaja (accidental regularities). Sebab tidak semua keteraturan bisa dipandang menyerupai hukum yang melandasi hubungan-hubungan sebab-akibat. Yang kedua, gagasan mengenai konjungsi konstan tidak memberi orang suatu arah kepada soal sebab-akibat ini. Sebab-sebab perlu dibedakan dari akibat-akibat. Namun sekedar tahu bahwa kejadian-kejadian tipe A secara konstan terjadi bersamaan dengan kejadian-kejadian tipe B tidak lantas memberitahu kita yang mana dari A dan B yang merupakan sebab dan yang mana merupakan akibat. Selanjutnya, yang ketiga, ada pula persoalan lain yang dinamakan sebab-akibat yang mungkin (probabilistic cause). Tatkala kita berpendapat bahwa sebab-sebab dan akibat-akibat terus-menerus bersamaan, apakah yang kita pahami adalah akibat-akibat selalu ditemukan bersama dengan sebab-sebab, atau apakah cukup bahwa sebab-sebab menjadikan akibat-akibat yang dimaksud mungkin terjadi?

Kesulitan-kesulitan di atas menyebabkan banyak filsuf di masa lalu lebih senang berbicara tentang penjelasan (explanation) daripada sebab-akibat. Menurut model penjelasan hukum yang menaungi (the covering-law model of explanation), sesuatu dijelaskan jika ia bisa dideduksikan dari premis-premis yang memasukkan satu atau lebih hukum. Menjauhkan diri dari model sebab-akibat, di sini suatu kejadian tertentu dapat dijelaskan jika ia dikaitkan dengan suatu hukum untuk suatu kejadian tertentu lain. Walau kelihatannya bisa keluar dari persoalan, pengamatan yang lebih dalam memperlihatkan bahwa model ini sebenarnya tidak lebih dari sekedar varian konjungsi konstan milik Hume di atas. Kenapa? Karena iapun menghadapi kesulitan-kesulitan yang secara hakiki sama seperti yang dihadapi argumen Hume. Pertama, dengan mengacu kepada deduksi dari hukum-hukum, ia perlu menjelaskan perbedaan di antara hukum-hukum sejati dan keteraturan-keteraturan benar yang kebetulan. Kedua, ia menghapuskan pentingnya arah, yakni ia tidak memberitahu kita mengapa kita seharusnya tidak menjelaskan sebab-sebab oleh akibat-akibat maupun akibat-akibat oleh sebab-sebab. Terakhir, yang ketiga, apakah hukum-hukum yang diacu untuk penjelasan harus tanpa pengecualian (exceptionless) dan deterministik, atau apakah dapat diterima, misalnya, mengacu kepada fakta yang sekedar bersifat mungkin (probabilistik) yang berkata bahwa merokok menyebabkan kanker untuk menjelaskan mengapa beberapa orang tertentu terkena penyakit kanker?

Untuk memahami kesulitan-kesulitan ini ada baiknya model penjelasan hukum yang menaungi ini diteliti terlebih dahulu. Menurut model ini, satu pernyataan (the explanandum) dijelaskan oleh pernyataan-pernyataan lain (the explanans) jika dan hanya jika pernyataan-pernyataan yang menjelaskan itu (the explanans) mengandung satu atau lebih hukum, dan yang dijelaskan (the explanandum) dapat dideduksikan (disimpulkan) dari yang menjelaskannya. Model ini mengimplikasikan adanya hubungan simetri di antara penjelasan dan prediksi. Informasi yang cukup untuk menjelaskan suatu kejadian yang diketahui seharusnya juga memampukan orang memprediksikan (meramalkan) kejadian itu bahkan sekalipun orang belum tahu tentang kejadian itu. Implikasi simetris inilah yang dipandang oleh banyak pengkritik sebagai kelemahan model ini. Sebab tanpa informasi yang cukup sekalipun orang tetap bisa meramalkan suatu kejadian, dan karena itu model ini dipandang tidak menambah apa-apa kepada model Hume sebelumnya.

Namun filsuf-filsuf lain coba memodifikasi model ini. Di sini ditegaskan bahwa untuk mendapatkan penjelasan yang memuaskan orang pertama-tama perlu mengakui bahwa penjelasan-penjelasan untuk kejadian-kejadian tertentu harus menyebutkan sebab-sebabnya, dan dengan ini mengembangkan analisis sebab-akibat kongjungsi konstan.

b. Hukum-Hukum dan Kebetulan-Kebetulan

Dua strategi umum yang dipakai untuk membedakan hukum dari generalisasi-generalisasi yang kebetulan benar adalah, pertama, dengan berpijak pada gagasan Hume tentang konjungsi-konjungsi konstan dan kemudian menjelaskan mengapa konjungsi konstan tertentu lebih baik daripada yang lain. Strategi kedua, yang berlawanan dari yang pertama, menolak proposisi Hume dan mempostulatkan suatu hubungan “yang harus”, semacam “semen” yang menghubungkan kejadian-kejadian yang dihubungkan oleh hukum, tetapi bukan kejadian-kejadian yang secara kebetulan terjadi bersamaan.

Strategi pertama memiliki banyak sekali variasi. Salah satunya—dan ini yang paling sukses—yang awalnya digagas oleh F.R. Ramsey (1903-1930) dan kemudian dimunculkan kembali oleh David Lewis (1973), berpendapat bahwa hukum-hukum merupakan generalisasi yang bisa dicocokkan ke dalam suatu sistem pengetahuan ideal. Di sini hukum-hukum dipahami sebagai pola-pola yang dapat dijelaskan dalam pengertian ilmu dasar (basic science), yakni entah sebagai prinsip-prinsip fundamental itu sendiri atau sebagai konsekuensi-konsekuensi dari prinsip-prinsip itu, sedangkan kebetulan, meski benar, tidak punya penjelasan semacam itu. Misalnya, “Semua air pada tekanan standar akan mendidih pada suhu 1000C adalah sebuah konsekuensi dari hukum-hukum yang mengatur ikatan molekul; tetapi semua baut yang ada di meja saya terbuat dari tembaga bukanlah bagian dari struktur deduktif yang memiliki penjelasan yang memuaskan!”

Pendukung strategi non-Humean mengajukan keberatan dengan berkata bahwa perbedaan di antara hukum-hukum dan kebetulan-kebetulan bukanlah soal linguistik sistematisasi deduktif, tetapi soal perbedaan metafisik di antara jenis kaitan-kaitan yang dilaporkan. Menurut mereka ada kaitan antara berada pada suhu 100 derajat dan mendidih, tetapi tidak ada di antara berada di atas meja saya dan terbuat dari tembaga. Dengan demikian, hal yang peling membedakan hukum-hukum dari kebetulan-kebetulan adalah bahwa hukum-hukum melaporkan hubungan-hubungan alamiah yang perlu, sementara kebetulan-kebetulan hanya melaporkan dua tipe kejadian yang terjadi bersamaan.[4]

c. Arah Sebab-Akibat

Bagi Hume, kejadian yang lebih awal selalu sebab dan yang kemudian adalah akibat. Tetapi ada beberapa keberatan atas pernyataan yang memakai panah waktu untuk menganalisis panah sebab-akibat. Secara prinsip memang mungkin bahwa beberapa sebab dan akibat dapat terjadi secara simultan. Namun gagasan bahwa waktu bergerak dari awal ke akhir itu sendiri butuh penjelasan filosofis—dan salah satu yang paling populer adalah gagasan bahwa ide ‘gerakan’ dari awal ke akhir tergantung pada fakta bahwa pasangan sebab-akibat selalu memiliki orientasi dalam waktu. Tetapi jika teori sebab-akibat yang mengikuti panah waktu ini diterima dan karena itu yang awal menjadi sebab dan yang akhir sebagai akibat maka orang benar-benar membutuhkan suatu penjelasan tentang arah sebab-akibat yang sendirinya tidak mengasumsikan waktu.

Beberapa orang telah menawarkan penjelasan-penjelasan itu. David Lewis, misalnya, berpendapat bahwa asimetri sebab-akibat turun dari suatu asimetry atas determinasi yang berlebihan (asymmetry of over determination). Ada dua macam determinasi yang berlebihan di sini, yaitu, pertama, determinasi yang berlebihan atas kejadian-kejadian masa kini oleh kejadian-kejadian di masa lalu. Ini jarang terjadi. Yang lebih banyak terjadi adalah macam yang kedua, yakni determinasi yang berlebihan dari kejadian-kejadian masa kini oleh kejadian-kejadian di masa yang akan datang.

Cara Lewis menghubungkan asimetri determinasi yang berlebihan dengan asimetri sebab-akibat adalah sbb.: Bila sebab dari suatu akibat telah tiada, implikasinya akibat semestinya juga tiada karena tidak ada sebab-sebab lain yang tertinggal untuk “memperbaiki” akibatnya. Sebaliknya, bila akibat dari suatu sebab sudah tiada maka hal itu tidak serta merta berarti sebabnya juga sudah hilang, karena tetap ada jejak-jejak lain untuk “memperbaiki” sebab itu. Menurut Lewis, hal-hal ini saja sudah cukup untuk menunjukkan mengapa sebab-sebab berbeda dari akibat-akibat.

Mengikuti Lewis, filsuf lain berpendapat bahwa perbedaan sebab-sebab dari akibat-akibat umumnya adalah secara kemungkinan independen satu sama lain, sementara perbedaan akibat-akibat dari suatu sebab-sebab umumnya adalah secara kemungkinan berkorelasi. Misalnya, kegemukan dan kegembiraan yang meluap (high excitement) dapat menyebabkan serangan jantung, namun ini tidak lalu berarti orang gemuk lebih mudah meluap gembira daripada orang kurus; di pihak lain, fakta bahwa baik kanker paru-paru maupun jari-jari yang ternodai nikotin dapat berasal dari merokok tidak lantas berarti bahwa kanker paru-paru lebih mungkin dijumpai pada orang-orang dengan jari-jari yang ternodai nikotin. Jadi ini membedakan sebab-sebab dari akibat-akibat dengan menunjuk kepada fakta bahwa contoh pertama, bukan yang terakhir, yang secara kemungkinan bergantung satu sama lain.

d. Sebab-Akibat Probabilistik

Kesepakatan umum yang dipegang para filsuf sebelumnya adalah bahwa dunia secara fundamental menyesuaikan diri dengan hukum-hukum deterministik, dan bahwa ketergantungan-ketergantungan yang mungkin (probabilistik) di antara tipe-tipe kejadian, misalnya antara merokok dan kanker paru-paru, sekedar mencerminkan ketidaktahuan kita tentang sebab-sebab sepenuhnya. Namun, munculnya mekanika kuantum telah menyakinkan hampir semua filsuf bahwa determinisme keliru, dan bahwa beberapa kejadian, seperti luruhnya sebuah atom radium, terjadi semata-mata karena soal kesempatan (chance). Sebuah atom radium dapat meluruh tetapi di kejadian yang lain atom yang persis sama di dalam kesempatan yang persis sama bisa tidak meluruh.

Karena hal tersebut maka sejumlah besar filsuf ilmu lantas membuat model sebab-akibat yang hanya mensyaratkan bahwa sebab-sebab memungkinkan terjadinya, bukan menentukan (determine), akibat-akibatnya. Model paling awal adalah versi ‘induktif-statistik’ dari model penjelasan hukum yang menaungi (the covering-law model of explanation). Tidak seperti penjelasan ‘deduktif-nomologis’ deterministik, penjelasan induktif-statistik hanya mensyaratkan bahwa kondisi-kondisi sebelumnya dan hukum-hukum mengimplikasikan suatu kemungkinan yang tinggi untuk menjelaskan suatu kejadian, bukan bahwa kejadiannya sendiri akan pasti terjadi. Namun penjelasan ini dipandang terlalu kuat menekankan sisi kemungkinannya. Karena itu, model terakhir mensyaratkan bahwa sebab-sebab harus menambah kemungkinan akibat-akibatnya, bukan bahwa mereka harus memberikan akibat-akibatnya suatu kemungkinan yang tinggi.

Model ini perlu menjaga diri dari kemungkinan bahwa asosiasi yang mungkin di antara sebab yang diduga dan akibat yang diduga dapat menjadi sesuatu yang palsu. Kesulitan ini bisa diselesaikan bila orang sepakat bahwa orang memiliki suatu hubungan sebab-akibat di antara A dan B jika dan hanya jika A memperbesar kemungkinan B, dan asosiasi ini bukan karena suatu sebab umum C. Tetapi dengan menambahkan sebab umum dalam menjelaskan sebab mengakibatkan penjelasan ini malah menjadi analisis sebab-akibat yang tidak lengkap.

Masalahnya sebenarnya bisa selesai bila orang dapat menganalisis sebab umum dalam pengertian probabilistik. Tampaknya sudah menjadi suatu tanda dari sebab-sebab umum bahwa mereka secara probabilistik menghalangi asosiasi-asosiasi di antara akibat-akibat bersama (joint effects), dalam artian bahwa jika orang memperhatikan kasus-kasus di mana sebab-sebab umum hadir dan di mana ia tidak hadir secara terpisah, maka asosiasi-asosiasi di antara akibat-akibat bersama akan lenyap. Misalnya, bila dijumpai tekanan atmosfir sudah turun maka angka barometer yang turun tidak membuatnya jadi lebih mungkin hujan. Serupa dengan itu, jika tekanan atmosfir belum turun, suatu pembacaan yang keliru pada barometer bukanlah indikator yang mungkin dari hujan yang akan datang.

d. Probabilitas

Perhatian kepada sebab-akibat yang mungkin kemudian melahirkan minat kepada filsafat probabilitas (kemungkinan). Apakah sebenarnya ‘probabilitas’ dari suatu kejadian? Sebagian jawaban dan yang tidak kontroversial mengatakan bahwa probabilitas adalah kuantitas-kuantitas yang memuaskan aksioma-aksioma kalkulus probabilitas. Namun jawaban ini menyisakan banyak ruang bagi pandangan-pandangan alternatif terkait dengan begitu banyak cara memahami aksioma.

Salah satu cara adalah teori subjektif probabilitas, yang menyamakan probabilitas dengan derajat subjektif kepercayaan. Ini adalah cara pemahaman yang diasumsikan oleh teori konfirmasi Bayesian.

Cara lain adalah interpretasi objektif, yang disebut teori frekuensi. Teori ini berasal dari Richard von Misses. Menurut teori ini, probabilitas dari suatu hasil adalah jumlah berapa kali hasil ini muncul dibagi dengan jumlah total kejadian-kejadian dalam mana ia mungkin saja muncul.

Teori ini menghadapi beberapa kesulitan. Pertama, ia menghadapi kesulitan berurusan dengan ‘kasus kemungkinan tunggal’ (single-case probabilities). Misalnya, coba bayangkan sebuah lemparan koin. Orang bisa memandangnya sebagai anggota dari kelas semua lemparan-lemparan koin, atau semua lemparan dari koin-koin dengan bentuk tertentu itu, atau semua lemparan-lemparan yang dilakukan seperti itu, atau seterusnya. ‘Referensi kelas’ yang berbeda ini tentu menampilkan frekuensi-frekuensi gambar yang berbeda. Masalah lain adalah banyak dari acuan kelas-kelas yang lebih spesifik ini hanya akan terbatas jangkauannya. Koin-koin dengan bentuk khas tertentu hanya bisa dilemparkan dengan cara tertentu sepuluh kali saja dalam seluruh sejarah alam semesta. Namun kemungkinan munculnya gambar pada lemparan-lemparan ini tidak mungkin sama dengan frekuensi relatif dalam sepuluh kali lemparan, karena keberuntungan bisa menghasilkan angka yang tinggi atau rendah dari jumlah kemunculan gambar dalam sepuluh kali lemparan.

Karena kesulitan-kesulitan ini, banyak filsuf kontemporer yang lalu mengadopsi teori propensitas (kecenderungan) probabilitas untuk menggantikan teori kemungkinan. Dalam bentuk awalnya, seperti yang dipaparkan oleh Karl Popper, usulannya sekedar memodifikasi teori frekuensi dengan menyatakan bahwa hanya frekuensi-frekuensi relatif yang dihasilkan oleh percobaan berkali-kali atas suatu situasi eksperimental yang telah disiapkan yang harus dipandang sebagai kemungkinan-kemungkinan yang sejati. Namun penyelesaian ini belum bisa menyelesaikan masalah lain yang berkaitan dengan acuan kelas-kelas hipotetis. Untuk menyelesaikannya, teori propensitas versi yang terbaru sama sekali tidak mendefinisikan probabilitas dalam pengertian frekuensi-frekuensi melainkan sekedar memandang probabilitas-probabilitas sebagai kecenderungan-kecenderungan primitif dari situasi-situasi tertentu untuk menghasilkan suatu hasil.

Karena menyajikan definisi yang eksplisit tampaknya teori frekuensi lebih sanggup daripada teori propensitas dalam menjelaskan bagaimana orang menemukan kemungkinan-kemungkinan. Tetapi ini sebenarnya suatu ilusi. Masalah dengan definisi eksplisit teori frekuensi adalah pada frekuensi-frekuensi dalam rangkaian-rangkaian tak terhingga (infinite). Namun bukti-bukti yang dimiliki orang selalu dalam bentuk frekuensi-frekuensi dalam sampel-sampel yang terhingga (finite). Jadi soal menjelaskan bagaimana kita bisa bergerak dari frekuensi-frekuensi dalam sampel-sampel yang terhingga kepada pengetahuan tentang kemungkinan-kemungkinan adalah persoalan yang sama-sama sukar bagi teori frekuensi maupun teori propensitas.

Kesulitan di atas membuat sebagian filsuf lantas beralih kepada fisika, khususnya kepada pengertian probabilitas yang dipakai dalam mekanika kuantum, untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Sayangnya, mekanika kuantum secara filosofis juga sama kontroversialnya dengan teori kemungkinan. Karenya perdebatan filosofis soal probabilitas akan terus berlanjut sampai ada interpretasi mekanika kuantum yang disepakati.[5]

e. Teleologi

Umumnya orang menjelaskan suatu fakta dengan melihat sebabnya. Misalnya, orang menjelaskan mengapa air membeku dengan menunjuk suhu yang turun di bawah 0o. Ada kasus-kasus di mana orang justru lebih menunjuk kepada akibat-akibatnya. Penjelasan jenis ini umum dijumpai pada ilmu biologi. Orang sering menjelaskan suatu sifat biologis dengan menunjukkan bagaimana hal itu berguna bagi organisme yang dipersoalkan. Misalnya, penjelasan untuk warna putih bulu beruang kutub adalah bahwa itu membuatnya tidak tampak bagi lawan-lawan atau mangsanya (camouflage). Penjelasan untuk keringat menusia adalah bahwa itu menurunkan suhu tubuh. Penjelasan gaya begini juga banyak dijumpai pada ilmu antropologi dan sosiologi.

Belum lama berselang para filsuf ilmu memandang penjelasan-penjelasan fungsional atau teleologis semacam di atas sebagai sebuah alternatif untuk penjelasan kausal, dalam mana hal-hal dijelaskan bukan oleh anteseden kausalnya tetapi dengan menunjukkan bagaimana caranya hal-hal itu berkontribusi kepada kebaikan suatu sistem yang lebih besar. Model penjelasan hukum yang menaungi dari Carl Hempel adalah versi yang populer dari sikap ini. Menurut Hempel, penjelasan kausal dan fungsional hanyalah dua cara yang berbeda untuk memberi contoh model hukum yang menaungi. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa dalam penjelasan-penjelasan kausal fakta-fakta yang menjelaskan (suhu yang rendah) secara temporal mendahului fakta yang dijelaskan (membeku), sementara dalam penjelasan fungsional fakta yang dijelaskan (bulu putih) muncul lebih dulu secara temporal sebelum konsekuensi (kamuflase) yang menjelaskannya.

Namun demikian, banyak filsuf ilmu kontemporer yang mengambil rute berbeda dengan berpendapat bahwa semua penjelasan fakta-fakta tertentu sebenarnya adalah kausal, dan bahwa penjelasan-penjelasan fungsional, terlepas dari penampilannya, adalah sub-spesies dari penjelasan-penjelasan kausal. Karena itu, acuan kepada fakta-fakta di masa depan dalam penjelasan fungsional hanyalah sekedar kelihatannya saja, dan penjelasan-penjelasan itu sebenarnya mengacu kepada sebab-sebab di masa lalu. Dalam kasus biologis, sebab-sebab masa lalu ini akan menjadi sejarah evolusioner yang menuju kepada seleksi alam dari sifat biologis yang dipertanyakan. Jadi, penjelasan fungsional tentang warna beruang kutub harus dipahami sebagai penunjuk fakta bahwa kamuflase mereka di masa lalu menuju kepada seleksi alam dari warna putih mereka, dan bukan kepada fakta bahwa mereka mungkin dikamuflasekan di masa depan. Serupa dengan itu, setiap penjelasan fungsional yang dapat diterima dalam antropologi dan sosiologi harus dipahami sebagai membawa orang ke belakang di dalam waktu kepada maksud-maksud yang disadari atau proses-proses seleksi yang tidak disadari yang menyebabkan fakta yang dijelaskan.

f. Reduksi Teoretis

Pertanyaan filosofis lain tentang pokok-pokok masalah seperti biologi adalah apakah mereka bisa direduksikan menjadi ilmu-ilmu bertaraf lebih rendah (secara ontologis artinya lebih dasar) seperti kimia dan fisika. Kelihatannya ini bukan soal biologi saja tetapi juga masalah untuk ilmu-ilmu alam ‘spesial’ lainnya seperti geologi dan meteorologi, dan juga untuk ilmu-ilmu manusia seperti psikologi, sosiologi dan antropologi.

Satu ilmu dikatakan ‘mereduksi’ menjadi yang lain jika kategori-kategorinya dapat didefinisikan dalam kategori-kategori ilmu yang lain itu dan hukum-hukumnya dijelaskan oleh hukum-hukum yang lain itu. Kaum Reduksionis berpendapat bahwa semua ilmu membentuk suatu hierarkhi dalam mana yang lebih tinggi selalu bisa direduksi menjadi yang lebih rendah. Jadi, misalnya, biologi dapat direduksi menjadi fisiologi, fisiologi menjadi kimia, dan akhirnya kimia menjadi fisika.

Reduksionisme dapat dipandang entah secara historis atau metafisis. Pertanyaan historis adalah apakah ilmu umumnya berkembang dengan cara teori-teori yang kemudian mereduksi teori-teori yang lebih awal. Pertanyaan metafisis adalah apakah bidang-bidang ilmu yang berbeda menjelaskan realitas-realitas yang berbeda pula, ataukah sebuah realitas fisik dijelaskan pada level detil yang berbeda-beda. Meski sering muncul bersama, kedua pertanyaan ini berbeda satu sama lain.

Secara umum tesis reduksionisme historis adalah keliru karena ia memandang teori-teori sebelumnya keliru. Memang benar ada beberapa bidang ilmu yang cenderung demikian seperti kosmologi atau fisika fundamental. Tetapi teori-teori komposisi molekuler tentang senyawa kimia yang berbeda (seperti air tersusun atas hidrogen dan oksigen), atau sebab-sebab penyakit menular (seperti cacar), atau hakikat fenomena fisik harian (panas adalah gerakan molekuler), adalah teori-teori yang terus demikian sekali ditemukan. Reduksionisme historis keliru karena tidak bisa menjelaskan mengapa teori terdahulu tetap benar sampai kini.

Kalau reduksionisme historis keliru tidak berarti lantas reduksionisme metafisis ikut-ikutan keliru juga. Meskipun ilmu bergerak menuju kebenaran yang menyeluruh (overall truth) dengan mencocokkan (fits) dan menyebabkan (starts), ada alasan-alasan umum untuk mengharapkan bahwa kebenaran yang menyeluruh ini, tatkala akhirnya dicapai, akan mereduksi menjadi kebenaran fisika. Salah satu argumen pendukung muncul dari interaksi kausal di antara fenomena yang sudah didiskusikan dalam ilmu-ilmu khusus dan fenomena fisika. Semua kejadian-kejadian biologis, geologis dan meteorologis tidak diragukan lagi memiliki akibat-akibat fisika. Tentu sukar memahami bagaimama mereka bisa menjadi demikian kecuali mereka terbuat dari komponen-komponen fisika. Walau demikian, reduksi ini diragukan akan menjadi sebuah reduksionisme yang berskala penuh.[6]

Kesimpulan

Dari uraian panjang tentang filsafat ilmu ini kami berkesimpulan bahwa filsafat ilmu adalah  suatu penelitian ilmu sebagai sebuah fenomena filosofis. Ia berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan semacam: metode-metode apakah yang bisa dipakai untuk membenarkan kesimpulan-kesimpulan ilmiah, apa yang membuat suatu penelitian bersifat ilmiah, apa itu teori-teori ilmiah, informasi-informasi apakah yang diberikan oleh teori-teori itu yang tidak tersedia bila tidak ada teori-teori tersebut. Ia juga bergumul dengan beberapa konsep yang sangat umum yang memainkan peran amat penting di dalam ilmu, seperti apa itu ruang, apa itu waktu dan apa itu sebab.

Sumber:

“Britannica Concise Encyclopedia: Metaphysics” dalam http://www.answers.com/topic/metaphysics

Prof. Gower, B.S., DR. R.F. Hendry, Ms. S. Gibb, “What Is Philosophy of Science” dalam http://phil.elte.hu/leszabo/whatis.html

Papineau, David. “Philosophy of Science” dalam The Blackwell Companion to Philosophy. Nicholas Bunnin dan E.P. Tsui-James, (eds). Blackwell Publishing, 2002. Blackwell Reference Online.
http://libproxy.temple.edu:2111/subscriber/tocnode?id=g9780631219088_chunk_g978063121908814

Cline, Austin. “What Is Metaphysics? Philosophy of the Nature of Being, Existence, Reality” dalam http://atheism.about.com/od/philosophybranches/p/Metaphysics.htm

Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001,

Siswomihardjo, Kunto Wibisono. “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran dan Perkembangannya sebagai Pengantar untuk Memahami Filsafat Ilmu” dalam Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Penerbit Liberty, 1996.

The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Liberty, 2007.


[1] Uraian ini dan struktur pembicaraannya berhutang kepada David Papineau, “Philosophy of Science” dalam The Blackwell Companion to Philosophy. Nicholas Bunnin dan E.P. Tsui-James, (eds). Blackwell Publishing, 2002. Blackwell Reference Online.
[2] “Britannica Concise Encyclopedia: Metaphysics”
[3] Austin Cline, “What Is Metaphysics? Philosophy of the Nature of Being, Existence, Reality”
[4] Keraf dan Dua merumuskan hukum dalam pengertian kausalitas sebagai hubungan bersifat pasti yang terjadi dalam peristiwa alam dan dalam hidup manusia di mana “kalau suatu peristiwa terjadi yang lain dengan sendirinya akan menyusul atau telah pasti terjadi sebelumnya.” Sedangkan kebetulan dipandang sebagai kenyataan absolut yang tidak lepas dari gagasan regularitas dan evolusi alam. Alam selalu memberi tempat untuk kebetulan dan hukum sendiri berkembang dari kebetulan. Lihat A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2001), hal. 119, 124, 125.
[5] Mekanika kuantum modern, misalnya, mengatakan bahwa setiap system partikel-partikel mikroskopik dicirikan sepenuhnya oleh ‘fungsi gelombangnya.’ Tetapi, alih-alih menspesifikasikan posisi-posisi dan velositas-velositas eksak dari partikel-partikel itu, seperti yang dilakukan oleh mekanika klasik, fungsi gelombang ini malah hanya menspesifikasikan partikel-partikel yang menampilkan nilai-nilai tertentu posisi dan velositas, jikalau pengukuran-pengukuran yang tepat dibuat. Interpretasi ortodoks dari mekanika kuantum mengatakan bahwa probabilitas-probabilitas kuantum berubah menjadi aktualitas-aktualitas hanya ketika ‘pengukuran-pengukuran’ dibuat. Misalnya, jika orang mengukur posisi suatu partikel maka posisinya mengasumsikan suatu nilai tertentu, sekalipun tidak ada hal sebelum pengukuran yang menentukan dengan tepat akan menjadi berapa nilainya. Persoalan ini kemudian melahirkan suatu perdebatan yang masih terus berlangsung mengenai “soal pengukuran” (the measurement problem).
[6] Papineau memberi contoh perilaku agresif binatang yang bisa disamakan dengan suatu rangkaian gerakan fisik, dan perilaku agresif binatang lain dapat disamakan dengan rangkaian gerakan fisik lainnya, tanpa ada suatu cara yang seragam untuk mendefinisikan “perilaku agresif,” untuk seluruh binatang, dalam pengertian gerakan fisik. Tanpa definisi seragam ini tidak ada pertanyaan mengenai soal mereduksi etologi (ilmu mengenai perilaku) menjadi fisika, dan seterusnya tidak ada pertanyaan pula tentang menjelaskan hukum-hukum etologi dengan memakai hukum-hukum fisika. Sebagai gantinya, hukum-hukum etologi dan ilmu-ilmu khusus lainnya akan menjadi sui generis, mengidentifikasi pola-pola yang contoh-contohnya bervariasi dalam susunan fisiknya, dan yang karena itu tidak mungkin bisa dijelaskan dalam pengertian hukum-hukum fisika saja.

Metafisik Reduksionisme dapat dipandang entah secara historis atau metafisis. Pertanyaan historis adalah apakah ilmu umumnya berkembang dengan cara teori-teori yang kemudian mereduksi teori-teori yang lebih awal. Pertanyaan metafisis adalah apakah bidang-bidang ilmu yang berbeda menjelaskan realitas-realitas yang berbeda pula, ataukah sebuah realitas fisik dijelaskan pada level detil yang berbeda-beda. Meski sering muncul bersama, kedua pertanyaan ini berbeda satu sama lain.

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

6 Comments

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Kronologi Waktu Filsafat yang Signifikan | Teori Organisasi dan Manajemen
  2. John Locke (1632-1704) | Teori Organisasi dan Manajemen

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*