Filsafat Ilmu (Bagian II): Epistemologi Ilmu

Knowledge IMG

Knowledge

Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari berbagai segi pengatahuan seperti kemugkinan, asal mula, sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan reliabilitas sampai kepada soal kebenaran. Dikaitkan dengan ilmu, epistemologi ilmu dengan demikian adalah cabang epistemologi yang berurusan dengan soal-soal pembenaran klaim-klaim pengetahuan ilmiah. Pertanyaan-pertanyaan penting yang digumuli di sini adalah apakah ilmu pernah menyingkapkan kebenaran-kebenaran permanen, apakah keputusan-keputusan objektif di antara teori-teori yang berkompetisi mungkin terjadi, dan apakah hasil-hasil eksperimen telah dipengaruhi oleh ekspektasi-ekspektasi teoretis sebelumnya.

a. Problema Induksi

Banyak karya epistemologi yang mutahir bergumul dengan soal induksi. Induksi adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau partikular tertentu untuk menari kesimpulan umum tertentu atas dasar sejumlah fenomena, fakta, atau data tertentu yang dirumuskan dalam proposisi-proposisi tunggal tertentu, ditarik kesimpulan yang dianggap sebagai benar dan berlaku umum. Contohnya sodium yang jika dipanaskan akan menghasilkan warna oranye yang terang. Dari sini ditarik suatu kesimpulan bahwa semua sodium jika dipanaskan akan berwarna oranye terang. Induksi mulai dengan premis-premis tertentu mengenai mengenai sejumlah observasi di masa lalu dan berakhir dengan suatu kesimpulan umum tentang bagaimana alam akan selalu berperilaku. Dan di sinilah letak masalahnya. Sebab tidak jelas seberapa banyak informasi dari masa lalu yang bisa menjamin bahwa pola alam akan terus demikian setiap waktu. Lagi pula, hal apakah yang bisa menghapuslan bahwa pergerakan alam tidak akan berubah dan bahwa pola-pola yang orang miliki hari ini ternyata akan menjadi penuntun yang payah di masa depan? Sekalipun sodium bisa berwarna oranye terang sampai hari ini, siapa tahu di masa depan ia akan berwarna biru.

Di titik ini, induksi berbeda dari deduksi. Pada deduksi, premis-premis menjamin kesimpulan. Misalnya orang mendapati dua zat yang belum jelas apakah itu sodium atau potasium. Namun kemudian ia dapati bahwa zat ini bukan sodium, maka dengan yakin ia bisa berkesimpulan bahwa zat tersebut adalah potasium. Kebenaran premis-premis tidak memberi ruang bagi kesimpulan lain selain kesimpulan yang benar. Ini tidak berlaku pada induksi. Misalnya, ada dua benda A dan B. Dalam pengamatan ditemukan bahwa setiap sifat A didapati pula pada B. Namun ini tidak menjamin bahwa semua sifat A, termasuk pula sifatnya di masa depan, akan didapati pula pada B. Hasil pengamatan pertama bisa jadi benar, namun tidak serta merta bisa begitu untuk kesimpulannya.

Problema induksi ini tampaknya mengancam semua pengetahuan ilmiah. Ini karena semua penemuan ilmiah berada dalam bentuk kesimpulan-kesimpulan umum (pola penarikan kesimpulan yang bersifat induktif). Jikalah bukti satu-satunya yang dimiliki sejauh ini hanyalah pada, misalnya, beroperasinya hukum-hukum ilmiah seperti yang diteorikan, lantas bagaimana orang bisa yakin bahwa hukum-hukum itu akan dibuat tidak terbukti di masa depan?

b. Reaksi Kepada Problema Induksi: Falsifikasionisme

Falsifikasionisme adalah sebuah pendirian dari para peneliti dan pengamat yang skeptis dan spekulatif. Teori yang dipeganginya, yang diuraikan sebagai dugaan atau tebakan spekulatif dan coba-coba, diciptakan secara bebas oleh intelek manusia dalam mengatasi masalah yang terdapat pada teori sebelumnya. Teori spekulatif ini akan diuji secara keras dan serius melalui observasi dan eksperimen. Teori yang paling cocok adalah yang dapat bertahan. Selagi ia tidak pernah dapat dikatakan sah sebagai teori yang benar, teori tersebut untuk sementara hanya dapat dianggap sebagai yang paling baik di antara yang bisa diperoleh dan yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Pendekatan falsifikasi ini dikembangkan oleh Karl Popper yang tidak puas dengan pendekatan induktif. Menurut Popper, tujuan sebuah penelitian ilmiah adalah untuk membuktikan kesalahan (falsify) hipotesa, bukan untuk membuktikan kebenaran hipotesa tersebut. Inilah sebabnya mengapa pendekatan ini dinamakan pendekatan falsifikasionisme.

Bagi Popper, ilmuwan sebenarnya tidak mulai dengan observasi dan kemudian menarik sebuah kesimpulan umum melainkan mulai dengan sebuah teori, yang dipahaminya sebagai “uncorroborated conjecture” (= ramalan yang belum terbukti), kemudian membandingkan prediksi-prediksi ramalan itu dengan observasi-observasi untuk mengetahui apakah itu tahan uji atau tidak. Bila ujian membuktikan negatif maka teori tersebut dipandang keliru, dan ilmuwan mencari alternatif lain. Namun jika ujian terbukti positif maka ilmuwan akan terus mempertahankannya—bukan sebagai kebenaran yang dibuktikan tetapi tidak bisa lain selain ramalan yang tidak terpatahkan.

Jikalau demikian ilmu bekerja maka bagi Popper ilmu tidak membutuhkan induksi. Baginya, penyimpulan yang jauh lebih penting bagi ilmu adalah penolakan-penolakan, yang mengambil suatu prediksi yang salah sebagai premisnya dan menyimpulkan bahwa teori di balik ramalan itu salah. Ilmu dengan demikian tidak lebih dari suatu seri ramalan-ramalan dan penolakan-penolakan. Teori-teori ilmiah dimajukan sebagai hipotesis-hipotesis, dan lalu diganti dengan hipotesis-hipotesis baru ketika hipotesis-hipotesis lama dibuktikan keliru. Penyimpulan macam ini, bagi Popper, sebenarnya bukan induksi tetapi deduksi.

c. Kelemahan Argumentasi Falsifikasionisme

Ada empat kelemahan utama argumentasi Falsifikasionisme. Keempatnya adalah sbb.:

(1)   Ketergantungan Observasi Pada Teori. Falsifiakasionisme naif bersikeras menyatakan bahwa aktivitas ilmiah harus memikirkan usaha memfasilitasi teori dengan cara mengukuhkan kebenaran semua, keterangan-observasi yang tidak konsisten dengannya kaum falsiskasionis yang lebih sofistik menyadari ketidak layakkan itu, dan mengakui pentingnya peranan konfirmasi terhadap teori-teori spekulatif, begitupun peranan falsifikasi teori-teori yang sudah mantap.

(2)   Kompleksitas Situsi Pengujian Pada Yang Realistis. Sebuah pernyataan dapat difalsifikasi apabila pada suatu kesempatan dapat dibuktikan tidak sesuai dengan pernyataan. Akan tetapi dibalik ilusterasi logika falsisfkasi yang sederhana ini bagi falsifikasianisme tersembunyi kesulitan serius yang ditimbulkan oeh kompleknya situasi pengujian dalam realitas.

(3)   Falsifikasi Tidak Sesuai Dengan Sejarah. Suatu kenyataan sejarah yang mengganggu kaum falsifikasionisme adalah bahwa apabila metodologi mereka dipegang teguh oleh para ilmuwan, maka teori-teori yang umumnya sebagai teladan-teladan terbaik seyogyanya tidak pernah akan dikembangkan , karena mereka semestinya sudah ditolak selagi masih dalam masa kanak-kanaknya.

(4)   Tentang Popper, posisi Falsifikasionismenya hanya menjelaskan pengetahuan ilmiah negatif bukan yang positif. Ia berhasil memperlihatkan bahwa sebuah contoh yang berlawanan sudah bisa membuktikan sebuah teori keliru. Namun ia tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang bisa menunjukkan suatu teori benar. Padahal pengetahuan positif jenis yang terakhir inilah yang membuat ilmu menjadi penting. Selanjutnya, posisinya terlalu menempatkan teori pada level ramalan (conjecture) saja. Memang benar bahwa dalam kenyataan banyak teori memang berawal pada ramalan-ramalan dan akan terus demikian sampai bukti-bukti awal muncul. Sejalan dengan bertambahnya bukti pendukung maka suatu teori akan bergerak melampaui status ramalannya dan menjadi kebenaran yang kokoh.

d. Tanggapan Pendukung Induksi: Bayesianisme

Bayesianisme diambil dari nama Thomas Bayes (170101761). Bayesianisme adalah para ahli filsafat yang berpendapat bahwa kepercayaan-kepercayaan manusia, termasuk kepercayaan kepada teori-teori ilmiah, muncul dalam bentuk derajat-derajat. Misalnya, seseorang percaya sampai derajat 0,5 bahwa hari akan hujan. Ini berarti menurut orang ini kemungkinan hujan hari ini adalah 50%. Dengan cara yang sama seseorang mungkin mengaitkan derajat kepercayaan 0,1 untuk teori yang mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan nuklir yang kuat dan elektro yang lemah adalah sama-sama kekuatan. Menurutnya tidak mungkin namun berpikir bahwa ada 1 dari antara 10 kemungkinan hal itu benar.

Filsuf Bayesian berpikir tentang derajat kepercayaan yang secara subyektif mempertimbangkan sesuatu sebagai kemungkinan. Mereka menurunkan penjelasan mereka tentang bagaimana merevisi derajat kepercayaan dari teorema Bayes.[1] Secara filosofis, teorema ini mengusulkan suatu cara mengubah atau revisi derajat kepercayaan seseorang sebagai respons kepada bukti baru. Misalnya, bila H adalah hipotesis dan E adalah suatu bukti yang baru ditemukan maka, menurut kaum Bayesian, tatkala seseorang menemukan E, ia harus menyesuaikan derajat kepercayaannya kepada H. Bila E semakin banyak maka derajat kepercayaan kepada H juga semakin bertambah.

Strategi ini dapat pula diaplikasikan kepada penyimpulan induktif. Coba pikirkan H adalah semacam generalisasi universal, misalnya semua benda jatuh ke bumi dengan percepatan yang sama, dan E adalah benda tertentu yang sedang diamati berpercepatan tetap. Bila hasilnya adalah sesuatu yang orang tidak harapkan sama sekali maka Bayesianisme memberitahu orang tersebut bahwa ia harus menambah derajat kepercayaannya kepada Hukum Galileo karena itulah yang diramalkan oleh hukum ini. Tentu saja, sesudah orang melihat sejumlah besar observasi yang semacam itu maka ia akan berhenti mendapati bukti-bukti baru sebagai sesuatu yang mengagetkan, dan dengan itu pula berhenti memperbesar tingkat kepercayaannya kepada hukum.

Penjelasan Bayesian tentang bagaimana orang merevisi derajat kepercayaannya tampak masuk akal. Lagipula, ia menjanjikan sebuah solusi kepada masalah induksi karena ia mengimplikasikan contoh-contoh positif yang memberi orang alasan untuk mempercayai generalisasi-generalisasi ilmiah.

e. Instrumentalisme dan Realisme

Banyak ilmu terdiri atas klaim-klaim tentang hal-hal yang tidak bisa diamati seperti virus, gelombang radio, elektron dan quark. Kalau hal-hal ini tidak bisa diamati, lantas bagaimana para ahli bisa berpendapat bahwa mereka sudah menemukannya? Bila mereka tidak bisa melihat atau merabanya, tidakkah masuk akal bila klaim-klaim mereka tentang hal-hal itu adalah spekulasi saja dan bukan pengetahuan yang kokok? Di titik ini muncul masalah yang dikenal sebagai Realisme dan Instrumentalisme.

Realisme adalah faham yang meyakini bahwa suatu pernyataan mengandung nilai-kebenaran obyektif, dan dengan begitu mempunyai acuan pada suatu dunia yang tak lepas dari sarana orang mengetahuinya, serta keyakinan akan kemampuan orang memperoleh pengetahuan yang benar mengenai dunia. Kelompok realis berpendapat bahwa soal yang tidak bisa diamati bisa diselesaikan. Mereka berpendapat bahwa fakta-fakta yang bisa diamati menyediakan bukti-bukti tidak langsung bagi keberadaan hal-hal yang tidak bisa diamati, dan karenanya berkesimpulan bahwa teori-teori ilmiah bisa dipandang sebagai deskripsi akurat dari dunia yang tidak bisa diamati.

Ada 4 tesis utama yang menjadi landasan gerak kaum realis. Keempatnya adalah sbb.:

(1) Ungkapan teoretis pada teori-teori keilmuan (yaitu ungkapan non observational) harus diterima sebagai dugaan terhadap ungkapan yang mempunyai acuan; teori harus ditafsirkan secara ‘realistik’.

(2) Teori-teori keilmuan, yang (harus) ditafsirkan secara realistik ini, dapat ditegaskan, dan pada kenyataannya seringkali tertegaskan sebagai mendekati kebenaran melalui bukti-bukti keilmuan yang ditafsirkan menurut standar  metodologi biasa.

(3) Sejarah kemajuan ilmu-ilmu yang matang sebagian besar merupakan urutan pendekatan yang cermat terhadap kebenaran. Teori-teori yang muncul kemudian pada umumnya dibangun di atas pengetahuan (observational dan teoretis) yang ada dalam teori sebelumnya.

(4) Realitas yang diberikan oleh teori-teori keilmuan sebagian besar tidak bergantung pada pemikiran ataupun komitmen teoretis kita.

Kaum instrumentalis, yang berbeda dari kaum realis, berpendapat bahwa orang tidak berada pada posisi dapat membuat keputusan-keputusan kokoh tentang mekanisme-mekanisme yang tidak bisa dipersepsi. Teori-teori tentang mekanisme-mekanisme itu bisa digunakan untuk menyederhanakan kalkulasi manusia dan melahirkan prediksi-prediksi tetapi teori-teori ini bukanlah deskripsi yang sesungguhnya dari dunia ini.

Kritik terhadap tesis realisme bervariasi mulai dari penolakan terhadap a, b, dan pembatasan terhadap c demi menghindari komitmen terhadap kemungkinan pemerolehan pengetahuan yang bersifat teoretis menyangkut ungkapan takteramati, atau menolak d tetapi menerima a – c dengan catatan realitas yang diperikan oleh teori-teori keilmuan adalah suatu konstruksi sosial keilmuan. Antirealis seperti Kuhn memberi catatan bahwa c dapat diterima sejauh teori-teori yang saling menggantikan itu merupakan bagian paradigma yang sama.

Terlepas dari variasi a – d itu, posisi dasar realisme keilmuan merujuk pada tesis kebenaran korespondensi sebagai landasan untuk menafsirkan teori dan sebagai syarat penerimaan suatu teori dalam kegiatan keilmuan. Kebenaran, atau sedikitnya pendekatan pada kebenaran, menjadi tujuan utama yang hendak dicapai ilmu pengetahuan.

Dengan mengacu pada posisi dasar ini van Fraassen menyatukan berbagai tesis realisme keilmuan ke dalam rumusan berikut, “Ilmu pengetahuan bertujuan, dalam teori-teorinya, memberikan pada kita suatu kisah yang benar secara harfiah mengenai dunia (seperti apa);dan penerimaan teori melibatkan kepercayaan bahwa teori itu benar.”

Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci penting dalam instrumentalisme. Di sini pengalaman dipahami sebagai keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan fisik. Di masa lalu, kaum instrumentasli suka berpendapat bahwa orang tidak seharusnya menginterpretasi klaim-klaim teoretis secara literal karena orang tidak bisa bicara dengan penuh makna hal-hal yang tidak pernah secara langsung dialami. Namun pada masa kini mereka berpendapat bahwa para ilmuwan bisa dengan penuh makna mempostulatkan sesuatu, misalnya materi terbuat dari atom-atom kecil. Atom-atom itu sendiri terdiri atas inti dengan elektron-elektron yang berputar mengitarinya pada orbitnya masing-masing. Namun, mereka kemudian mengambil sikap skeptis dengan berkata bahwa kita tidak punya kewajiban untuk mempercayainya.

f. Argumen-argumen Kontra-Realisme

Dari segi epistemologis, penolakan paling keras terhadap realisme berkaitan dengan penafsiran atas pengetahuan yang benar ini. Para penganut antirealis melihat kegiatan keilmuan dan tujuan ilmu pengetahuan dapat dicapai tanpa perlu diikuti oleh kepercayaan bahwa teori keilmuan memberikan pengetahuan yang benar (atau mendekati kebenaran) tentang dunia.

Dalam pandangan mereka, pengetahuan tidak dapat meluas hingga mencapai yang tak teramati, sehingga pengetahuan benar atau salah mengenai dunia tidaklah mungkin. Ilmu pengetahuan lewat teori-teorinya hanya menyediakan sarana untuk memperkirakan gejala yang akan muncul atas dasar gejala sejenis yang sudah ada sebelumnya dalam lingkungan fisika serupa. Dengan landasan ini para antirealis beranggapan bahwa doktrin realisme yang menjanjikan pengetahuan teoretis mengenai dunia, sesungguhnya, paling baik hanya menyediakan keanggunan formal atau kenyamanan perhitungan. Teori-teori diterima dalam kegiatan keilmuan karena memperlihatkan kelebihan prediktif, kesederhanaan, atau kelebihan lainnya seperti koherensi dan keajekan.

Paparan di atas sangat umum; pada kenyataannya para penganut antirealisme menduduki posisi yang secara rinci berbeda-beda menyangkut penafsiran atas pernyataan-pernyataan keilmuan. Penolakan yang paling radikal terhadap realisme berasal dari instrumentalisme. Para instrumentalis menolak sepenuhnya kepercayaan bahwa pernyataan-pernyataan keilmuan mempunyai nilai kebenaran. Mereka berpendapat bahwa status teori adalah piranti, atau sarana penghitung. Teori berguna untuk menghubungkan dan mensistematisasikan pernyataan-pernyataan observasional, serta untuk memberikan prakiraan berdasarkan sekumpulan data, tetapi tak ada pertanyaan menyangkut kebenaran (atau pada apa teori mengacu) dapat diajukan.

Dalam bentuk yang lebih lemah, penolakan terhadap tesis realisme diberikan oleh van Fraassen yang masih menerima kriteria benar/salah untuk pernyataan keilmuan yang berhubungan dengan gejala teramati, tetapi menolak penafsiran benar/salah untuk gejala takteramati.

Dalam lingkup ilmu pengetahuan alam umumnya, suatu penjelasan diperoleh jika gejala yang diamati dapat dijelaskan dengan cara meletakkan kemungkinan keberlangsungan gejala itu di bawah satu atau lebih hukum-hukum umum.

Seorang filsuf yang bernama Hempel menyatakan bahwa menjelaskan gejala di dalam dunia pengalaman kita, yakni menjawab pertanyaan mengapa dan bukan sekedar pertanyaan apa, adalah salah satu tujuan terpenting ilmu pengetahuan. Dalam ilmu-ilmu alam, penjelasan dasar bersifat keilmuan diberikan melalui suatu pendekatan yang disebut sebagai deduktif-nomologis (D-N). Penjelasan D-N mengandung di dalamnya eksplanandum, yaitu pernyataan yang memerikan gejala yang akan dijelaskan, dan eksplanan, yaitu kumpulan pernyataan yang menjelaskan gejala. Selanjutnya harus pula terpenuhi syarat bahwa eksplanandum merupakan konsekuensi logis dari eksplanan; dengan kata lain eksplanandum harus dapat secara logis diturunkan dari informasi yang terkandung dalam eksplanan. Ada hubungan kausal antara eksplanandum dan eksplanan. Syarat kecukupan logis (logical conditions of adequacy) suatu penjelasan D-N adalah bahwa eksplanan harus memuat pernyataan universal hukum-hukum umum dan pernyataan-pernyataan singular syarat awal. Syarat awal memberikan kondisi khusus pada suatu peristiwa untuk menerapkan hukum-hukum umum tersebut. Selanjutnya, eksplanan juga harus mempunyai kandungan empiris sehingga dapat setidaknya secara prinsip diuji melalui observasi ataupun eksperimen.

Kekuatan pola penjelasan D-N terletak dalam kemampuan prakiraannya sehingga dengan berangkat dari syarat awal saja kita dapat memprakirakan kejadian yang akan berlangsung di bawah kerja hukum umum. Di sini Salmon membedakan tiga konsepsi penjelasan, yaitu [1] konsepsi epistemik, [2] konsepsi modal, dan [3] konsepsi ontik.

Konsepsi epistemik melihat penjelasan sebagai suatu argumen yang menunjukkan bahwa eksplanandum yang semula tidak terpahami, ternyata merupakan gejala yang terharapkan jika diacukan pada hukum-hukum umum dan pada hubungannya dengan fakta lain. Dengan demikian ada keterharapan nomik (nomic expectability) yang tak lain merupakan konsep epistemologis. Dalam konsepsi ini terdapat keniscayaan logis antara hukum-hukum serta syarat awal di satu pihak, dan eksplanandum di pihak lain; tepatnya antara pernyataan-pernyataan eksplanan dan pernyataan-pernyataan eksplanandum. Penjelasan model D-N adalah salah satu contoh bentuk penjelasan epistemik.

Konsepsi modal melihat hubungan yang ada di antara eksplanandum dan kondisi antesedennya sebagai keniscayaan nomologis. Ini berarti semua gejala merupakan hasil niscaya dari hukum-hukum fisika. Dalam konsepsi ini, suatu penjelasan tidak perlu dilihat sebagai suatu argumentasi yang menunjukkan bahwa gejala eksplanandum harus terjadi dengan adanya syarat awal tertentu. Konsepsi modal juga memberlakukan keniscayaan fisika melalui hukum-hukum umum sebagai penghubung antara kondisi-kondisi anteseden khusus dan gejala eksplanandum, bukan keniscayaan logis yang berjalan melalui hukum deduktif.

Dalam konsepsi epistemik, eksplanan mengandung sedikitnya satu hukum umum, sedangkan dalam konsepsi modal hukum umum tidak harus tampil dalam eksplanan; hukum umum hanya berperan sebagai apa yang oleh Scriven disebut landasan pembenaran-peran (role-justifying ground) untuk eksplanan, yaitu menunjukkan relevansi eksplanan terhadap eksplanandum sehingga eksplanan memadai sebagai penjelasan. Dalam hal ini penjelasan berbentuk pernyataan fakta, bukan hukum umum.

Dalam konsepsi yang ketiga, konsepsi ontik, suatu gejala bukan berarti meletakkan fakta khusus ke bawah keberlakuan hukum-hukum, melainkan menunjukkan letak gejala itu dalam suatu pola keteraturan yang diandaikan ada dalam alam dan dapat ditemukan melalui penyelidikan keilmuan, serta dapat dieksploitasi demi kepentingan penjelasan keilmuan. Kebanyakan penganut konsepsi ontik menghubungkan pola keteraturan yang dimaksud dengan hukum-hukum kausal.

Kutub antirealisme terwakili di dalam konsepsi epistemik. Ciri epistemik nampak jika sifat penjelasan bermaksud mengisi kekosongan pengetahuan yang dimunculkan oleh pertanyaan-mengapa. Penjelasan menjadi nisbi terhadap situasi pengetahuan yang dipunyai dan dipandang memuaskan jika berhasil menjembatani jurang pengetahuan dalam konteks pertanyaan diajukan. ‘Penjelasan’ menjadi sebuah jawaban terhadap pertanyaan-mengapa harus dievaluasi terhadap pertanyaannya, yang tidak lain merupakan tuntutan untuk suatu informasi.

Keberhasilan suatu penjelasan sebagai penjelasan dengan demikian adalah keberhasilan menunjuk pada pemaparan yang memadai dan informatif dalam konteks pertanyaan yang diajukan; bukan keberhasilan dalam melaksanakan alih eksistensial atas mekanisme tersembunyi yang mungkin ada. Dalam pengertian ini penjelasan memang bukan merupakan tampilan substantif suatu teori melainkan memegang status pragmatik yang tidak melebihi dan mengatasi pengetahuan deskriptif dan/atau prediktif.

Ini berbeda dengan kubu realis yang memandang penjelasan sebagai “kisah benar” tentang alam. Di dalam pemahaman tentang hubungan antara teori dengan dunia, kriteria kebenaran merupakan ciri semantik teori. Dalam hubungan semantik, konsepsi kebenaran dan realitas berjalan bersama-sama dalam adequatio ad rem.

Bagaimanapun jika beberapa kata, atau piranti tata bahasa, di dalam suatu pernyataan mempunyai peran semantik yang bergantung pada konteks, maka kebenaran dalam pengertian korespondensi menjadi tidak bermakna tanpa pergeseran ke hubungan pragmatik. Dalam hubungan ini suatu pernyataan adalah benar dalam konteks pemakaiannya. Contohnya, ‘aku sedih’ adalah benar jika dan hanya jika orang yang menyampaikan kalimat tersebut bersedih ketika mengucapkannya. Hubungan pragmatik muncul ketika terjadi perluasan hubungan semantik yang mengandung kata penunjuk yang mengacu baik ke si penyampai pernyataan maupun pada kondisi ruang-waktunya (konteks). Dengan demikian jelaslah bahwa seorang penganut antirealisme tidak akan menerapkan kriteria kebenaran korespondensi satu-satu untuk menerima keberlakuan suatu teori. Ia melihat hubungan semantik antara teori dan gejala dipenuhi sejauh teori dapat memerikan tampakan dengan derajat kecermatan tertentu (nisbi terhadap teori saingannya) dalam konteks pertanyaan diajukan. Sekalipun bisa saja ia tidak menolak keberadaan kebenaran yang bersifat lebih universal. Bagaimanapun ia akan berpendapat bahwa penentuan salah atau benar suatu teori dalam hubungan korespondensi dengan realitas tidak berhubungan sama sekali dengan kepentingan keilmuan ataupun kesuksesan suatu teori.

Pendapat terakhir ini dapat dikembalikan pada pernyataan Thomas Kuhn. Dalam membicarakan hubungan antara ilmu pengetahuan dan kebenaran, Kuhn mengatakan bahwa kita terlalu terbiasa untuk melihat ilmu pengetahuan sebagai suatu lembaga yang secara konstan bergerak menuju ke suatu sasaran yang telah terlebih dahulu ditentukan oleh alam. Proses perkembangan ilmu pengetahuan digambarkan Kuhn sebagai proses dari awal yang primitif; suatu proses yang tahap demi tahapnya dicirikan oleh pemahaman terhadap alam yang kian terperinci dan kian baik. Lebih jauh Kuhn menyebut bahwa gerak pertumbuhan itu menuju suatu sasaran berupa ‘kebenaran’.

g. Solusi: Epistemologi yang Dinaturalisasikan

Dalam posisi seperti ini, seorang ilmuwan akan menerima gagasan yang memilah antara realitas-pada-dirinya dan tampakan, karena ia membedakan antara underlying truth dan appearance. Hal ini menunjukkan bahwa ia menerima adanya struktur atau obyek di belakang tampakan, namun dengan tegas mengatakan bahwa hanya tampakan atau segala sesuatu yang terekam, yang merupakan kunci untuk pemahaman dalam ilmu pengetahuan; yang selebihnya bukan urusan ilmuwan.

Pemilahan antara alam pada dirinya dan alam sebagai tampakan ini dapat dilihat sebagai komponen Kantian mengenai pemilahan antara obyek pada dirinya dan fenomena.

Pemaparan di atas sebetulnya hanya untuk menunjukkan bahwa ada sudut pandang yang saling berdikhotomi dalam melihat tujuan dan kedudukan ilmu pengetahuan di tengah upayanya menjelaskan dunia. Pertanyaannya, apakah implikasi landasan filosofis yang cukup rumit ini untuk dunia pengajaran? Tesis realisme melihat adanya sebuah dunia yang lepas, independen, obyektif, yang siap untuk dipelajari. Pengetahuan ada di dunia dan tinggal ditemukan dan diambil. Teori-teori keilmuan adalah pernyataan yang mendekati kebenaran tentang dunia.

Maka yang dicari kini adalah “bahasa” yang mampu menggambarkan dunia sebagaimana adanya melalui struktur simbolik. Simbol itu adalah cermin realitas.

Mahluk yang berkesadaran akan mengumpulkan informasi mengenai obyek-obyek di sekitarnya dan membangun sebuah model mental yang setia kepada realitas. Pengetahuan menjadi seperti sebuah gudang penyimpanan “benda-benda mental” yang setiap saat siap untuk ditarik keluar untuk penggunaan penalaran dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa. Berpikir adalah kegiatan memanipulasi dunia representasi.

Di dalam pengajaran, pandangan filosofis seperti ini tercermin dari cara mengajar yang melihat bagaimana pengetahuan yang merepresentasikan dunia itu harus dialihkan ke murid. Jika dianut dengan sangat ekstrim, maka para murid dianggap sudah berpengetahuan jika pernyataan-pernyataan dalam benak mereka sudah menyamai pernyataan gurunya.

Berbeda dengan realisme, antirealisme tidak memandang pengetahuan sebagai terpilah dari subyek yang mengetahui. Pengetahuan adalah hasil jalinan ketat antara kita sebagai penyelidik dan realitas yang diselidiki. Realitas bersifat relasional dan pengetahuan bersifat konstruktif. Bahkan dunia itu sendiri konstruktif. Maka kegiatan keilmuan lebih merupakan kegiatan konstruksi daripada penemuan; yaitu konstruksi model-model yang harus memadai secara empiris tetapi tidak berhubungan dengan penemuan-penemuan kebenaran mengenai dunia sesungguhnya.

Berbeda dengan tafsiran realisme, perubahan dan perkembangan dari satu tahap penyelidikan keilmuan ke tahap lainnya tidak dilihat sebagai pendekatan yang kian cermat terhadap kebenaran. Di belakang pandangan filsafat antirealis berlangsung peralihan dari subyek dalam realitasnya menjadi subyek yang berinteraksi dengan realitas dan ikut mengkonstruksikan realitas. Dalam hal ini pengetahuan bukan cermin dari sebuah realitas terpisah, melainkan sebagai sarana untuk mengintegrasikan diri dengan lingkungan. Pengetahuan, dan dalam hal ini pengetahuan ilmiah, adalah hasil dari proses penyelidikan yang muncul di dalam situasi yang membutuhkannya.


[1] Teoremanya adalah demikian Prob (H/E) = Prob (H) x Prob (E/H)/Prob (E).

Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Posted in Filsafat Tagged with: , , , , , , , ,

Popular Post