Filsafat Ilmu (Bagian I): Pengantar Filsafat

pengantar_filsafat_ilmu_IMG
Mind
Mind IMG
Mind

Filsafat dan ilmu pengetahuan pada awalnya merupakan satu kesatuan. Pembatasan ilmu pengetahuan dilakukan berdasarkan sistem filsafat yang dianutnya. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman terutama sejak zaman renaissance, abad XV, filsafat berkembang sangat pesat.

Perkembangan filsafat membuat ilmu pengetahuan juga berkembang pesat dan tumbuh cabang-cabang di dalamnya. Masing-masing cabang memisahkan diri dari batas filsafatnya dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri. Metodologi menjadi mata pelajaran yang sangat dipentingkan Tetapi seiring dengan itu timbul kecenderungan adanya isolasi, dan bukan lagi diferensiasi di antara cabang-cabang ilmu.

Perkembangan pesat ilmu pengetahuan juga menimbulkan kekaburan mengenai batas-batas antara cabang ilmu yang satu dengan ilmu yang lain. Interdependensi dan interrelasi ilmu semakin dirasakan. Dari situ dibutuhkan suatu ”overview” untuk meletakkan jaringan interaksi untuk saling menyapa menuju hakikat ilmu yang integral dan integratif. Kehadiran etika dan moral juga semakin dirasakan. Immanuel Kant (1724-1804) menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Semenjak itu refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian.

Dari situ, lahir di abad 18 cabang filsafat yang disebut Filsafat pengetahuan. Logika, filsafat bahasa, matematika, dan metodologi merupakan komponen-komponen utama pendukungnya. Melalui cabang filsafat ini diterangkan sumber dan sarana serta tata cara untuk menggunakan sarana itu guna mencapai pengetahuan ilmiah. Diselidiki pula arti evidensi, syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi apa yang disebut kebenaran ilmiah, serta batas-batas validitasnya. Dari sini lahir filsafat ilmu sebagai penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Filsafat ilmu menempatkan ilmu (pengetahuan) sebagai obyek sasarannya.[1]

Definisi

Berbeda dengan pertanyaan dalam bidang keilmuan pada umumnya, pertanyaan filsafati senantiasa menimbulkan berbagai pendapat  Ketika orang bertanya apa yang disebut ilmu-ilmu kealaman, jawaban berbagai ensiklopedi, kamus dan buku lainnya umumnya sependapat bahwa ilmu kealaman adalah gugusan pengetahuan sistematis yang menelaah alam maupun gejala-gejala alamiah.

Demikian juga dengan ilmu social. Pengertian para ahli dari berbagai bidang ilmu didalamnya seperti ilmu politik, ilmu ekonomi, antropologi, ataupun sosiologi, umumnya sepaham. Mereka menyatakan bahwa ilmu-ilmu social adalah kelompok ilmu yang mempelajari secara teratur segenap perilaku, kegiatan, peristiwa atau hubungan manusia dalam hidup bersama. Perbedaan biasanya hanya terjadi pada istilah yang dipakai, seperti perilaku manusia, aktivitas social, peristiwa kemasyarakatan, atau hubungan sosial manusiawi. Berbagai pengertian itu biasanya mengandung pengertian yang sama dan dapat dicakup dalam suatu istilah yang lebih umum. Jawaban yang sependapat demikian tidak terjadi pada filsafat.

Pertanyaan apakah filsafat menimbulkan berbagai jawaban. Diantara jawaban itu sering bertentangan satu sama lain. Seorang filsuf yang berpangkal pada pandangan dunia akan menyatakan bahwa filsafat adalah suatu pemikiran rasional tentang pandangan dunia dalam kehidupan manusia. Ahli filsafat yang menitikberatkan segi bahasa dalam filsafat akan menegaskan bahwa filsafat adalah analisis kebahasaan untuk mencapai kejelasan makna dari kata dan konsep. Filsuf yang lain akan menjawab secara berbeda lagi. [2] Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Filsafat Ilmu, The Liang Gie memberikan daftar panjang definisi filsafat ilmu yang diberikan oleh berbagai filsuf.[3]

Dari berbagai definisi tersebut, pada akhirnya filsafat ilmu, seperti dikatakan Prof. B.S. Gower, DR. R.F. Hendry dan Ms. S. Gibb, hanyalah sebuah penelitian mengenai ilmu sebagai sebuah fenomena filosofis. Di dalamnya dipikirkan pertanyaan-pertanyaan semacam: metode-metode apakah yang bisa dipakai untuk membenarkan kesimpulan-kesimpulan ilmiah, apa yang membuat suatu penelitian bersifat ilmiah, apa itu teori-teori ilmiah, informasi-informasi apakah yang diberikan oleh teori-teori itu; informasi yang tidak akan tersedia bila tidak ada teori-teori tersebut. Selain itu filsafat ilmu juga bergumul dengan beberapa konsep yang umumnya memainkan peran yang amat penting di dalam ilmu, seperti apa itu ruang, apa itu waktu, apa itu sebab.[4]

Ruang Lingkup dan Kedudukan

Filsafat ilmu sampai tahun sembilan puluhan telah berkembang begitu pesat  sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang sangat luas dan mendalam. Begitu luasnya bidang cakupan filsafat ilmu ditambah lagi definisinya yang bermacam-ragam telah membuat pemahaman orang menjadi sangat beragam pula. The Liang Gie memberikan daftar yang cukup panjang mengenai berbagai pandangan ini dalam bukunya.[5]

Dari beraneka ragam pandangan tersebut, pandangan John Loose tampaknya bisa diterima sebagai mewakili seluruh keanekaragaman tersebut. Menurutnya, berbagai pandangan tentang filsafat ilmu itu pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam empat kelompok besar. Keempatnya adalah sebagai berikut.

  1. Filsafat ilmu yang berusaha menyusun pandangan-pandangan dunia yang sesuai atau berdasarkan teori-teori ilmiah yang penting.
  2. Filsafat ilmu yang berusaha memaparkan praanggapan dan kecenderungan para ilmuwan (misalnya, praanggapan bahwa alam semesta  mempunyai keteraturan).
  3. Filsafat ilmu sebagai suatu cabang pengetahuan yang menganalisis dan menerangkan konsep dan teori dari ilmu.
  4. Filsafat ilmu sebagai pengetahuan kritis derajat kedua yang menelaah ilmu sebagai sasarannya. Di sini, menurut Loose, pengetahuan manusia terbagi dalam tiga tingkatan yang berbeda. Tingkat pertama adalah Tingkat O. Ini adalah pengetahuan tentang fakta-fakta. Tingkat selanjutnya adalah Tingkat 1. Di sini fakta-fakta yang ditemukan dalam Tingkat O dijelaskan dan yang menjelaskannya adalah Ilmu. Tingkat terakhir adalah Tingkat 2. Di sini cara Ilmu menjelaskan fakta-fakta itu dianalisis. Di tingkat inilah filsafat ilmu beroperasi.[6]

Problem-problem Dalam Filsafat Ilmu

Isu apakah yang sebenarnya dipersoalkan dalam filsafat ilmu? Para filsuf lagi-lagi punya pandangan yang beraneka ragam. Dan sekali lagi, The Liang Gie merupakan acuan yang bagus untuk melihat konfigurasi pandangan yang beraneka ragam tersebut.[7] Dalam tulisan ini dirujuk pula David Pepineau, menyederhanakan berbagai isu tersebut dalam dua kelompok besar, yakni problem epistemologi ilmu dan problem metafisika ilmu.[8]

Bersambung… Filsafat Ilmu II – Epistemologi


[1] Siswomihardjo, Kunto Wibisono. “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran dan Perkembangannya sebagai Pengantar untuk Memahami Filsafat Ilmu” dalam Filsafat Ilmu sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Penerbit Liberty, 1996.

[2] The Liang Gie, Pengantar Filsafat ilmu, Yogyakarta, Liberty, 2007, hal 27-29.

[3] Ibid, hal. 57-62.

[4] Prof. B.S. Gower, Dr. R.F. Hendry, Ms. S. Gibb, “What Is Philosophy of Science” dalam http://phil.elte.hu/leszabo/whatis.html. Data diakses pada 10/9/2008.

[5] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, hal. 65-74.

[6] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, hal 65-74.

[7] Ibid, hal 83.

[8] Lihat David Papineau, “Philosophy of Science.” The Blackwell Companion to Philosophy. Nicholas Bunnin dan E.P. Tsui-James (eds). Blackwell Publishing, 2002. Blackwell Reference Online. Diakses pada 12 September 2008 http://libproxy.temple.edu:2111/subscriber/tocnode?id=g9780631219088_chunk_g978063121908814

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*