Emile Durkheim: Pendiri Sosiologi Integrasi Sosial

Emile Durkheim IMG
Emile Durkheim

David Emile Durkheim lahir pada tanggal 15 April 1858 di Epinal, ibukota Vosges, Lorraine, Perancis Timur. Ia berasal dari keluarga Rabi (di mana ayah, kakek dan buyutnya) adalah rabi, Imam Agama Yahudi, yang bekerja di Perancis sejak tahun 1784. sebetulnya, jika mengikuti kebiasaan tradisional, Emile Durkheim dididik untuk menjadi seorang rabi Yahudi. Pada usia 10 tahun, ia menolak untuk menjadi rabi, dan karena sebuah pengalaman mistik maka ia beralih keyakinan menganut agama Khatolik. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena Emile Durkheim kemudian menganut agnostisisme (bersikap apatis terhadap agama).

Meskipun baru berusia 12 tahun waktu Perancis kalah perang oleh Prusia, pengalaman tersebut sangat mengesankan bagi Durkheim dan menumbuhkan semangat patriotik dalam dirinya. Semangat patriotik tidak dalam arti militer, melainkan kepekaan dan rasa prihatin terhadap dekadensi moral yang melanda Perancis. Pada usia 21 tahun (1879), Durkheim melanjutkan studinya di Paris dan diterima di Ecole Normale Superieur. Ada dua orang profesor di Ecole Normale Superieur yang mempengaruhi Durkheim, yakni Fustel de Coulanges dan Emile Boutroux. Dari kedua orang inilah Durkheim belajar memanfaatkan perspektif historis terhadap konsensus-konsensus sebagai dasar solidaritas sosial dan klasifikasi tingkatan-tingkatan kenyataan yang berbeda dan tingkatan-tingkatan kenyataan yang lebih tinggi dapat memperlihatkan sifat-sifat yang muncul yang tidak dapat dijelaskan hanya dalam hubungannya dengan gejala sosial yang lebih rendah tingkatannya.[1] Rasa solidaritas yang tinggi dan kritiknya terhadap agama juga dipengaruhi oleh agama tradisional yang menurutnya menyediakan standar moral bersama yang membantu mempersatukan masyarakat pada masa lampau. Kematian salah seorang sahabatnya, Victor Hommay, akibat bunuh diri sangat memukul perasaan Durkheim, hingga ide bunuh diri ini nantinya menjadi salah satu unsur dalam teorinya mengenai masyarakat.

Salah seorang filosof yang mempengaruhi Durkheim adalah Auguste Comte (lahir 1789)[2], secara khusus perluasan sikap ilmiah terhadap studi tentang masyarakat. Namun berbeda dengan Comte, Durkheim mengembangkan basis akademi yang kokoh untuk kemajuan karirnya. Pada usia 24 tahun (1882), segera setelah menamatkan studinya di Ecole Normale Superieur, Durkheim mengajar filsafat di sekolah-sekolah menengah di Paris, dan pada usia 29 tahun (1887), Durkheim mengajar filsafat di Universitas Bordeaux. Pada usia 35 tahun (1893), Durkheim menerbitkan disertasi doktoralnya, yang berjudul The Division of Labor In Society (sebagai salah satu karya yang paling monumental dari Durkheim). Pada usia 38 (tahun 1896), Durkheim dikukuhkan sebagai profesor Perancis pertama dalam bidang ilmu sosial dan tahun (1906), Durkheim dikukuhkan menjadi profesor untuk ilmu pendidikan di Universitas Sorbone (universitas paling terkenal di Perancis). Durkheim wafat pada usia 59 tahun (15 November 1917).

Karya Emile Durkheim

 Sepanjang masa hidupnya Emile Durkheim menghasilkan sejumlah karya (buku). Dimulai pada tahun 1893 ketika ia menerbitkan disertasi doktoralnya yang berjudul The Division of Labor In Society dan tesisnya dalam bahasa latin tentang Montisquieu, tahun 1895: The Rules of Sociological Method, 1897: Suicide, 1912: The Elementary Formsof Religious Life. 1898, ia menerbitkan jurnal L’annee Sociologique yang berpengaruh terhadap pengembangan sosiologi.

 Salah satu karya terbesar dan terpenting yang diberikan oleh Durkheim adalah pemisahan sosiologi dari filsafat, dalam hal ini merintis Sosiologi sebagai salah satu disiplin akademis, dan memberikan batasan cakupan yang jelas dengan ilmu Psikologi.

Emile Durkheim: Pendiri Sosiologi – Integrasi Sosial

Pada bab pembahasan sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa Durkheim merupakan pendiri sosiologi sebagai bagian dari displin akademis, meskipun Durkheim mengakui bahwa sosiologi sudah berkembang sejak Auguste Comte, bahkan pada masa St. Simon. Menurut Durkheim, keseluruhan ilmu pengetahuan tentang masyarakat harus didasarkan pada prinsip-prinsip fundamental yaitu “realitas objektif” dan “kenyataan/fakta sosial”.[3]

Gagasan Durkheim tentang solidaritas dan integritas sosial sebagai fakta sosial sangat dipengaruhi oleh situasi yang terjadi saat itu. Akibat dari revolusi Perancis dan kekalahan Perancis dari Prusia, membuat goyah keteraturan sosial dan situasi politik. Meskipun situasi politik dan sosial goyah, namun revolusi industri tetap maju, dan membawa perubahan dalam struktur ekonomi, hubungan sosial, serta orientasi budaya. Dalam bidang pendidikan, terjadi pergeseran berdasarkan sikap antiklerikal, maka kebanyakan sistim pendidikan Khatolik diganti dengan sistim pendidikan sekuler. Oleh karena itu, dalam masa peralihan ini, Durkheim yang tidak bernostalgia dengan keberhasilan masa lalu, merasa perlu untuk mengembangkan satu alternatif lain pendidikan (secara khusus pendidikan moral). Durkheim memandang bahwa pendidikan moral merupakan salah hal yang amat penting untuk memperkuat dasar-dasar masyarakat dan meningkatkan integrasi serta solidaritas sosialnya.[4]

1 Konsep Fakta Sosial

 Emile Durkheim mengembangkan konsep masalah pokok sosiologi menjadi penting dan kemudian diujinya melalui studi empiris. Secara singkat, Pokok bahasan dari sosiologi adalah studi atas fakta sosial. Fakta sosial didefenisikan sebagai[5]:

Fakta sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal; atau bisa juga dikatakan bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum dipakai suatu masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari manifestasi-manifestasi individual.

Asumsi dasar dari pendefenisian Durkheim tersebut adalah bahwa gejala sosial itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya. Gejala sosial (seperti aturan legal, beban moral, bahasa dan konsensus sosial) sebagai seuatu yang riil/faktual, maka gejala-gejala tersebut dapat dipelajari dengan metode-metode empirik. Oleh sebab itu, dimungkinkan untuk dikembangkannya metode keilmuan dengan gejala/fakta sosial sebagai objek material ilmu tersebut, yaitu ilmu sosiologi.

Kenyataan/fakta sosial tersebut terjadi dalam satu kehidupan bersama/komunitas. Komunitas yang dimaksud di sini adalah komunitas dalam pengertian abad XIX-XX, yang meliputi segala bentuk hubungan yang ditandai oleh tingkat keakraban yang sangat tinggi, kedalaman memosi, komitmen moral, kohesi sosial. Komunitas dibangun atas dasar manusia dalam keutuhannya, bukan peranan-peranannya yang terpisah-pisah.[6]

1.1 Jenis-jenis Fakta Sosial

Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta sosial, yakni fakta sosial material dan fakta sosial non material. Pertama, fakta sosial material, seperti gaya arsitektur, bentuk teknologi, serta hukum dan perundang-undangan, mempunyai kecenderungan untuk lebih mudah dipahami karena dapat diamati secara langsung. Kedua, fakta sosial nonmaterial, merupakan kekuatan moral, seperti nilai dan norma. Meskipun fakta sosial ini bersifat individual (internal) namun dalam interaksi-interaksi individu (masyarakat) maka bentuk dan substansi fakta sosial nonmaterial  ini akan “mematuhi” dan tunduk pada interaksi tersebut, bukan oleh individu per individu (pada titik inilah fakta sosial bersifat eksternal). Durkheim memberikan perhatian yang besar terhadap fakta sosial nonmaterial. Fakta sosial nonmaterial ini terdiri dari, paling kurang, empat jenis, yakni: moralitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. Moralitas sebagai fakta sosial tidak terlepas dari masyarakat. Pada konteks hidupnya, Durkheim menilai bahwa masyarakat terancam kehilangan ikatan moral (ini disebut “patologi”). Hal ini dimungkinkan karena setiap individu memiliki kecenderungan untuk memuaskan nafsu kegilaan untuk mencapai kepuasan (setiap manusia ingin lebih!). Tanpa ikatan moral (moralitas kolektif) maka individu-individu akan menjadi budak dari kesenangan yang selalu meminta lebih!. Moralitas kolektif dapat tercapai melalui fakta sosial nonmaterial lainnya, seperti kesadaran kolektif yang merujuk pada struktur umum pengertian, norma, dan kepercayaan bersama, kesadaran kolektif ini bersifat terbuka dan dinamis. Representasi kolektif, dimengerti sebagai gagasan/ daya sosial yang memaksa individu, seperti simbol agama, mitos, dan legenda populer. Hal mana merupakan  cara individu merepresentasikan kpercayaan, norma, dan nilai kolektif. Arus sosial yang berhubungan dengan luapan-luapan semangat, amarah, dan rasa belas kasihan yang terbentuk dalam kumpulan publik.

1.2 Karakteristik Fakta Sosial

Durkheim mengemukakan tiga karakteristik fakta sosial (yang membedakannya dengan gejala-gejala psikologis), yakni gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu, fakta sosial memaksa individu, dan fakta sosial bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam masyarakat.

The Division of Labor in Society

 The Division of Labor in Society adalah karya monumental dari Durkheim dan merupakan karya sosiologi klasik yang pertama. Di dalamnya Durkheim memanfaatkan ilmu sosiologi untuk meniliti sesuatu yang disebut sebagai krisis moralitas. Selama hidupnya, Durkkheim merasa adanya krisis moralitas di Perancis akibat adanya revolusi Perancis. Revolusi Perancis telah mendorong orang untuk terpusat pada hak-hak individual, yang merupakan reaksi kontra terhadap dominasi gereja. Durkheim melihat bahwa krisis moralitas (individualisme) berakibat pada pembagian kerja yang memaksa individu-individu tertuntut secara ekonomis dan mengancam moralitas sosial, oleh sebab itulah dibutuhkan moralitas sosial yang baru. Pada titik ini, Durkheim memandang bahwa pembagian kerja tersebut dapat berfungsi positif karena pada akhirnya akan membuahkan solidaritas antara dua orang atau lebih.

2.1 Solidaritas Mekanis dan Organis

Perubahan dalam pembagian kerja memiliki implikasi yang sangat besar bagi struktur masyarakat.durkheim sangat tertarik  dengan perubahan cara di mana solidaritas sosial terbentuk, sehingga perubahan cara-cara masyarakat bertahan dan bagaimana anggotanya melihat diri mereka sebagai bagian yang utuh.

Dalam rangka itu, Durkheim mengklasifikasikan solidaritas menjadi dua tipe yakni solidaritas mekanis dan organis. Masyarakat dalam solidaritas mekanis satu dan padu karena seluruh orang adalah generalis. Berdasarkan keserbasamaan moral dan sosial, solidaritas mekanik ini telah diperkuat oleh displin suatu komunitas. Ikatan dalam masyarakat seperti ini terjadi karena mereka terlibat dalam aktivitas yang sama dan memiliki tanggung jawab yang sama. Solidaritas mekanik ini merupakan dasar kohesi sosial, di mana tingkat perorangan sangatlah rendah. Solidaritas mekanis lahir karena adanya kesamaan-kesamaan dalam masyarakat. Masyarakat dalam solidaritas organis didasarkan atas pembagian kerja dalam masyarakat. Solidaritas organis lahir karena adanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat.

2.2. Dinamika Penduduk

Pembagian kerja sebagai fakta sosial material diyakini oleh Durkheim mesti dijelaskan oleh fakta sosial yang lainnya. Durkheim meyakini bahwa perubahan solidaritas mekanis menjadi solidaritas organis disebabkan oleh dinamika penduduk. Konsep ini merujuk pada jumlah orang dalam masyarakat dan banyaknya interaksi yang terjadi di antara mereka. Semakin banyak orang berarti makin meningkatnya kompetisi memperebutkan sumber-sumber yang terbatas, sementara makin meningkatnya jumlah interaksi akan berarti makin meningkatnya perjuangan untuk bertahan di antara komponen-komponen masyarakat. Peningkatan pembagian kerja seharusnya menyebabkan orang untuk saling melengkapi, dan bukannya berkonflik satu sama lain. Peningkatan pembagian kerja menawarkan efisiensi yang lebih baik, yang menyebabkan peningkatan sumber daya, menciptakan kompetensi di antaranya secara damai. Masyarakat yang dibentuk oleh solidaritas organis mengarah pada bentuk yang lebih solid dan lebih individual daripada masyarakat yang dibentuk oleh solidaritas mekanis. Di sini, Durkheim memberi muatan positif pada individualitas  yang bukannya menghancurkan keeratan ikatan sosial, tetapi malahan dibutuhkan untuk memperkuat ikatan tersebut.

2.3 Hukum Represif dan Restutif

 Fakta sosial material dan fakta sosial nonmaterial sebetulnya saling terkait. Dalam pembahasan sebelumnya, pembagian kerja dan dinamika penduduk adalah fakta sosial material dan solidaritas yang terbentuk di dalamnya adalah fakta sosial nonmaterial. Namun, perhatian Durkheim lebih ditujukan pada fakta sosial nonmaterial, yakni solidaritas tersebut. Untuk mempelajari fakta sosial nonmaterial secara ilmiah, sosiolog harus menguji fakta sosial material yang merefleksikan hakikat dan perubahan fakta sosial nonmaterial. Dalam karya monumentalnya tersebut, Durkheim mencoba untuk menkaji perbedaan antara hukum dalam masyarakat dengan solidaritas mekanis dengan hukum dalam masyarakat dengan solidaritas organis. Hukum represif membentuk masyarakat dengan solidaritas mekanis, karena moralitas kolektif yang ada menjadi standar untuk menghukum. Pada hukum represif ini, pelanggaran terhadap moralitas bersama akan membuat pelanggar dihukum secara berat. Hukum restitutif (bersifat memulihkan) membentuk masyarakat dengan solidaritas organis. Dalam masyarakat seperti ini, pelanggaran dilihat sebagai serangan terhadap individu, bukan terhadap sistim moral kolektif. Pada masyarakat dengan solidaritas ini, sistim moral kolektif bergeser maknanya, bukan dihilangkan. Hukum yang diterapkan didasarkan atas restitusi.

2.4 Normal dan Patologi

Salah satu hal yang cukup ditekankan dalam gagasan Durkheim dalam bukunya tersebut adalah bahwa seorang sosiolog harus mampu untuk membedakan mana masyarakat sehat dan mana masyarakat yang patologis. Durkheim menyatakan bahwa masyarakat yang sehat bisa diketahui karena sosiolog akan menemukan kondisi yang sama dalam masyarakat lain yang sedang berada pada level yang sama. Jika masyarakat dalam kondisi yang biasanya mesti dimilikinya, maka bisa jadi masyarakat itu sedang mengalami patologi. Durkheim menggunakan ide ini untuk mengeritik beberapa bentuk abnormal yang ada dalam pembagian kerja modern. Ada tiga bentuk perilaku abnormal yakni (1) pembagian kerja anomik, yakni tidak adanya regulasi dalam masyarakat yang menghargai individualitas yang terisolasi dan tidak mau memberitahu masyarakat  tentang apa yang harus mereka kerjakan. Perilaku ini mengacu pada kondisi sosial di mana manusia mengalami kekurangan pengendalian moral, (2) pembagian kerja yang dipaksakan, perilaku ini merujuk pada fakta bahwa norma yang ketinggalan zaman dan harapan-harapan bisa memaksa individu, kelompok, dan kelas masuk ke dalam posisi yang tidak sesuai bagi mereka. Tradisi, kekuatan ekonomi atau status bisa menjadi lebh menentukan pekerjaan yang dimiliki, ketimbang bakat dan kualifikasi. (3) pembagian kerja yang dikoordinasi dengan buruk. Disini Durkheim kembali menyatakan bahwa solidaritas organis berasal dari kesalingbergantungan antarmereka. Jika spesialisasi seseorang tidak lahir dari kesalingbergantungan yang meningkat, melainkan dalam isolasi, maka pembagian kerja tidak akan terjadi di dalam solidaritas sosial.

2.5 Keadilan

Agar pembagian kerja dapat berfungsi sebagai moral dan secara sosial menjadi kekuatan pemersatu dalam masyarakat modern, maka ketiga perilaku patologi tersebut harus diminimalisir. Keadilan sosial merupakan kunci bagi proses yang dialami masyarakat modern, yang tidak lagi dipersatukan atas dasar persamaan, tetapi atas dasar perbedaan, di mana perbedaan tersebut mengarah pada sikap kesalingbergantungan.

2.6 Bunuh Diri

 Pentingnya arti solidaritas sosial dalam masyarakat bagi seorang individu ditunjukkan oleh Durkheim dalam menganalisis tindakan bunuh diri. Tindakan yang demikian tampak individual tidak dapat dijelaskan melalui cara individual, karena selalu berhubunganan dengan perkara sosial.

Studi Durkheim tentang bunuh diri adalah contoh keterkaitan teori yang dikemukakan oleh Durkheim dengan penelitian. Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini realtif merupakan fenomena konkret dan spesifik, di mana tersedia data yang bagus secara komparatif. Dengan tujuan utama untuk menunjukkan kekuatan ilmu sosiologi. Bunuh diri yang adalah tindakan pribadi dan personal dapat dianalisa dengan menggunakan ilmu sosiologi. Durkheim tidak memfokuskan diri pada mengapa orang bunuh diri, tetapi pada mengapa angka bunuh diri dalam satu kelompok (masyarakat) bisa lebih tinggi dari kelompok (masyarakat) yang lainnya. Kesimpulan Durkheim akan hal tersebut adalah bahwa faktor terpenting dalam perbedaan angka bunuh diri akan ditemukan dalam perbedaan level fakta sosial. Kelompok yang berbeda memiliki sentimen kolektif yang berbeda sehingga menciptakan arus sosial yang berbeda pula. Arus sosial itulah yang mempengaruhi keputusan seorang individu untuk bunuh diri.

Teori bunuh diri Durkheim dapat dilihat dengan jelas melalui memahami dua fakta sosial utama yang membentuknya, yakni: integrasi dan regulasi. Integrasi merujuk pada kuat tidaknya keterikatan dengan masyarakat dan regulasi merujuk pada tingkat paksaaan eksternal yang dirasakan oleh individu. Menurut Durkheim, kedua arus sosial tersebut adalah variabel yang saling berkaitan dan angka bunuh diri meningkat ketika salah satu arus menurun dan yang lain meningkat. Berdasarkan hal tersebut maka terdapat empat jenis bunuh diri, yakni: bunuh diri egoistis, bunuh diri altruitis, bunuh diri anomik, dan bunuh diri fatalistis. Keempat jenis bunuh diri dapat dijelaskan dengan bagan:

Empat jenis Bunuh Diri

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­Integrasi                                             Rendah                                   Bunuh Diri Egoistis

                                                            Tinggi                                     Bunuh Diri Altruistis

Regulasi                                             Rendah                                   Bunuh Diri Anomik

                                                            Tinggi                                     Bunuh Diri Fatalistik

Dalam kasus bunuh diri egoistis, manusia berlaku sebagai pribadi dan manusai sosial. Manusia sosial mengandalkan adanya suatu masyarakat tempat ia mengungkapkan dan mengabdikan dirinya. Jika di dalam keadaan masyarakat ini tidak erat fakta sosialnya, maka individu tidak lagi merasakan kehadiran masyarakat sebagai pelindungnya, dan hilanglah tempat berpijak individu, yang tinggal hanyalah kesepian yang menekan. Makin lemah atau longgar ikatan sosial anggotanya anggotanya, makin kecil ketegantungan si individu terhadap masyarakat itu. Dalam keadaan seperti ini, individu bergantung pada dirinya sendiri, dan hanya mengakui aturan-aturan yang menurutnya benar dan menguntungkan dirinya. Dalam kasus bunuh diri altruistik, terjadi ketika adanya kewajiban untuk membunuh dirinya yang diakibatkan oleh ketatnya aturan adat. Disini integrai individualnya sangat kokoh. Contoh bunuh diri pada kasus ini adalah bunuh diri seorang istri akan kematian suaminya, bunuh diri seorang pelayan pada kematian tuannya, atau seorang prajurit pada kematian pemimpinnya. Dalam kasus bunuh diri anomik, masyarakat bukanlah hanya merupakan tempat tumpuan perasaan individu, dan aktivitas sekelompok individu yang berkumpul menjadi satu, tetapi masyarakat juga memiliki kekuatan untuk menguasai individu-individu anggota masyarakat tersebut. Antara cara regulatif itu terlaksana dan jumlah bunuh diri terdapat kaitan yang sangat erat. Kurangnya kekuatan mengatur dari masyarakat terhadap individu, menyebabkan terjadinya kasus bunuh diri. Bunuh diri semacam ini terjadi dalam masyarakat modern. Kebutuhan seorang individu dan pemenuhannya diatur oleh masyarakat. Kepercayaan dan praktek-praktek yang dipelajari individu membentuk dirinya dalam kesadaran kolektif. Jika pengaturan terhadap individu ini melemah, maka kondisi bunuh diri memuncak. Fakta menunjukkan bahwa krisis ekonomi membangkitkan kecenderungan bunuh diri dan sebaliknya, keadaan kemakmuran yang datangnya lebih cepat juga mempengaruhi kejiwaan anggota masyarakat.

 Berdasarkan pembahasan di atas, maka bunuh diripun dapat dianalisis secara sosial, dalam bunuh diri egoistis, hidup individu seolah-olah kosong, karena pemikiran terserap ke dalam diri individu, tidak lagi mempunyai objek. Bunuh diri atruistik, individu  melepaskan diri sendiri dalam antusiasme kepercayaan religius, politik. Bunuh diri anomik, si individu telah kehilangan dirinya larut ke dalam nafsu yang tidak terbatas.

Sumber: Djuretna Imam Muhdi, Moral dan Religi Menurut Emile Durkheim dan Henri, Bergson, Yogyakarta: Kanisius, 1994, George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004 , Robert J. Lawang (terj.), Doyle Paul Jhonson, Teori Sosiologi: Klasik dan Modern Jilid I, Jakarta: Gramedia, 1988


[1] Robert J. Lawang (terj.), Doyle Paul Jhonson, Teori Sosiologi: Klasik dan Modern Jilid I, Jakarta: Gramedia, 1988, hlm. 168.

[2] Bahkan pengaruh ini disebut bersifat formatif. Lht. Djuretna Imam Muhdi, Moral dan Religi Menurut Emile Durkheim dan Henri Bergson, Yogyakarta: Kanisius, 1994, hlm.28.

[3] Pernyataan Durkheim bahwa: “Kenyataan sosial harus diteliti sebagai barang sesuatu. Kenyataan sosial harus diartikan sebagai gejala/faktor/kekuatan sosial. Lht. Djuretna, Ibid, hlm.29.

[4] Robert J. Lawang (terj.), Doyle Paul Jhonson, Teori Sosiologi: Klasik dan Modern Jilid I, Jakarta: Gramedia, 1988, hlm.170-171

[5] Pernyataan ini, selain untuk membedakan dengan displin ilmu psikologi, Durkheim memberikan dua batasan, yakni fakta sosial adalah pengalaman eksternal dan tidak terikat pada individu partikular. Oleh sebaba itulah, Emil Durkheim dikenal sebagai ”bapak Sosiologi”. Lht. George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2004, hlm.81.

[6]Djuretna, Ibid, hlm. 30-31.

 

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

4 Comments

  1. saya suka artikelnya, cukup mudah untuk dipahami. kalau boleh saya mengutip sedikit tentang fakta sosial yang telah anda tulis untuk melengkapi tugas saya tentang pemikiran Emile Durkheim.terimakasih.

  2. I read a lot of interesting content here. Probably you
    spend a lot of time writing, i know how to save you a lot
    of time, there is an online tool that creates readable, SEO friendly articles in minutes, just search
    in google – laranitas free content source

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Pengantar Sosiologi | Catatan Teori Organisasi dan Manajemen
  2. Manajemen Karir | Herlanda Marta Atmaja Web Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*