Contoh Seni Mengenal Orang: Kurir Pengirim Uang

Tao Zhu Gong IMG
Tao Zhu Gong

(Mendukung 12 Prinsip Bisnis Tao Zhu-Gong)

Seni mengenal orang dalam perilaku bisnis tidak hanya terbatas pada orang Cina saja. Keturunan Asia lainnya seperti India, arab, Melayu dan Indonesia juga sangat mengandalkan hubungan pribadi dalam kesepakatan bisnis mereka. Di Eropa, orang Italia juga mengandalkan hubungan seperti ini dalam perilaku bisnis mereka. Penting diketahui bahwa mengandalkan hubungan pribadi dan pertalian merupakan sesuatu yang alami, khususnya bila kesepakatan atau transaksi tersebut dalam pelaksanaannya harus mengandalkan seseorang. contohnya di bawah ini:

Di Singapura, disuatu tempat yang cukup terkenal bernama Little India (India Kecil) di sepanjang jalan Serangon, terdapat suatu pasar penukaran mata uang asing yang ramai. Pasar ini melayani pekerja-pekerja Bangladesh maupun India yang bermaksud mengirmkan hasil kerja kerasnya ke keluarga didesa asal mereka. pada hari Minggu sore, jumlah orang dipasar itu mencapai ribuan orang. Para pekerja ini akan membentuk kelompok-kelompok kecil di sekeliling setiap kurir pengirim uang (dalam bahasa Bengali disebut Hundi). Setiap Hundi memiliki “bodyguard” dan pembantu-pembantu. Harga nilai tukar mata uang asing diumumkan ke orang-orang yang mengelilinginya. Jika seorang pekerja telah memilih hundi-nya, ia akan mengatakan kepada hundi itu kemana dan kepada siapa ia ingin mengirimkan uang itu. Hundi akan mencatat tujuan uang itu dalam sebuah buku kumal, dan “memetraikan” kesepakatan bisnis ini dengan janji dan jabatan tangan. Selesai sudah – – tidak ada tanda terima yang diberikan kepada kliennya (para pekerja asing itu).

Singapura tidak kekurangan bank atau agen pengirim uang, namun para pekerja asing tetap memilih hundi. Ada beberapa alasan. Para hundi biasanya datang dari negara, latar belakang bahkan desa yang sama dengan para pekerja. Beberapa diantaranya juga dulu bekerja sebagai pekerja kasar seperti mereka. Jadi hundi bukan hanya bisa merasakan kerja keras dan keadaan kliennya, mereka juga memiliki keterkaitan dengan rumah dan keluarga para pekerja. Lagipula para hundi ini memberikan harga nilai tukar yang jauh lebih baik daripada bank atau agen penukaran uang lainnya. Juga tidka ada beban biaya tambahan, administrasi ataupun komisi. Yang lebih penting lagi, Hundi yang usahanya telah mapan mendapatkan reputasi yang baik karena mereka terbukti bisa diandalkan dan dipercaya dalam memegang janjinya dan mengirimkan barang yang disepekati.

Sistem penukaran dan pengiriman uang seperti Hundi ini tidak hanya ada di Singapura saja. Kenyataannya dinegara-negara dimana banyak tenaga kerja asing, jaringan kerja imformal semacam ini biasanya akan muncul. Selain alasan-alasan yang dikemukakan sebelumnya, perlu diperhatikan bahwa tenaga kerja asing yang tidak punya kemampuan khusus biasanya adalah orang-orang yang tidak berpendidikan atau berpendidikan sangat rendah. Jadi mereka cenderung takut memasuki bank dan segala birokrasi dan pelayanannya yang impersonal. Juga adanya biaya tambahan. Sebaliknya, Hundi adalah orang-orang yang mereka kenal. Jika sampai keluarga mereka tidak menerima uangnya maka mereka akan memburu Hundi itu karena mereka mengenalnya secara pribadi. Ini adalah sistem yang dibangun diatas dasar kepercayaan, sebab itu para Hundi diharapkan menjaga kepercayaan mereka sehingga bisnisnya bisa terus berlanjut.

Dari contoh-contoh diatas, tidaklah mengejutkan jika para pengusaha Cina menempatkan kemampuan “mengenal orang” pada tempat yang penting. Ini karena secara tradisional, pengusaha cina selalu mementingkan hubungan (guanxi) dan rasa percaya (xin yu) dalam kesepakatan bisnis mereka daripada kontrak tertulis. Sebab itu bisa dimengerti jika bisnis mereka cenderung berpusat paa orang (zhong ren).

Bila seseorang mempercayai orang lain, perjanjian tidak diperlukan lagi. Siapa yang perlu membuat perjanjian dengan anaknya tentang tugas dan kewajiban kedua pihak? Jaman dahulu di Cina tidak ada surat pernikahan. Pasangan yang akan menikah hanya berjanji didepan penduduk desa. Tidak ada dokumen yang membuktikan bahwa mereka sudah menikah. Namun mereka menjalani hidup dengan mematuhi kewajiban masing-masing. Karena itu, dari sudut pandang orang Cina, bila bisnis semakin lama semakin tebal, menunjukkan kedua pihak semakin tidak percaya satu sama alain. Oleh karena itu, kenapa susah payah melanjutkan hubungan bisnis?

Pepatah berikut ini menekankan terbinanya hubungan langsung:

Bertemu secara pribadi akan memastikan adanya rasa (jian mian san fen qing).

Lama mendengar berita tentang seseorang tidak sebanding dengan menemuinya (jiu wen bu ru yi jian).

Saat kita bertemu, serasa seperti kita sudah berteman lama (yi jian ru gu).

Manajemen dengan pendekatan yang berorientasi pada manusia memerlukan adanya investasi waktu dan usaha dalam membina hubungan dan jaringan bisnis. Karena itu tidaklah mengejutkan bila sekali guanxi terbina maka akan berlangsung dalam waktu yang lama. Akibatnya, hubungan bisnis orang Cina cenderung lebih berorientasi pada perasaan (zong qing). Konsep “wajah” (mian zi) menjadi manifestasi dan representasi hubungan dan perasaan yang sangat penting.

Karena itu, jika ada ketidaksepakatan atau perselisihan antara kedua pihak, menghargai perasaan orang lain sangat penting artinya. Ini bisa juga termasuk menyelamatkan muka orang lain. Jika tidak bisa dicapai persetujuan, mereka akan selalu mencoba menyelesaikan masalah, perbedaan, pertikaian atau ketiksepakatan mereka melalui perantara, biasanya menggunakan orang lain yang bisa diterima keduanya. Disinilah biasanya logika mulai muncul, karena penengah harus seadil dan seobjektif mungkin agar bisa dipercaya dan dihormati. Hanya apabila usaha penengah gagal, mereka dengan berat hati akan meneruskan ke pengadilan. Bagi orang Cina, sekali dilakukan usaha hukum, maka seluruh hubungan akan rusak dan akan sulit bagi kedua pihak untuk bekerja sama kembali.

Pendekatan “perasaan-logika-hukum” (qing, li, fa) sangat mewarnai cara berbisnis di kalangan orang Cina. Hal ini sangat bertolak belakang dengan yang terjadi dikalangan orang Amerika yang secara umum lebih memilih sebaliknya, yaitu: “hukum-logika-perasaan” (fa, li, qing). Bagi pengusaha Amerika, perjanjian berdasarkan hukum bukan saja merupakan jaminana terbaik dalam hubungan bisnis, tetapi juga memuat kewajiban bersama kedua pihak, dan bagaimana menyelesaikan pertikaian yang mungkin muncul. Pendekatan ini lebih disenangi karena di Amerika ada sistem yuridis yang begitu kuat menjamin bahwa perjanjian bisa ditegakkan sebagai hukum. Menariknya, selama pembicaraan-pembicaraan yang saya sampaikan dalam konsultasi di Eropa, saya melihat bahwa orang Eropa cenderung menggunakan pendekatan “logika-hukum-perasaan” (li, fa, qing).

Jika kita bicara tentang mengenali orang, ada satu hal penting lagi yang harus diperhatikan. Bersama dengan berlalunya waktu, perbedaan situasi dan keadaan , sifat dan kepribadian seseorang bisa berubah. Hal ini harus disadari. Sayangnya, orang Cina dan banyak suku Bangsa di Asia melupakan hal itu. Jarang sekali orang yang sudah mendapat reputasi “bisa dipercaya” (xin yu) dan bisa diandalkan (ke kao) diuji lagi untuk melihat apakah atribut tersebut masih tetap melekat padanya. Tidak jarang sebaliknya yang terjadi. Seringkali terlalu banyak pujian dan kepercayaan yang diberikan padanya, orang yang dekat padanya atau yang direkomendasikannya.

Misalnya: pinjamana sering diberikan pada seseorang tanpa diteliti lebih dahulu sepanjang ia didukung oleh orang yang cukup dikenal. Akibatnya, saat pinjaman tidak terbayar, keuangan perusahaan sangat sulit diselamatkan. Inilah salah satu penyebab utama terjadinya krisis keuangan di kebanyakan negara Asia 1997/1998. Sistem mempercayai orang yang dikenal semacam inilah yang membangkitkan nepotisme dan praktik korupsi lainnya yang akhirnya diketahui umum setelah terjadinya krisis ekonomi Asia tahun 1997/1998. Hal ini disebabkan oleh kecendrungan melupakan pentingnya transparansi, pemeriksaan dan keseimbangan.

Sebaliknya, sistem masyarakat Barat yang mengandalkan kontrak tertulis mendorong tumbuhnya transparansi, objektivitas dan pertanggungjawaban. Dalam masalah pinjaman bank, misalnya, orang Barat akan melakukan tes dan penyelidikan yang jauh lebih ketat. Hal seperti inilah yang harus dipelajari orang Timur dari orang Barat. Kita harus berupaya memadukan hal yang terbaik dari Timur dan di Barat sehingga bisa memperoleh yang terbaik dari kedua sistem tersebut.

Sumber: Tao Zhu-Gong; 12 Kaidah Emas Keberhasilan Bisnis

p style=”text-align: justify;”

!–more–/p

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*