Bisnis Premium

Louis Vuitton IMG
Louis Vuitton
Louis Vuitton IMG
Louis Vuitton

Bisnis premium atau barang mewah adalah konsep yang menawarkan produk-produk high end dan layanan menarik bagi konsumen secara diskriminatif. Citra merek merupakan faktor penting dalam model bisnis premium, karena kualitas sering merupakan masalah subyektif. Model bisnis ini mencari margin keuntungan yang lebih tinggi pada volume penjualan yang lebih rendah. Beberapa contoh dari model ini adalah: Rolls-Royce, BMW dan Mercedes-Benz, BMW, Audy, Jaguar dan Volvo dalam industri otomotif, Gucci dan Louis Vuitton pada tas dan jam tangan Rolex di industri mewah aksesoris.

Bisnis ini sangat luar biasa perkembangannya. Terindikasi dari maraknya pembukaan gerai-gerai barang mewah di Indonesia. Prada, Etienne Aigner, Louis Vuitton atau Channel adalah sebagian dari deretan merek premium yang menyediakan gerai di Indonesia. Alasan utama ekpansi merek-merek premium tentu atas dasar pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Asia pada umumnya yang cenderung positif. Fenomena ini juga terjadi di India dan China. Alasan khusus tentu adapula sebab selera masyarakat disini akan barang mewah juga tinggi atau hedonis. Istilahnya biar makan terasi asal berdasi.

Namun demikian bukan berarti peluang bisnis ini tiada tantangan di Indonesia. Kenaikan tarif penjualan oleh pemerintah atas barang mewah (PPnBM) hingga 200% untuk mobil dengan kapasitas mesin besar dipastikan menyebabkan pasar mobil premium anjlok. Tidak hanya itu, setoran pajak yang diterima negara dari bisnis mobil mewah juga ikut menyusut. Kebijakan-kebijakan yang tidak tepat cq pemberlakuan pajak yang tinggi terhadap barang mewah dapat menyebabkan konsumen potensial yang ada akan kembali ke perilaku asal yaitu berbelanja ke luar. Umumnya ke Singapura dan Paris. Perilaku demikian tentu tak mendorong bisnis ini tidak berkembang di pasar lokal.

Pemalsuan juga sebuah soal lain yang barangkali bisa dikategorikan sebagai hambatan bisnis ini. Istilah KW adalah sesuatu yang lumrah di sini. Walaupun belum diteliti korelasinya terhadap perkembangan pasar produk barang mewah namun pengaruh negatifnya ada misalnya keengganan klub-klub sepak bola elit bermain ke Indonesia karena penjualan  merchandise mereka jauh lebih rendah dibanding barang palsu. Hal ini kelihatannya berlaku buat produk lain dengan pengecualian mobil mewah yang tak dapat ditiru begitu saja.

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Premium_business_model

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*