Bisnis Potong Rantai Pasok (Disintermediation)

Disintermediation IMG
Disintermediation
Disintermediation IMG
Disintermediation

Bisnis Potong Rantai Pasok atau disintermediation adalah penghilangan perantara dalam rantai pasokan: ‘memotong rantai’ alih-alih melalui saluran distribusi tradisional, yang memiliki beberapa jenis penengah (seperti distributor, grosir, broker, atau agen), perusahaan sekarang dapat menangani setiap pelanggan secara langsung, misalnya melalui internet. Salah satu faktor penting adalah penurunan dalam biaya melayani pelanggan secara langsung. Model ini sangat erat hubungannya dengan penjualan langsung. Bisnis-ke-konsumen atau B2C kini dimediasi oleh perdagangan elektronik sebagai fungsi jembatan antara pembeli dan produsen. Disintermediasi yang diprakarsai oleh konsumen seringkali adalah hasil dari transparansi pasar yang tinggi kini, dimana pembeli mengetahui harga suplai langsung dari produsen.

Pembeli kini telah memotong perantara (pedagang besar dan pengecer) untuk membeli langsung dari produsen, dan membayar lebih sedikit. Pembeli dapat memilih alternatif untuk membeli dari grosir. Sebagai ilustrasi, sebuah rantai pasokan khas B2C awalnya terdiri dari empat atau lima entitas (dalam urutan): Pemasok-Pabrikan-Grosir-Pengecer-Pembeli namun kini seperti dikemukakan bahwa tehnologi termasuk internet telah memodifikasi rantai pasokan karena transparansi pasar menjadi: Pemasok-Pabrikan-Buyer Contents. Istilah ini awalnya diterapkan pada industri perbankan pada sekitar 1967. Ia kemudian diterapkan secara lebih umum untuk ‘memotong perantara’ dalam perdagangan.

Dampak internet terkait disintermediasi pada berbagai industri antara lain terhadap komputer hardware dan software, agen perjalanan, toko buku dan toko musik, pembelian saham, e-trade, minuman beralkohol, real estat dan lain-lainnya. Contoh yang paling menonjol dari disintermediasi yang sukses adalah Dell, yang menjual banyak sistem yang langsung ke konsumen – sehingga melewati rantai ritel tradisional, dan yang telah berhasil menciptakan merek, dikenal dengan baik oleh pelanggan, menguntungkan dan dengan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dalam dunia non-internet, disintermediasi telah menjadi strategi penting bagi banyak pengecer beromset besar seperti Walmart, yang mencoba untuk menurunkan harga dengan mengurangi jumlah perantara antara pemasok dan pembeli. Disintermediasi juga terkait erat dengan bidang manufaktur, karena penghapusan kebutuhan untuk persediaan menghilangkan salah satu fungsi perantara. Keberadaan undang-undang yang mencegah disintermediasi telah dikutip sebagai alasan untuk kinerja ekonomi yang buruk dari Jepang dan Jerman pada tahun 1990an.

Namun keterkaitan disintermediasi dengan dunia internet tidak selamanya baik adanya sebab pelayanan terhadap konsumen tidak maksimal. Dia bersaing dengan pengecer dan grosir yang menyediakan fungsi penting seperti pemberian kredit, agregasi produk dari pemasok yang berbeda, dan pengolahan kembali. Selain itu, pengiriman barang ke dan dari produsen dapat dalam banyak kasus jauh kurang efisien daripada pengiriman mereka ke toko dimana konsumen bisa mengambilnya. Menanggapi ancaman disintermediasi, beberapa pengecer telah berusaha untuk mengintegrasikan kehadiran virtual dan kehadiran fisik di suatu strategi yang dikenal sebagai bisnis online dan offline batu bata dan klik.

Reintermediation

Reintermediation dapat didefinisikan sebagai reintroduksi perantara antara pengguna akhir (konsumen) dan produser. Istilah ini berlaku terutama untuk kasus di mana telah terjadi disintermediasi. Pada awal revolusi internet, perdagangan elektronik dipandang sebagai alat disintermediasi untuk memotong biaya operasional. Konsepnya adalah bahwa dengan memungkinkan konsumen untuk membeli produk langsung dari produsen melalui internet, rantai pengiriman produk akan dipersingkat secara drastis. Namun, apa yang sebagian besar terjadi adalah perantara baru muncul dalam lanskap digital misalnya keberhasilan Amazon dan eBay.

Reintermediation terjadi karena masalah baru yang terkait dengan konsep disintermediasi e-commerce, sebagian besar berpusat pada isu yang terkait dengan model langsung ke konsumen. Tingginya biaya pengiriman pesanan kecil, masalah pelanggan besar layanan, dan menghadapi murka pengecer disintermediated dan mitra saluran pasokan merupakan hambatan nyata. Sumber daya yang besar diperlukan untuk menampung presales dan masalah postsales konsumen. Sebelum disintermediasi, suplai rantai perantara bertindak sebagai tenaga penjualan bagi produsen. Tanpa mereka, produsen itu sendiri harus menangani pengadaan pelanggan tersebut. Jual online memiliki biaya terkait sendiri seperti mengembangkan situs web berkualitas, menjaga informasi produk, dan biaya pemasaran yang bertambah. Akhirnya, membatasi ketersediaan produk lewat saluran internet memaksa produsen untuk bersaing dengan seluruh Internet untuk merebut perhatian pelanggan, ruang yang semakin ramai dari waktu ke waktu.

Kelihatannya bisnis online dan offline menjadi jalan tengah yang tepat bagi pengembangan model bisnis ini selanjutnya. Jadi sebenarnya mata rantai pemasok itu tidak benar-benar putus.

http://en.wikipedia.org/wiki/Disintermediation

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*