Auguste Comte: Kemajuan Budaya

Auguste Comte IMG
Auguste Comte

Banyak tokoh-tokoh sosiologi yang ada dan yang telah mengutarakan pokok-pokok pemikirannya, tetapi untuk kali ini diparkan salah satu tokoh atau filsuf dari Perancis yang telah meletakan dasar dari bidang Ilmu Pengetahuan, yaitu Auguste Comte. Sebagaimana yang diungkapkan oleh tokoh sejarah ilmu dari Amerika Serikat, George Sarton, peletak dasar bidang pengetahuan itu adalah filsuf Perancis Auguste Comte yang menulis buku berjudul Cours de Philosophie Positive (1830-1842).

Kelahiran dan Pendidikannya

Auguste Comte lahir di Mountpelier, Perancis 19 Januari 1798, keluarganya beragama Khatolik dan berdarah bangsawan, tetapi Comte tidak memperlihatkan loyalitasnya. Ayahnya menjadi seorang pegawai kerajaan, tepatnya pegawai lokal kantor pajak dan sekaligus seorang penganut Khatolik yang saleh. Dengan latar belakang yang seperti ini, tidak mengherankan jika ayah Comte bekerja keras untuk menjadikan Comte sebagai pegawai kerajaan dan juga sebagai penganut agama Katolik yang saleh. Namun demikian, Comte ternyata tidak bersedia mewujudkan cita-cita ayahnya. Sebagai seorang yang berpikiran bebas dan memiliki kemampuan untuk memikirkan dirinya sendiri, Comte lebih suka memilih jalan hidupnya sendiri. Di usia yang ke-13, ia menjadi seorang republikan yang militan dan skeptis terhadap ajaran-ajaran agama Katolik.

Comte mendapat pendidikan lokal dari sebuah sekolah di daerah asalnya, Mountpelier. Di sini ia sangat berbakat di bidang Matematika. Oleh karena itu, usai menyelesaikan sekolahnya, Comte pindah ke Parisuntuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di Ecole Polytechnique, sebuah politeknik yang sangat bergengsi pada masa itu. Comte berhasil lolos dalam seleksi dan diterima sebagai mahasiswa di Ecole Polytechnique. Hal ini terjadi saat Comte berumur 16 tahun. Di Politeknik ini, Comte menekuni Matematika dan Fisika, dan tergolong sebagai mahasiswa yang cerdas dan berbakat. Comte cukup lama hidup diParis dan ia pun mengalami suasana pergolakan sosial, intelektual dan politik.

Comte tidak mendapat ijazah Perguruan Tinggi karena sikap=sikap Comte sendiri yang amat kritis dan sering mengajukan petisi terhadap para gurunya ketika mereka melakukan kesalahan. Disamping itu, Comte juga memimpin gerakan-gerakan revolusioner di lingkungan sekolahnya. Pada tahun 1816, sekolah ini direstorasi, dan tidak mentolelir sikap-sikap yang revolusioner. Oleh karena itu, di tahun itu juga, Ecole Polytechnique ditutup karena dianggap mengembangkan sikap-sikap yang revolusioner. Dampaknya,Comte dan teman-temannya dipulangkan tanpa pernah mendapat ijazah.

Comte memulai karirnya dengan memberikan les dalam bidang Matematika. Meskipun ia sudah memperoleh pendidikan Matematika, tetapi sebenarnya perhatian utamanya adalah terhadap masalah-masalah kemanusiaan dan sosial.

Tahun 1817 Auguste Comte menjadi sekretaris (dan menjadi anak angkat) Saint Simon dan mereka bekerja sama selama beberapa tahun dan Comte menyatakan utang budinya kepada Saint Simon “Aku secara intelektual sangat berhutang budi kepada Saint Simon. Ia memberikan dorongan sangat besar kepadaku dalam studi Filsafat yang memungkinkan diriku menciptakan pemikiran Filsafatku sendiri dan yang akan aku ikuti tanpa ragu selama hidupku”.

Tahun 1824 keduanya bersengketa karena Comte yakin Saint Simon menghapus namanya dari salah satu karya sumbangannya, sehingga tahun 1852 Comte berkata tentang Saint Simon : “Aku tak berhutang apapun pada tokoh terkemuka itu”.

Auguste Comte kemudian kehilangan pekerjaan, ia berusaha melamar satu posisi di universitas, tetapi sekolah politeknik tidak mau memberi jabatan kepada mantan mahasiswanya yang terlalu memberontak.

Tahun 1826 Comte membuat sebuah catatan yang kemudian menjadi bahan kuliah (ceramah) umum sebanyak 70 kali tentang pemikiran filsafatnya. Kuliah itu dilakukan di rumahnya sendiri. Pada masa inilah Comte menikahi Caroline Massin, seorang mantan pelacur yang telah dikenalnya sejak lama. Tetapi perkawinan ini berujung buruk. Beberapa kali Caroline berusaha kabur dari rumah hendak menjual diri lagi. Krisis yang dialami pasangan ini menyebabkan Comte mengalami gangguan saraf dan mental, hingga tahun 1827 ia mencoba bunuh diri dengan mencebur ke sungai Saine, untungnya ia selamat.

Setelah mampu mengatasi beban kehidupannya, Comte bekerja keras untuk menyelesaikan karya besarnya Le Cour de Philosiphie Positive (Kuliah Filsafat Positif). Buku ini terdiri dari 6 jilid dan ditulis selama 12 tahun (1830-1842). Dalam karya ini Comte melukiskan sosiologi sebagai ultimate science.

Pada tahun 1844, Comte bertemu dengan seorang perempuan bernama Clothilde de Vaux dan mereka saling jatuh cinta. Sayangnya, cinta mereka tidak dapat bersatu dalam pernikahan karena Clothilde de Vaux menderita penyakit TBC. Perjumpaan dengan wanita itu, berdampak besar bagi karya Comte berikutnya, yaitu Systeme de Politique Positive. Dalam karya ini, Comte tidak hanya mengungkapkan mengenai pelaksanaan praktis dari sistem filsafat yan telah dikemukakannya didalam Le Cour de Philosiphie Positive, tetapi juga mengungkapkan kekuatan cinta dalam masyarakat. Diberikannya tempat untuk cinta dalam masyarakat, sesungguhnya merupakan bentuk penghargaan Comte akan cinta yang terjalin antara dirinya dengan Clothilde de Vaux. Comte akhirnya mendapat sejumlah besar pengikut di Perancis dan beberapa negara lainnya. Comte meninggal 5 September 1857.

Konteks Sosial dan Lingkungan Intelektual

Untuk memahami pikiran Auguste Comte, kita harus mengaitkan dia dengan faktor lingkungan kebudayaan dan lingkungan intelektual Perancis. Comte hidup pada masa revolusi Perancis yang telah menimbulkan perubahan yang sangat besar pada semua aspek kehidupan masyarakat Perancis. Revolusi ini telah melahirkan dua sikap yang saling berlawanan yaitu sikap optimis akan masa depan yang lebih baik dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebaliknya sikap konservatif atau skeptis terhadap perubahan yang menimbulkan anarki dan sikap individualis.

Lingkungan intelektual Perancis diwarnai oleh dua kelompok intelektual yaitu para peminat filsafat sejarah yang memberi bentuk pada gagasan tentang kemajuan dan para penulis yang lebih berminat kepada masalah-masalah penataan masyarakat.Parapeminat filsafat sejarah menaruh perhatian besar pada pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah sejarah memiliki tujuan, apakah dalam proses historis diungkapkan suatu rencana yang dapat diketahui karena Wahyu atau akal pikiran manusia, apakah sejarah memiliki makna atau hanyalah merupakan serangkaian kejadian yang kebetulan. Beberapa tokoh dapat disebut dari Fontenelle, Abbe de St Pierre, Bossuet, Voltaire, Turgot, dan Condorcet.Parapeminat masalah-masalah penataan masyarakat menaruh perhatian pada masalah integrasi dan ketidaksamaan. Tokoh-tokohnya antara lain Montesquieu, Rosseau, De Bonald.

Dua tokoh filsuf sejarah yang mempengaruhi Comte adalah Turgot dan Condorcet. Turgot merumuskan dua hukum yang berkaitan dengan kemajuan. Yang pertama berisi dalil bahwa setiap langkah berarti percepatan. Yang kedua adalah hukum tiga tahap perkembangan intelektual: Pertama; Orang pertama menemukan sebab-sebab adanya gejala-gejala dijelaskan  dalam kegiatan makhluk-makhluk rohaniah. Kedua; Gejala-gejala dijelaskan dengan bantuan abstraksi dan pada tahap ketiga orang menggunakan Matematika dan eksperimen. Menurut Condorcet, studi sejarah memiliki dua tujuan, yakni pertama: adanya keyakinan bahwa sejarah dapat diramalkan asal saja hukum-hukumnya dapat diketahui (yang diperlukanNewtonadalah sejarah). Tujuan kedua adalah untuk menggantikan harapan masa depan yang ditentukan oleh Wahyu dengan harapan masa depan yang bersifat sekuler. Menurut Condorcet ada tiga tahap perkembangan manusia yaitu membongkar perbedaan antar negara, perkembangan persamaan negara, dan ketiga kemajuan manusia sesungguhnya. Dan Condorcet juga mengemukakan bahwa belajar sejarah itu dapat melalui pengalaman masa lalu, pengamatan pada kemajuan ilmu-ilmu pengetahuan peradaban manusia dan menganalisa kemajuan pemahaman manusia terhadap alamnya.

Dan penulis yang meminati masalah penataan masyarakat, Comte dipengaruhi oleh De Bonald, dimana ia mempunyai pandangan skeptis dalam memandang dampak yang ditimbulkan revolusi Perancis. Baginya revolusi ini hanya menghasilkan keadaan masyarakat yang anarkis dan individualis. De Bonald memakai pendekatan organis dalam melihat kesatuan masyarakat yang dipimpin oleh sekelompok orang yang diterangi semangat Gereja.

Pandangan Comte Tentang Masyarakat

Comte dan Positivisme

Karya Comte sangat dipengaruhi oleh keprihatinannya terhadap anarki yang merasuki masyarakat dan mencela pemikir Perancis yang menimbulkan Pencerahan dan Revolusi. Ia mengembangkan pandangan ilmiahnya, yakni “positivisme” atau “filsafat positif“. Kaum postivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.

Pendiri filsafat postivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah, orang harus mencari hubungan sebab-akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon juga merumuskan 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap Teologis, (periode Feodalisme), tahap Metafisis (periode Absolutisme dan tahap positif yang mendasari masyarakat indistri).

Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam buku “The Course of Positivie Philosoph” yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu terwujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala (diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat sejarah Condorcet).

Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode postif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini memiliki 4 ciri, yaitu :

  1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta.
  2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus-menerus dari syarat-syarat hidup.
  3. Metode ini berusaha ke arah kepastian.
  4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.

Metode postif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen, dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkembangan gagasan-gagasan.

Hukum Tiga Tahap Auguste Comte

Comte termasuk pemikir yang digolongkan dalam positivisme yang memegang teguh bahwa strategi pembaharuan termasuk dalam masyarakat itu dipercaya dapat dilakukan berdasarkan hukum alam. Masyarakat positivis percaya bahwa hukum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala sosial dapat digunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan sosial dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hukum-hukum itu.

Comte juga melihat bahwa masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang kenyataannya lebih dari sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. Dan untuk mengerti kenyataan ini harus dilakukan suatu metode penelitian empiris, yang dapat meyakinkan kita bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik.

Untuk itu Comte mengajukan tiga metode penelitian empiris yang biasa juga dilakukan oleh bidang-bidang fisika dan biologi, yaitu pengamatan, dimana dalam metode ini peneliti mengadakan suatu pengamatan fakta dan mencatatnya dan tentunya tidak semua fakta dicatat, hanya yang dianggap penting saja. Metode kedua yaitu Eksperimen, metode ini biasa dilakukan secara terlibat ataupun tidak dan metode ini memang sulit untuk dilakukan. Metode ketiga yaitu perbandingan, tentunya metode ini memperbandingkan suatu keadaan dengan keadaan lainnya.

Dengan menggunakan metode-metode diatas Comte berusaha merumuskan perkembangan masyarakat yang bersifat evolusioner menjadi tiga kelompok, yaitu pertama, Tahap Teologis merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia, dan dalam periode ini di bagi lagi ke dalam 3 sub periode yakni Fetitisme, yaitu bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitip, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri. Politheisme, muncul adanya anggapan bahwa kekuatan-kekuatan yang mengatur kehidupannya atau gejala alam. Monotheisme, yaitu kepercayaan kepada dewa mulai digantikan dengan yang tunggal, dan puncaknya ditunjukkan adanya khatolisisme.

Kedua, Tahap Metafisik merupakan tahap transisi antara tahap teologis ke tahap positif. Tahap ini ditandai oleh satu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dalam akal budi. Ketiga, Tahap Positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir, tetapi sekali lagi pengetahuan itu sifatnya sementara dan tidak mutlak, disini menunjukkan bahwa semangat positivisme yang selalu terbuka ecara terus menerus terhadap data baru yang terus mengalami pembaharuan dan menunjukkan dinamika yang tinggi. Analisa rasional menegnai data empiris akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum yang bersifat uniformitas.

Comte mengatakan bahwa di setiap tahapan tentunya akan selalu terjadi suatu konsesus yang mengarah pada keteraturan sosial, dimana dalam konsesus itu terjadi  suatu kesepakatan pandangan dan kepercayaan bersama, dengan kata lain suatu masyarakat dikatakan telah melampaui suatu tahap perkembangan diatas apabila seluruh anggotanya telah melakukan hal yang sama sesuai dengan kesepakatan yang ada, suatu kekuatan yang dominan yang menguasai masyarakat yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan konsesus demi tercapainya sustu keteraturan sosial.

Pada tahap teologis keluarag merupakan suatu satuan sosial yang dominan, dalam tahap metafisik kekuatan negara atau bangsa (yang memunculkan rasa nasionalisme/kebangsaan) menjadi suatu organisasi yang dominan. Dalam tahap positif muncul keteraturan sosial ditandai dengan munculnya masyarakat industri dimana yang dipentingkan disini adalah sisi kemanusiaan.

Agama Humanitas

Ada sebuah hal yang menarik dari gagasan Comte terhadap prospek agama dalam sebuah evolusi pemikiran manusia. Agama merupakan dasar untuk “konsesus universal” dalam masyarakat, dan juga mendorong identifikasi emosional individu dan meningkatkan altruisme. Tetapi kalau dilihat dari perspektif ilmiah (positif). Melihat sebuah problematika yang dihadapi, menuai sebuah tanda tanya yang cukup rumit, yaitu bagaimana keteraturan sosial itu dapat dipertahankan dalam masyarakat positif di masa yang akan datang, dengan satu dasar tradisi pokok mengenai keteraturan sosial yang digali oleh positivisme.

Dengan agak sederhana Comte mengemukakan gagasan untuk mengatasi masalah ini dalam tahap kedua karirnya, dengan mendirikan agama baru-agama humanitas-dan mengangkat dirinya sebagai imam agung. Hal tersebut reaksi dari sebuah aspek yang meliputi suatu analisa objektifnya mengenai sumber-sumber stabilitas dalam masyarakat ; fase kedua ini meliputi usaha meningkatnya keteraturan sosial dengan agama humanitas sebagai cita-cita normatifnya, ini merupakan pokok permasalahan utama dalam bukunya yang berjudul “System of Positive Politics”. Walau demikian ada banyak ahli yang mengkritik gagasannya ini. Salah satunya mengatakan bahwa Comte sudah gila ketika dia memulai karyanya ini. Mungkin karena disebabkan oleh perubahan sikap dalam emosi Comte yang dianggap sangat merugikan mutu karya intelektualnya. Dalam menggambarkan System of Positive Politics, Cooser menulis  “pada halaman-halamannya, Comte sekarang mengagungkan emosi lebig daripada intelek, perasaan melebihi akal budi ; terus menerus mengemukakan kekuasaan yang menyembuhkan dari kehangatan wanita untuk humanitas yang terlalu lama didominasi oleh kekerasan intelek pria. Di samping itu, Manuel dengan terang-terangan mempertentangkan kedua bukunya dengan mengatakan “antara Course dan System de Politique Positive, Comte keluar dari kesengsaraan yang mendalam ke suatu cinta yang mistik yang demikian menguasai sehingga murid-muridnya sendiri cemas dan orang luar mencemoohnya.

Agama humanitas Comte merupakan suatu gagasan utopis untuk mereorganisasi masyarakat secara sempurna. Sosiologi akan jadi ratu ilmu pengetahuan (seperti teologi di abad-abad pertengahan) ; hal ini memungkinkan suatu penjelasan tentang kemajuan pengetahuan manusia secara komprehensif dan mengenai hukum-hukum keteraturan dan kemajuan sosial. Gagasan Comte mengenai suatu masyarakat positivis dibawah bimbingan moralitas agama humanitas semakin terperinci. Ditandai dengan bentuk sebuah kalender baru yang disusun dengan hari-hari tertentu untuk menghormati ilmuwan-ilmuwan besar dan lain yang sudah berjasa dan bekerja demi kemanusiaan. Disamping itu akan ada ritus dan doa yang disusun untuk menyalurkan hasrat-hasrat individu dan memasukannya ke dalam the great being of humanity.Ada juga kultus terhadap kewanitaan dengan dirayakannya perasaan altruistik wanita. Comte sendiri sebagai imam agungnya berlutut di depan altarnya sendiri(sebuah kursi mewah) sambil memegang seikat rambut kepala Clothide de Vaux, dan dia mengusulkan supaya kuburnya merupakan tempat ziarah.

Apapun kekurangan dan ekses gagasan Comte yang terperinci itu mereorganisasi masyarakat dan mendirikan agama baru, masalah yang dia hadapi sungguh penting, baik menurut titik pandang intelektual maupun moral. Masalah inipun merupakan dilema bertahun-tahun lamanya antara akal budi lawan emosi, pemahaman intelektual lawan tanggung jawab moral, keteraturan lawan kemajuan. Walaupun banyak pertanyaan yang menyertainya , tidak mungkin kita dapat meninjaunya dari suatu perspektif ilmiah(positif) saja, masalah-masalah itu tentunya dapat dibicarakan menurut perspektif humanistik. Ahli ilmu sosial sekarang yang berpegang pada cita-cita suatu ilmu sosial yang bersifat objektif, analitis, didasarkan pada data empiris, ditunjuk dan diilhami oleh nilai-nilai moral humanistik, setia pada impian “bapak sosiologi” itu.

Kebudayaan Materiil Vs Non Materiil

Comte merasa bahwa perubahan dalam kebudayaan non materil merupakan kunci untuk memahami dinamika perubahan sosial. Sebagai alternatifnya adalah penekanan pada perubahan-perubahan dalam kebudayaan materil, seperti perkembangan teknologi atau industri sebagai aspek yang penting dalam perubahan sosial budaya. Hal ini dinyatakan dalam pandangan Ogburn bahwa kebiasaan-kebiasaan dan pola-pola normatif masyarakat tertinggal di belakang perubahan dalam bidang teknologi.

Tekanan pada tingkat budaya kenyataan sosial yang dirintis oleh Comte, tidak dapat bertahan begitu sosiologi berkembang. Sehingga kita dapat melihat bahwa masalah perubahan budaya pada akhirnya jauh lebih kompleks daripada model-model perubahan budaya yang ditawarkan oleh Comte atau ahli sosial lainnya.

Auguste Comte adalah manusia yang berjalan di tengah-tengah antara ideologi yang berkembang (progressive vs konservatif), berada pada ruang abu-abu(keilmiahan ilmu pengetahuan). Comte memberikan sumbangsih cukup besar untuk manusia walaupun, ilmu pengetahuan yang dibangun merupakan ide generatif dan ide produktifnya. Comte turut mengembangkan kebudayaan dan menuliskan bahwa : “ Sebagai anak kita menjadi seorang teolog , sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika dan sebagai manusia dewasa kita menjadi ahli ilmu alam”.

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Perkembangan Sosiologi | Teori Organisasi dan Manajemen
  2. Pengantar Sosiologi | Catatan Teori Organisasi dan Manajemen

Comments are closed.