Gareth B. Matthews: Anak-Anak Pun Berfilsafat

anak berfilsafat IMG
Child
Child IMG
Child

Jamak apabila orang dewasa pada umumnya tak setuju bahwa berfilsafat merupakan perilaku alamiah karena sudah berpersepsi bahwa filsafat = rumit. Namun Gareth B. Matthews, guru besar filsafat Universitas Massachusetts, AS, berpandangan lain. Menurutnya sejak kecil manusia telah berfilsafat. Bagi Matthews tugas pendidik adalah hanya memperkenalkan kembali aktivitas yang dulu pernah secara alamiah anak-anak nikmati, tetapi kemudian ditinggalkan karena masyarakat membiasakan mereka untuk meninggalkannya.

Pandangan Matthews tentu sejalan dengan apa yang ditemui orang tua pada umumnya yang kerap kali dibuat tercengang dengan cara pikir, pernyataan dan pertanyaan anak-anaknya yang polos tapi cerdas dan orisinil. Gareth B. Matthews membandingkan pemikiran, pertanyaan, dan penalaran anak-anak di satu sisi, dan apa yang ia temukan dalam karya-karya banyak filsof besar, di sisi lain. Diantara keduanya terdapat kesamaan-kesamaan yang signifikan.

Matthews mencontohkan kisah dari seorang ayah yang bercerita tentang putri kecilnya berusia empat tahun yang pernah tanpa sengaja mendengar sebuah percakapan antara dua orang dewasa. Salah seorang itu menegaskan bahwa manusia tidak dapat mengetahui apa-apa lagi. Seorang lainnya menimpali, “Hanya satu hal yang dapat manusia ketahui, yaitu kematian.”

Kemudian, si putri kecil tadi berkata kepada ayahnya, “Aku mengetahui sesuatu secara secara pasti.”

“Apakah itu?” Tanya sang ayah ingin tahu.

“Aku tahu bahwa aku hidup,” kata si putri.

“Jangan-jangan, kamu hanya berimajinasi bahwa kamu hidup?” sergah sang ayah.

Si anak berpikir. “Tidak. Aku dapat berpikir,” tegasnya. “Kita pasti mempunyai kekuatan untuk berpikir. Jika mati, kita tidak mempunyai kekuatan apa pun.”

Sang ayah mendapat kesamaan antara penalaran putrinya dan penalaran Descartes. Descartes berkata, “Aku berpikir maka aku ada.” Si putri berujar, “Aku berpikir (atau mungkin ‘Aku mempunyai kekuatan untuk berpikir’), maka aku hidup.”

Contoh lain adalah tentang kejengkelan seorang anak karena tiga anak dari teman orangtuanya yang berkunjung kerumah kemudian memindah saluran TV yang disukainya. Konsekwensinya ia tidak dapat menonton acara kesayangannya. Dengan sedih, dia bertanya kepada ibunya, “Mengapa tiga orang senang lebih baik daripada satu orang?”

Pertanyaan ini menyerupai pertanyaan yang diajukan oleh seorang filsof ternama, Elizabeth Anscombe dalam sebuah kuliah yang ia berikan di Universitas Oxford ketika dia mengkritik utilitarisme.

Tentu saja, tidak semua anak yang berusia empat tahun merenungkan pemikiran-pemikiran Descartes. Tidak pula harus melontarkan pertanyaan yang dapat dipakai dalam kuliah filsafat di Oxford. Namun senyatanya anak-anak jauh lebih mungkin mempunyai pemikiran-pemikiran yang menarik secara filosofis daripada kebanyakan orang dewasa. Jika kita dapat belajar mendengarkan anak-anak dan berpikir bersama mereka dengan memanfaatkan sejumlah pengetahuan mereka, kita semua akan kaya dengan pengetahuan.

Argumen Matthews dilain pihak membawa kita memandang anak-anak dengan cara baru. Kita orang dewasa perlu menyadari beratnya tanggung jawab yang kita pikul untuk membesarkan anak. Kita harus memberi mereka sandang, pangan, mendidik, dan mengantarkan mereka menjadi manusia yang baik. Jika kita adalah orang tua, guru, atau pekerja sosial, kita berkewajiban memberi mereka kesejahteraan yang lebih lengkap dan menyibak onak dan duri yang merintangi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Membesarkan mereka menjadi warga masyarakat yang produktif.

Masih banyak contoh yang bisa dicari untuk memperkuat argumen Matthews tentang filsof belia dan filsof ternama tetapi rasanya sudah ga penting lagi. Yang penting adalah seperti yang dikatakan Matthews, tugas pendidik adalah hanya memperkenalkan kembali aktivitas yang dulu pernah secara alamiah anak-anak nikmati. Sebab aktivitas berfilsafat sebenarnya sudah dimulai sejak usia sangat dini. Usia yang penuh keingintahuan yang tak terbendung. Berfilsafat merupakan perjalanan megenang kembali sebuah aktvitas yang pernah setiap orang nikmati pada masa anak-anak. Titik awal yang sederhana, tapi sangat penting bagi orang dewasa untuk menikmati kembali filsafat yang umumnya terkesan rumit dan tidak membumi.

Sumber: Gareth B. Matthews

 

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi