Alexis de Tocqueville (1803-1859) dan Demokrasi

Alexis De Torqueville IMG
Alexis De Torqueville

Apakah kesetaraan dalam berbagai kondisi yang ada sudah sesuai dengan praktik kebebasan? Pertanyaan sentral yang menjadi bahan pemikiran Alexis de Tocqueville (1803-1859) ini juga pertanyaan terhadap berbagai kemungkinan demokrasi.

Alexis de Tocqueville masih berusia duapuluh tahun ketika melakukan perjalanannya yang terkenal ke Amerika Serikat. Saat itu tahun 1831. Alexis de Tocqueville adalah seorang sosiolog, sejarahwan sekaligus ilmuwan politik, sekalipun posisi resminya seorang hakim di Perancis tahun 1826. Tocqueville meninggal 16 April 1859 karena penyakit TBC yang menyerangnya. Tocqueville meninggal dua tahun setelah meramalkan akan terjadi krisis karena Perang saudara dalam demokrasi Amerika.

Tocqueville adalah salah seorang pemikir penting abad 19, selain para pendiri sosiologi seperti Weber, Emile Durheim, maupun Marx. Tocqueville banyak berbicara soal demokrasi dalam konteks masyarakat Eropa maupun Amerika. Tocqueville sangat piawai mendeskripsikan bagaimana masyarakat Amerika berdemokrasi, demikian juga dengan di Perancis dimana tempat  Tocqueville bertugas.

Selanjutnya di Amerika ditulisnya buku ”Democracy in America”. Dia mulai menulis buku ini pada usia 26 tahun, dan dia menulis sebenarnya sebagai hakim yang mau meneliti tentang penjara di Amerika. Tapi menurut Bummon, Tocqueville memang sudah mempunyai rencana besar ketimbang sekadar meneliti tentang penjara. Dan kemudian lahirlah buku ”Democracy in America” yang kemudian menjadi masterpiece-nya. Setelah itu dia juga menulis tentang Revolusi Perancis.

Mengapa orang Amerika berdemokrasi? Karena Amerika memang membutuhkan hal ini sebagai sebuah negara yang luas dan berbatasan dengan negara-negara lain yang relatif tidak terlalu kuat. Namun Perancis lebih bersikap otoriter dan keras karena berdekatan dengan negara-negara yang sama-sama kuat seperti Spanyol, Italia dan Jerman. Amerika sudah tepat menerapkan demokrasi dalam bernegara. Sementara Perancis dengan kerajaan sehingga otoritas Perdana Mentri menjadi lebih kuat ketimbang Parlemen. Parlemen tidak demikian dominan sebagaimana di Amerika. Di Perancis otoritas PM sangat kuat.

Demokrasi Amerika adalah demokrasi liberal karena sudah kuat dan tidak banyak gangguan yang menghantam Amerika. Sebagai sebuah negara liberal maka Amerika menerapkan sistem federasi – desentralisasi dengan kuat untuk urusan pemerintahan dalam negaranya.

Amerika memiliki suatu kelebihan yaitu keamampuannya untuk bertahan karena menurut Tocqueville demokrasi disana dijalankan dari dalam melalui evolusi-evolusi yang bisa berganti-ganti, kadang tidak condong ke anarki dan kadang tidak condong ke despotisme. Karena adanya persaingan, maka individu tidak pernah memulai berkompetisi dengan peluang yang sebanding. Dengan demikian individu-individu tersebut memilih kesetaraan daripada kebebasan. Mereka juga merasa cukup dengan kekuasaan yang kuat, kecuali bila kekuasaan itu melarang salah satu atau beberapa diatara mereka untuk berkembang melebihi yang lain.

Dalam kasus masyarakat Amerika, adat-istiadat, agama, dewan juri rakyat dan para ahli hukum pada akhirnya sama dengan solusi imajiner dalam mencegah resiko dominasi kekuasaan atas individu. Inilah bukti demokrasi ternyata menuntut adanya seni khusus yaitu seni untuk mengatur efek samping yang ditimbulkannya.

Di Amerika muncul demokrasi pertama kali dalam pengertiannya yang modern. Ini mengejutkan semua pemikir besar yang lahir pada zaman itu. Termasuk Marx. Tetapi tidak satu pun yang datang dengan satu buku utuh tentang apa yang disebut demokrasi. Tocqueville datang dengan bukunya, dan ini merupakan sesuatu yang baru. Pemikirannya, pandangannya dan terutama metodenya dianggap baru. Kenapa demikian? Karena kalau kita lihat evolusi pemikiran tentang masyarakat, manusia dan negara, kelihatan bahwa perubahan ini selalu diawali dengan suatu pemikiran besar. Muncul teori-teori besar tentang masyarakat, ekonomi dan sebagainya. Tapi pada dasarnya teori-teori itu bersifat filosofis dan adalah teori moral. Pada abad 19, Tocqueville adalah puncak pemikiran sosial. Pada abad 17 dan 18, pemikiran sosial dan ekonomi ada tapi bersifat filosofis dan moral. Kalau toh mereka membahas apa yang disebut sebagai demokrasi, seperti Marx dan Hegel, biasanya mereka melihat itu hanya sebagai bagian dari suatu sistem besar. Ini ciri khas system builders. Sebelum Tocqueville ada yang sedikit unik, yakni Montesquieu. Tapi Montesquieu tidak secara khusus membahas tentang demokrasi.

Tocqueville, Demokrasi, dan Pemilu di Indonesia

Indonesia yang menerapkan sistem demokrasi dan desentralisasi dalam politik. Khusus mengenai Pemilu Indonesia mengikuti sistem pemilu langsung, bukan perwakilan untuk menentukan presiden, kepala daerah provinsi sampai kabupaten. Hal ini sama persis dengan di Amerika karena Indonesia belajar (berkiblat ke Amerika).

Pertanyaannya, tepatkah Indonesia berkiblat ke Amerika dalam hal penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada? Sebagai sebuah negara yang mendapatkan banyak ancaman dari negara-negara di Asia Tenggara dan Asia? Bagaimana nasib demokrasi kita yang cenderung liberal dalam penyelenggaraan Pemilu dan Pemilukada di masa sekarang dan mendatang?

Berdemokrasi adalah persamaan dan kesetaraan demikian kata Tocqueville, tetapi sudahkah persamaan dan kesetaraan dijadikan asas dalam demokrasi kita? Mengapa demokrasi kita cenderung anarki dan kurang menjaga asas tranparan dan kesetaraan yang sebenarnya? Itulah beberapa pertanyaan yang penting untuk dijadikan refleksi dalam kaitannya demokrasi di Indonesia dan proses-proses politik nasional. Alexis de Torqueville (1803-1859) telah menjadi rujukan penting kemungkinan demokrasi termasuk untuk Indonesia.

Share it...

Facebooktwittergoogle_plusredditlinkedintumblr
About Ferry Roen 244 Articles
Tertarik membahas teori dan perilaku organisasi

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*