No Picture

Herbert Spencer: Masyarakat sebagai Makhluk Hidup Organisme

August 30, 2011 Ferry Roen 0

Thomas Spencer, Herbert muda bekerja sebagai kepala teknisi untuk jalan kereta api antara Londondan Birmingham. Ia adalah seorang teknisi yang hebat daam decade selanjutnya dan hal tersebut mewarnai hidupnya dalam masyarakat semasa hidupnya. Ketika ia masih mengerjakan jalan kereta tersebut, ia menulis essay pertamanya , On the proper Sphere of Government pada tahun 1822. Di usianya yang ke 28, Spencer menjadi subeditor untuk mingguan London “The Economist “. Ia menulis editorial mengenai oposisinya terhadap pemerintahan dan mendukung perdangangan bebas di London pada saat itu. Kemudian ia menerbitkan buku pertamanya Social Statics (1892 yang pertama diterbitkan pada tahun 1850) . Tiga tahun kemudian, pamannya, Thomas Spencer meninggal dunia dan mewariskan hartanya untuk Herbert. Seorang pamannyapun juga mewariskan harta untuknya. Warisan inilah yang mendukungnya dalam sejumlah publikasinya (Kennedy, 1978:11-22)

No Picture

Karl Marx: Pertentangan Kelas Dan Struktur Ekonomi

August 30, 2011 Ferry Roen 8

Karl Heindrich Marx dilahirkan tanggal 5 Mei 1818 d kota Trier atau biasanya disebut Traves, suatu daerah yang berada dalam kawasan Rheiland Jerman (Pruja). Kedua orang tuanya adalah keturunan pendeta-pendeta Yahudi. Ayahnya tergolong masyarakat menegah dan menjadi pengacara ternama di Traves. Sedang ibunya adalah putri seorang pendeta Belanda, juga berbangsa Yahudi.

No Picture

Talcott Parsons: Teori Struktur Fungsional

August 30, 2011 Ferry Roen 0

Talcott Parson lahir di Spring, Colorado pada tanggal 13 Desember 1902 dan meninggal di Munchen, Bayern pada tanggal 18 Mei 1979. Ayahnya bernama Edward Smith Parson dan ibunya bernama Marry Augusta Parson. Ayahnya seorang pendeta, professor dan kemudian menjadi rektor sebuah perguruan tinggi kecil. Parson mendapatkan gelar sarjana muda dari Universitas Amherst tahun 1924 dan menyiapkan disertasinya di London School of Economics. Disamping itu ia dilengkapi oleh teori fungsional antropologi dari Bronislaw- Malinosky. Di tahun berikutnya ia pindah ke Universitas Heidelberg Jerman. Parson sangat dipengaruhi karya Weber dan akhirnya menulis disertasi diHeidelberg, yang sebagian menjelaskan karya Weber. Parson mengajar di Harvard pada tahun 1927-1979. Kemajuan karirnya tidak begitu cepat, ia tidak mendapatkan jabatan professor hingga tahun 1939. Dua tahun selanjutnya ia menerbitkan The Structure Of Social Action, sebuah buku yang tak hanya memperkenalkan pemikiran sosiologi utama seperti Weber kepada sejumlah sosiolog, tetapi juga meletakkan landasan bagi teori yang dikembangkan Parson sendiri.

No Picture

Auguste Comte: Kemajuan Budaya

August 30, 2011 Ferry Roen 2

Banyak tokoh-tokoh sosiologi yang ada dan yang telah mengutarakan pokok-pokok pemikirannya, tetapi untuk kali ini penulis akan memaparkan salah satu tokoh atau filsuf dari Perancis yang telah meletakan dasar dari bidang Ilmu Pengetahuan, yaitu Auguste Comte. Sebagaimana yang diungkapkan oleh tokoh sejarah ilmu dari Amerika Serikat, George Sarton, peletak dasar bidang pengetahuan itu adalah filsuf Perancis Auguste Comte yang menulis buku berjudul “Cours de Philosophie Positive” (1830-1842).

No Picture

Ralf Dahrendorf: Teori Konflik

August 30, 2011 Ferry Roen 0

Teori konflik muncul sebagai reaksi atas teori fungsionalisme struktural yang kurang memperhatikan fenomena konflik dalam masyarakat. Teori Konflik adalah suatu perspektif yang memandang masyarakat sebagai sistem sosial yang terdiri atas kepentingan-kepentingan yang berbeda-beda dimana ada suatu usaha untuk menaklukkan komponen yang lain guna memenuhi kepentingan lainnya atau memproleh kepentingan sebesar-besarnya.

No Picture

Emile Durkheim: Pendiri Sosiologi Integrasi Sosial

August 30, 2011 Ferry Roen 6

David Emile Durkheim lahir pada tanggal 15 April 1858 di Epinal, ibukota Vosges, Lorraine, Perancis Timur. Ia berasal dari keluarga Rabi (di mana ayah, kakek dan buyutnya) adalah rabi, Imam Agama Yahudi, yang bekerja di Perancis sejak tahun 1784. sebetulnya, jika mengikuti kebiasaan tradisional, Emile Durkheim dididik untuk menjadi seorang rabi Yahudi. Pada usia 10 tahun, ia menolak untuk menjadi rabi, dan karena sebuah pengalaman mistik maka ia beralih keyakinan menganut agama Khatolik. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, karena Emile Durkheim kemudian menganut agnostisisme (bersikap apatis terhadap agama).